Tape Panggang Keju Kismis, Murah, Mudah, Yummi!

image

Tape Panggang Keju Kismis by Chef Julia.

Karena beberapa bulan yang lalu saya dan suami sempat terpisah (ceile), alhasil saya pun jarang masak untuk suami tercinta. Hehe.
Nah, untuk mengganti rasa bersalah saya, maka saya pun mendadak dangdut maksudnya mendadak rajin masak. Hihi.
Kemaren waktu bikin prol tape, ternyata masih banyak sisa tape di kulkas, secara saya beli tapenya 1 kg. Duh.
Akhirnya suami pun mencetuskan ide, “dibakar aja.” Kayak makanan di Jawa Barat. Lupa tapi apa namanya.
Dengan beberapa persediaan sisa prol tape kemaren, akhirnya saya pun ekseskusi. Dijamin mudah, murah dan yummi. 😁

                Tape Panggang Keju Kismis

Bahan:
Tape singkong
Mentega
Keju
Kismis

Cara Membuat:
Tata tape singkong utuh di atas loyang, susun kismis di atas tape. Jangan lupa, sebelumnya loyang diolesi mentega dulu ya, biar nggak lengket. Olesi tape dengan mentega. Panggang kurang lebih selama 20 menit dengan api atas dan bawah atau sampai tape kelihatan kecoklatan, tapi jangan sampai gosong ya. Setelah matang, taburi dengan keju parut. Untuk hasil yang lebih enak, sajikan dengan taburan misis coklat atau susu coklat. Hmm, yummi bingitss! Aroma tapenya menyebar ke seantero rumah. O ya, kismisnya bisa diganti dengan yang lain ya, bisa kurma, chocohips atau yang lainnya. Kalau belum punya oven, bisa panggang di teflon di atas kompor. 😂

image

Jadi deh, tape panggang keju kismis.

Gimana? Mudah kan? Rasanya enak bingits, hehe. Apalagi karena tape bondowoso ini rasanya memang manis, yang paling nikmat itu yang bagian kecoklatan itu, ada sensasi tersendiri. Hehe.
Udah, daripada ngiler, mendingan bikin yuk! 😆

Iklan

Prol Tape Cara Lezat Menikmati Tape

image

    Prol Tape Kismis Keju ala Chef Julia

Jadi ceritanya mas suami baru saja membelikan oven di rumah. Maka saya pun keranjingan bikin kue yang menggunakan oven, hehe. Kemaren-kemaren saya membuat roti unyil, resep menyusul ya. 🙂
Hari ini, saya jadi kepingin bikin prol tape. Btw, adakah yang belum tahu apa itu prol tape? Eh sebelumnya, for your information, daerah saya tinggal dekat sama Bondowoso yang oleh-oleh khasnya tape. Jadilah di dekat rumah lumayan banyak penjual  “Tape Manis Bondowoso”. Tadi ketika mau membuat prol tape ini, saya beli tape nya sekilo harganya 8000 rupiah. Gimana? Murah kan? 😁
Oke, back to the topic, prol tape adalah sejenis kue yang bahan utamanya adalah tape. Semacam bolu tape gitu ya gampangannya. Forgive me if I’m wrong. 🙈
Rasanya manis legit trus ada aroma terapinya, eh aroma wangi tape maksudnya. Haha.
Pembukaannya panjang ya, langsung cuss yuuk. 😁
Enjoy baking!!😄

                Prol Tape Kismis Keju

image

           
              Bahan yang diperlukan.

Bahan yang diperlukan:
1. 300 gram tape singkong, haluskan
2. 3 butir telur & 1 kuning telur untuk olesan
3. 70 gram terigu
4. 50 gram margarin, lelehkan
5. 100 ml susu cair
6. 75 gram gula pasir
7. 1/2 sdt garam
8. Keju parut untuk taburan
9. Kismis untuk taburan dan isian

Cara membuat:
1. Campurkan tape singkong, gula pasir, dan garam sampai gula larut.
2. Masukkan telur, aduk rata.
3.Tambahkan tepung terigu, aduk rata.
4. Masukkan susu dan margarin leleh, aduk rata.
5. Campurkan kismis bersama adonan, aduk merata. Taburkan kismis di bagian atas adonan.
6. Tuang di loyang brownies yang sudah diolesi mentega dan ditaburi tepung biar tidak lengket. (Ini cara saya, sebagian pakai kertas roti).

image

Adonan siap dimasukkan ke dalam oven.

7. Panggang dalam oven (yg sebelumnya sudah dipanaskan) dengan suhu 160°C selama sekitar 15menit atau sampai permukaan atasnya agak kering (jangan sampai matang).

image

Permukaan atas sudah kering, lalu oleskan kuning telur dan taburi keju.

