Ceritaku Tentang Orang dengan Gangguan Jiwa

image
Sumber gambar reportaseterkini.com, edited by Julia

Di Paiton tempat kami tinggal sekarang, ada banyak orang dengan gangguan jiwa (selanjutnya disingkat ODGJ) buangan yang terus bertambah. Saya bilang buangan karena memang tidak ada yang tahu kapan datangnya, asal usulnya, dimana rumahnya, dan lainnya, tahu-tahu sudah nongol begitu saja di Paiton.
-selengkapnya->

Isi Tas Emak Rempong: All About The Baby Needs!

image
Tas yang sekarang sering dibawa bepergian dengan si kecil

Semenjak jadi Emak dan memiliki seorang anak, saya seakan menjadi seorang manajer artis dari seorang bayi. (Ngayalnya tinggi amat yak? Hihi).
Gimana enggak, soalnya everything about my baby berpusat pada saya.( Ya iyalah, lha wong situ Emaknya, masak mintanya ke tetangga? Minta dijitak nih orang!)
-selengkapnya->

Belanja Online, Siapa Takut?

Belanja Online, Siapa Takut?
image
Macam-macam online shop.(Sumber gambar: dok. Pribadi)

Di era internetisasi seperti sekarang ini, belanja online bukanlah sesuatu yang menakutkan lagi untuk dilakukan. Bila dulu orang masih ragu untuk belanja online karena khawatir akan keamanannya, sekarang hal ini tidak perlu dirisaukan lagi mengingat berbagai proteksi yang sudah disediakan di beberapa online shop demi menjamin keamanan transaksi para pembelinya. Apalagi sebagian besar offline shop sekarang sudah memiliki situs pembelian online sebagai salah satu teknik pemasarannya, sehingga membuat para pembeli lebih yakin bahwa online shop tersebut bukanlah toko fiktif.
Selain itu, menjamurnya online shop dengan berbagai pilihannya juga membuat para pembeli lebih tertarik untuk membeli online ketimbang offline. Anda butuh sesuatu, tinggal search barang yang dicari maka akan langsung keluar puluhan, ratusan, bahkan ribuan barang serupa yang dijual online. Sebut saja barang elektronik, perlengkapan rumah tangga, mainan anak, jasa guru, jasa ART, atau toko online yang menyediakan aneka kategori seperti otomotif, fashion, perawatan tubuh jadi satu, bahkan ada toko online yang menjual aneka bahan mentah fresh beserta bumbunya yang siap dimasak. Bayangkan, hal yang sedetil itu pun ada di online shop!
Menurut saya, terkadang belanja online memang lebih seru dan menguntungkan daripada belanja langsung ke toko, apalagi bagi emak-emak pengiritan seperti saya, haha. Masih belum percaya juga? Yuk kita bandingkan!
1. Harga lebih murah

image
Online shop sering memberingan potongan harga. (Sumber gambar murah grosir)

Karena keberadaannya yang terus meningkat, beberapa online shop sering mengadakan promo menarik demi menyenangkan para pembelinya. Misalnya potongan belanja pada hari-hari tertentu, potongan harga tiap tanggal muda, atau bisa juga potongan harga sebagai new member. Potongan yang diberikan kadang bahkan up to 90%!
Apalagi dalam rangka harbolnas yang jatuh pada tanggal 12 desember nanti, semua online shop berlomba-lomba memberikan potongan sebesar-besarnya kepada para pembeli. Itulah mengapa harga barang di online shop sering lebih murah dibandingkan beli ke tokonya langsung. Jangan lupa membaca syarat dan ketentuan yang berlaku pada barang diskon sehingga tidak menyesal nantinya. Nah, untuk pengalaman belanja murah ini, saya pernah membeli rice cooker di salah satu online shop seharga 349.000 sementara di toko-toko offline harganya masih 460.000!Postingan lengkapnya bisa dibaca disini.
2. Bebas 3P (Panas, Penat, Pegal)
Kecuali capek jempol dan mata karena harus berlama-lama mantengin smartphone, belanja online memang menghindarkan kita dari 3P. 😀
Bagaimana tidak, rice cooker yang saya beli di atas bila membeli di toko offline, saya harus membelinya di Probolinggo kurang lebih selama 1 jam bersepeda motor. Kebayang kan ribetnya bila saya harus membelinya ke Probolinggo dengan bersepeda motor, apalagi harus menggendong si bocil. Beruntung sudah ada online shop, karena saya hanya perlu menunggu beberapa menit, barang siap dikirim oleh kurir.
3. No angkut mengangkut

image
Kalau belanja online tak kan seperti ini. (Sumber gambar: rpm super)

Meski ada beberapa toko offline yang menyediakan jasa antar barang ke rumah, beberapa yang lainnya tidak memiliki jasa pengiriman ini. Nah, bila kita berbelanja di online shop, semua belanjaan kita akan langsung diantar ke tempat tujuan kita, meskipun barang yang kita beli Cuma sebuah sikat gigi. Bahkan ada beberapa online shop yang memberikan jaminan free ongkir.
4. Tak perlu repot membawa uang receh dan mendapat kembalian permen

image
Beginilah jadinya bila banyak bawa uang di tas. (Sumber gambar: farecompare)

Saya pernah membeli mesin cuci di offline shop yang tidak menyediakan debit di tokonya. Harga mesin cucinya kurang lebih 1,5 jutaan. Karenanya, saya harus mengambil uang di ATM dan membawa uang tunai ke toko tersebut. Sungguh tidak mengenakkan, saya harus membawa uang sebanyak itu di dalam tas, belum lagi resikonya bila ada orang jahat yang tahu, akan dengan mudah mereka merampok tas saya. (Semoga tidak pernah terjadi, Aamiin). Nah, bila kita belanja di online shop, hampir semua transaksi keuangan dilakukan melalui transfer antar bank, kecuali kita sepakat untuk bayar di tempat. Bahkan, sekarang sudah tersedia jasa transfer uang antar bank secara online. Jadi, belanja sebanyak apapun bisa kita dilakukan di rumah sembari melakukan banyak hal lainnya. Selain itu, kita bisa selalu membayar barang yang kita beli meski harganya sebesar 109.999 ribu tanpa harus menunggu kembalian permen, asal harga di atas minimum transaksi transfer uang antar bank.
5. Banyak pilihan dan bebas membandingkan harga
Saya termasuk tipe orang yang bila sudah pulang membawa barang dengan harga tertentu, namun ternyata tahu bahwa ada toko lain yang menyediakan harga produk lebih murah, maka berhari-hari bahkan berminggu setelahnya saya akan terus memikirkannya. Haha 🙂 . Oleh karena itu, agar tidak menyesal nantinya, biasanya saya akan melakukan survey harga terlebih dahulu di beberapa toko tertentu sebelum menjatuhkan pilihan akan membeli barang di toko yang mana. Sayangnya, bila hal ini dilakukan di offline shop, kadang dibalas dengan muka masam bila datang hanya untuk menanyakan harga, selain itu,kita harus menyiapkan kaki yang kuat untuk melakukan survei harga ini. Bila melalui online shop, kita cukup mencari nama barang yang dibutuhkan, lalu akan muncul banyak barang serupa dengan harga yang berbeda dari online shop yang ada, semudah itulah survey harga berlangsung. Selain itu, kita juga bisa melihat-lihat pilihan yang ada di berbagai online shop langsung tanpa menunggu penjaga toko mengambil pilihan produk yang kita mau.