8. Olesi permukaan atasnya dengan kuning telur. Taburi keju parut.

image

Siap untuk dipanggang ronde kedua.

9. Panggang lagi selama sekitar 20 menit sampai matang.
10. Tunggu agak dingin baru dipotong karena saat panas bagian dalamnya masih tampak agak ‘basah’ jd agak sulit dipotong.

image

           Prol tape siap disantap.

Pesan dan kesan:
Karena baru memakai oven, saya awalnya cuma pake api atas (bener nggak ya istilahnya). Jadinya, yang atas udah hampir gosong, yang dalem masih basah kayak masih mentah. Barulah kemudian saya panggang lagi dengan api bawah dan Alhamdulillah matang sempurna. 😂
Yeay!
Jadi kalo yang mau nyoba resep ini, jangan lupa perhatikan tingkat kematangannya ya, (ceilah bahasanya) haha.
Eit, satu lagi, karena masih chef amatiran, jadi ini bukan resep asli dari saya ya, resepnya nyomot dari sini.
Hasilnya gimana? Yummy. *nom-nom*
Jadi, mau makan tape dengan cara lezat? Ya prol tape jawabannya. Nggak percaya? Bikin aja! :mrgreen:

Hours, Karena Setiap Detik Begitu Berharga

220px-Hours2013Poster

Hours, sumber gambar Wikipedia.

Film Hours adalah film terakhir yang diperankan oleh seorang aktor terkenal dari film Fast and Furious, Paul Walker sebelum kematiannya. Film ini juga merupakan film terakhir yang saya tonton dari laptop pemberian Ibu saya, yang rusak beberapa hari setelah saya menonton film ini dan berkelanjutan hingga hampir setahun setelahnya. Saya mendapatkannya dari suami yang juga mengcopy dari teman kerjanya yang hobi nonton. (Ketahuan nggak modal ya, haha ).

Film ini saya tonton akhir 2014 lalu, ketika masih anget-angetnya menjadi seorang ibu. Berjuang membesarkan seorang bayi bersama suami di saat baby blues melanda, tanpa bantuan langsung dari sang ahli (baca: orang tua) dan hanya bermodalkan insting dan internet, membuat film ini menjadi hiburan yang cukup melegakan hati.

Secara keseluruhan, film ini bercerita tentang perjuangan seorang new father Nolan Hayes (Paul Walker) yang berusaha menyelamatkan bayinya.

Kisahnya bermula ketika Hayes mengantarkan istrinya ke rumah sakit karena akan melahirkan anak pertamanya. Betapa sedihnya ia tak lama kemudian dokter mengabarkan bahwa istrinya meninggal saat melahirkan anaknya. Malang tak dapat dielak, anak yang baru saja dilahirkan istrinya juga tidak dalam keadaan baik-baik saja. Bayinya harus diletakkan dalam inkubator sekitar 48 jam sebelum bayinya mulai menangis yang berarti menandakan kondisi kesehatannya yang telah pulih. Tak lama setelah berita kematian istrinya, kota New Orleans kediaman Hayes diserang badai katrina yang begitu dahsyat.

Karena badai terus melanda dan banjir serta kerusakan terjadi di mana-mana, maka semua orang mengungsi mencari tempat yang aman. Begitu pula orang-orang di rumah sakit tak terkecuali para dokter dan tenaga medis dimana anak Hayes dirawat. Sayangnya, sang bayi tidak bisa dipindahkan demi alasan keselamatannya. Di sini mulai terjadi konflik batin dalam diri Hayes. Di satu sisi ia baru saja bersedih karena kehilangan istrinya, di sisi lain ia harus menyelamatkan bayi yang baru saja dikenalnya itu seorang diri. Pada bagian ini saya langsung merasa tertohok sekali. Siapalah saya yang terus mengeluh karena masih baru belajar membesarkan bayi saat itu dibandingkan seorang Nolan Hayes yang harus menyelamatkan anaknya hanya seorang diri. Sementara, ada banyak orang yang sebenarnya membantu saya saat itu. Suami yang baik hati yang senantiasa mengerti dan membantu, tetangga yang terus datang meringankan beban, dan masih banyak lagi lainnya.

Cobaan datang lagi. Karena badai katrina, listrik padam ditambah lagi infus yang digunakan sebagai makanan bayinya semakin berkurang. Sedangkan tidak ada orang sama sekali di rumah sakit dan banjir menggenang di sebagian besar rumah sakit. Nalurinya sebagai ayah tergerak, kemudian ia pun berusaha mencari segala sesuatu yang bisa digunakan untuk menyelamatkan bayinya. Akhirnya usahanya tak sia-sia. Pencariannya membuahkan hasil, ia berhasil mendapatkan beberapa kantong infus dan snack untuknya. Penemuan terbesarnya adalah sebuah generator manual untuk memberi tenaga pada baterai inkubator tempat bayinya dirawat. Sayangnya, karena usia mesin yang sudah tua, membuat baterai  baterai generator lemah dan hanya mampu mensuplai listrik cadangan selama tiga menit. Alhasis, Hayes harus memutar tuas generator manual tersebut setiap 3 menit, dan lama kelamaan tak lebih dari 2 menit.