Itulah beberapa alasan mengapa saya terkadang lebih memilih belanja online daripada membeli langsung di toko offline, seperti ketika membeli rice cooker, oven, satu set pisau, noodle maker, mixer, kaos buat suami, jaket buat suami, jilbab, beberapa gamis, dan lainnya. Alhamdulillah selama saya belanja online, belum pernah ditipu oleh penjualnya. Biasanya, sebelum memutuskan untuk membeli, saya akan melihat review dari pembeli-pembeli sebelumnya, selain itu juga dengan melihat sistem pembayaran dari online shop tersebut terpecaya atau tidak (terutama untuk online shop yang merupakan kumpulan dari beberapa penjual). Makanya saya hanya belanja online di online shop yang memang benar-benar terpercaya sekaligus sudah pernah belanja di online shop tersebut sebelumnya, tentunya hasil sebelumnya tidak mengecewakan, terutama untuk jilbab dan gamis.
Salah satu online shop yang menyediakan aneka jilbab, gamis dan aksesorisnya adalah hijup.com. di sana tersedia beberapa produk dengan brand ternama seperti mae by gerai yusuf, Dian Pelangi, kayara by Maia Estianty, ristyland by Risti Tagor, dan masih banyak lagi lainnya. Di bawah ini beberapa koleksi hijup.com:

image
Anatawu abaya long coat L’Mira etnhique (sumber gambar: hijup.com)
image
Long cardy set kamila. (Sumber gambar: hijup.com)
image
Long vest dress set kamila. (Sumber gambar: hijup.com)

Gimana? Pada mupeng semua kan? 😄 Cara belanjanya juga mudah sekali lho,  Berikut cara belanja di hijup.com :

image
Cara belanja di Hijup.com. (Sumber gambar: HijupBlog)

1. Register atau login
Untuk memudahkan dalam belanja di hijup.com, jangan lupa resistrasi new account terlebih dahulu. Bila sudah register, langsung saja log in. Hal ini akan memudahkan hijup.com mengingat data-data yang dibutuhkan ketika kita belanja nanti. Caranya tinggal klik tombol register atau sign in pada layar.
2. Pembelian barang
Pilih barang yang diinginkan di hijup.com, pastikan warna, ukuran dan jumlah barang yang diinginkan sesuai dengan data yang diberikan. Lalu klik tombol buy untuk memasukkan barang ke dalam shopping chart. Setelah puas belanja, klik checkout untuk melanjutkan proses berikutnya.
3. Pembayaran & konfirmasi
Akan ada pemberitahuan via email mengenai jumlah tagihan dan rekening tujuan. Pastikan tidak salah mentransfer jumlah tagihan dan memasukkan nomor rekening ya. Lakukan konfirmasi pembayaran bila transaksi pembayaran telah selesai dilakukan, cukup klik tombol payment confirm.
4. Barang dikirim ke alamat anda
Setelah semua tahapan di atas selesai, kita tinggal duduk manis di rumah sambil menunggu kurir hijup.com mengantarkan pesanan.
Jangan khawatir, bila terdapat cacat produksi pada produk atau tidak sesuai dengan yang kita pesan, tinggal kirimkan kembali produk tersebut ke hijup.com dengan melampirkan tanda terima dari kurir.

Nah, ternyata belanja online itu mudah banget kan, tinggal klik sana klik situ. Jadi, masih ragu untuk belanja online?

“Tulisan ini disertakan untuk giveaway #FAMILYTALK Annisa Steviani dan Istiana Sutanti bersama Hijup.comimage

Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih Anak Sepanjang Galah 

Sebenarnya nama aslinya adalah Setia, namun entah mengapa orang-orang kebanyakan memanggilnya Sutia. Kemudian pada suatu ketika Emak akhirnya menuliskan Sutia untuk nama di KTP nya, karena Beliau beranggapan bahwa kebanyakan orang yang memiliki huruf ‘u’ di dalam namanya adalah orang-orang sukses, seperti nabi Muhammad SAW, Susilo Bambang Yudhoyono, Muhammad Ali, dan banyak lagi lainnya menurut Beliau. 

Sesederhana itulah saya melihat Emak, yang siapa sangka dari sosok sederhana inilah kelak lahir cinta yang begitu luar biasa bagi kami anak-anaknya.

Emak lahir di desa Pejem, kecamatan Belinyu, kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kira-kira setengah abad silam. Beliau lahir di desa yang jauh sekali dari peradaban dan teknologi. Bahkan dulu waktu hendak berangkat ke sekolah, Emak harus menempuh perjalanan terjal dan panjang berjam-jam lamanya dengan berjalan kaki. Sayangnya, karena terkendala biaya, Emak pun harus berhenti sekolah dan membantu nenek berkebun di ladang, begitu Ia selalu bercerita tentang masa kecilnya pada kami agar senantiasa semangat dalam menuntut ilmu.

Waktu berlalu, Emak pun menikah dengan Ayah. Tak lama setelah menikah, Emak hijrah ke beberapa kampung lain sampai akhirnya menetap di ibukota provinsi, Pangkalpinang. Disinilah kemudian semua perjuangan bermula. Meski Emak dan Ayah tidak lulus SD, kedua orang tua kami selalu mewanti-wanti kami untuk belajar dengan tekun agar kelak bisa menjadi orang sukses. Karenanya, dengan penuh semangat mereka terus berusaha menyekolahkan kami setinggi mungkin untuk bekal kami kelak di masa depan.

Sebagai seorang dari kampung terpencil dan tidak sekolah,  Ayah hanya bisa bekerja serabutan, mulai dari bekerja sebagai penyapu jalan, kuli pasir, hingga akhirnya ayah menetapkan pekerjaan sebagai nelayan. Menyadari bahwa pendapatan Ayah sebagai buruh harian sepertinya tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan kami, Emak pun akhirnya memutuskan untuk berjualan sayur keliling menggunakan sepeda. Saya yang waktu itu masih berusia sekitar lima tahunan, dititipkan di rumah Bibi, adiknya Ayah atau kadang-kadang di rumah nenek. Pulang berjualan barulah Emak menjemput saya.

Seperti ibu ini, dulu Emak juga mengayuh sepeda untuk menjajakan dagangannya kepada para pembeli. (Sumber gambar:
Seperti ibu ini, dulu Emak juga mengayuh sepeda setiap hari untuk menjajakan dagangannya kepada para pembeli. (Sumber gambar: Jhon-404)

Pada mula  berjualan, Emak belum lagi mendapat pelanggan, karenanya Emak harus mengayuh sepedanya hingga ke kampung-kampung yang jauh dari kota, yang bila ditempuh dengan motor harus berjam-jam lamanya. Belum lagi pada masa itu, jalan-jalan kampung belum lah semulus sekarang, melainkan penuh terjal dan bebatuan. Namun, Emak tetap menjalani semuanya dengan ikhlas dan semangat, tak pernah Beliau menyuruh kami untuk berhenti sekolah kemudian membantunya bekerja.

Pagi-pagi sebelum subuh Emak sudah bangun untuk menyiapkan sarapan untuk kami sebelum berangkat sekolah. Kemudian setelah subuh, Beliau pun berangkat ke pasar mengambil barang dagangan dijual keliling kampung. Emak baru pulang kembali ke rumah sekitar pukul 1 siang. Sampai di rumah, setelah memebereskan semua barang dagangannya, Emak masih menyempatkan memasak makan siang untuk kami sekeluarga. Aktivitas ini berlangsung lama sekali hingga akhirnya saya pun masuk SMP dan Alhamdulillah Emak bisa berjualan keliling dengan sepeda motor. Meski hanya sepeda motor bekas, namun saya bisa mengingat sepertinya Emak dibuat lebih mudah dalam berjualan.

Setelah berjualan beberapa lama, Emak akhirnya bisa membeli sepeda motor bekas untuk memudahkannya berjualan. (Sumber:)
Setelah berjualan beberapa lama, Emak akhirnya bisa membeli sepeda motor bekas untuk memudahkannya berjualan. (Sumber gambar: Tribunnews)

“Sa.. yur, sa.. yur, sayur dak say?”¹Begitu biasanya Emak menawarkan dagangan ke para tetangga bila sudah mencapai seputaran kampung tempat kami tinggal. Aktivitas berjualan sayur keliling ini terus berlangsung hingga saya masuk SMA dan akhirnya di pertengahan saya sekolah  SMA, Emak memutuskan untuk membuka toko kelontong di depan rumah. Hal ini karena Emak melihat satu-satunya toko kelontong yang ada di kampung sepertinya tidak terlalu semangat dalam berjualan. Beliau pun meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik toko ketika hendak membuka toko kelontong.

Akhirnya Emak bisa membuka toko kelontong dan berhenti menjadi penjual sayur keliling. (Sumber:)
Akhirnya Emak bisa membuka toko kelontong dan berhenti menjadi penjual sayur keliling. (Sumber gambar:bisnis ukm)

Hingga saya lulus SMA Emak masih berjualan di toko kelontong. Kali ini toko kelontongnya sudah lebih maju dan besar dari yang dulu, barang-barang jualannya lebih lengkap, mulai dari bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih, cabe merah, cabe putih, aneka cemilan, minuman, kebutuhan rumah tangga, buku tulis, hingga lampu pun ada. Bahkan bangunan toko dibangun khusus di pinggir jalan untuk memudahkan pembeli yang ingin membeli sesuatu di toko Emak.

Begitulah sekelumit perjuangan Emak dalam membesarkan kami anak-anaknya. Saya ingat betul segala sesuatu yang Emak lakukan adalah untuk kami anak-anaknya. Bahkan meski mungkin memiliki uang untuk membeli baju baru, Emak tidakalah membelinya kecuali untuk kami anak-anaknya. Bukan hanya satu baju atau celana Emak yang ditempel-tempel dengan kain perca agar bisa digunakan kembali. Bahkan hingga kini ketika anaknya sudah menikah dan memiliki kehidupan masing-masing, Emak masih tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Berapa kali saya selalu mengajaknya untuk tinggal bersama saya dan keluarga Beliau tetap memilih sibuk di toko kelontongnya. Bahkan untuk meminta nomor rekening Emak sehingga saya bisa memberikan sedikit rezeki kepadanya, harus saya lakukan dengan mengambilnya diam-diam di selipan baju di lemari kamarnya. Pernah suatu ketika saya memberikan sejumlah uang kepada Emak, langsung ditolak oleh Emak, jika saja bukan karena saya memaksa Emak untuk menerimanya.

Emak
Emak dan kedua cucunya. 

Benarlah jika ada peribahasa yang mengatakan bahwa kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah, karena seberapa banyak pun kebaikan yang kami lakukan untuk membalas semua kebaikan kedua orang tua kami terutama Emak, tidak akan cukup sampai kapanpun. Hanyalah do’a yang senantiasa kami panjatkan semoga Allah senantiasa menjaga mereka di manapun mereka berada. Terima kasih Emak, semoga Allah membalas semua kebaikanmu dengan jannahNya, Aamiin.

“Tulisan ini diikutsertakan pada Monilando’s Giveaway : Spread The Good Story”

Gather+aroundthe+table+%281%29

¹ “Sa.. yur, sa.. yur, sayur nggak say?”
Say adalah panggilan Emak kepada pelanggannya seperti jeng, sis, dst.

Alhamdulillah Aku Bisa Ummi!

Ini ceritaku tentang putra pertama kami, Uwais Alharits yang lahir 25 Juli 2014 yang lalu. Sekarang usianya sudah 4 bulan 8 hari. Anaknya sudah semakin cerdas, sudah lihai tengkurap dan aktif sekali mengoceh.
Terharu sekali bila ingat perjuangan Uwais untuk tengkurap.
Awalnya,di usianya ketiga bulan, Uwais baru aktif-aktifnya belajar tengkurap, mulanya miring kanan – miring kiri. Kadang-kadang berusaha membalikkan badannya, namun belum bisa.
image
Bahkan saat tidur pun Uwais miring kanan. Ini saat usianya 3 bulanan.

Continue reading “Alhamdulillah Aku Bisa Ummi!”