Siapa bilang usaha Hayes dalam menyelamatkan bayinya akan lancar-lancar saja. Karena badai katrina, beberapa orang menjadi ganas, menjarah toko-toko, supermarket, bahkan rumah sakit. Termasuk di ruang bayi Hayes dirawat. Demi menyelamatkan bayinya, Hayes pun terpaksa melakukan upaya penyelamatan dengan menembak penjarah tersebut.

Berbagai cara dilakukan Hayes agar bisa mengeluarkan ia dan bayinya dari rumah sakit tersebut. Setiap hendak keluar mencari bantuan, Hayes akan menyetel alarm jam tangannya selama 3 menit agar begitu alarmnya berbunyi, ia bisa segera berlari untuk memutar tuas generator agar inkubator bayinya tetap menyala. Berkali-kali ia harus berlari dari kamar menuju luar rumah sakit demi menemukan mobil ambulans yang berisi radio untuk mengabarkan keberadaannya. Namun setelah perjuangan yang melelahkan itu, ternyata upayanya masih belum membuahkan hasil. Belum ada tanda-tanda ada yang datang untuk menyelamatkan mereka. Namun Hayes tidak menyerah begitu saja, ia bahkan berlari kembali dari kamar menaiki tangga ke atas rumah sakit untuk meminta bantuan. Bantuannya datang, namun sayangnya bukan hanya Hayes yang harus ditolong, di gedung sebelah rumah sakit juga ada beberapa orang yang harus ditolong. Kali ini perjuangannya pun belum membuahkan hasil.

Di tengah kelelahan berlari mencari bantuan dan memutar tuas generator, Hayes masih sempat bercerita kepada putrinya dan mengganti popok bayinya. Bahkan ia sempat berhalusinasi berbicara dengan mendiang istrinya.

Di akhir cerita, tim penyelamat datang. Mereka menemukan Hayes yang begitu kelelahan dan hampir pingsan. Bahkan ia tak sempat mengatakan bahwa bayinya sedang dirawat di salah satu kamar. Hampir saja mereka meninggalkan sang bayi. Beruntung, akhirnya sang bayi menangis seakan memberitahukan keberadaannya. Perjuangan Hayes yang begitu melelahkan dan menguras emosi akhirnya berbuah happy ending, ia dan bayinya selamat.

Film ini mengingatkan saya bahwa hidup adalah perjuangan, sekeras apapun cobaan hidupmu, teruslah berjuang dan jangan menyerah pada nasib. Film ini juga mengingatkan saya bahwa betapapun kelelahannya saya dalam mengurus Uwais, masih belum ada apa-apanya dibanding si Hayes. Dalam film ini rasanya setiap detik begitu berharga, karena terlambat sedikit saja, Hayes bisa saja kehilangan bayinya. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menjadi orang tua yang baik, salah satunya dengan menonton film ini. Itu pendapat saya, bagaimana menurutmu?

“Postingan ini diikutsertakan dalam Evrinasp Second Giveaway: What Movie are You?”

image

Piknik Ceria Bersama Keluarga di Kebun Bibit Surabaya

Menjalani LDR(Long Distance Relationship) after married itu sungguh tidak menyenangkan. Meski hanya dua bulanan saja menjalaninya, rasanya seperti tahunan lamanya. Waktu terasa berjalan begitu lambat dan pada akhirnya saya sekarat alias rindu berat. Haha, maafkan kelebay-an saya :). Kedengarannya berlebihan ya, but trust me, it really happens to me.
Jadi ceritanya setelah dua tahun tak mengunjungi Ayah dan Emak, akhirnya saya dan keluarga kecil kami mudik ke Bangka. Karena sudah lama tidak mudik, kami putuskan saya dan si kecil akan tinggal di rumah Emak selama dua bulanan sampai Idul Adha tiba, waktu itu berangkat mudiknya H+3 Idul Fitri, sementara mas suami akan pulang duluan lalu menjemput kami. Akhirnya pada tanggal 30 Juli 2015 yang lalu, suami pun balik duluan. Awalnya, saya PD aja kalau saya akan biasa-biasa aja, paling hanya sedikit kangen sama si Abi. Dan semua itu akan segera teratasi dengan berbagai kecanggihan teknologi yang ada, video call, whatsapp, sms, dan telepon. Hingga akhirnya jiwa saya menyangkal semua itu, bahkan Uwais juga ikutan. Uwais demam tinggi, saya pun ikut-ikutan demam, ditambah lagi sakit karena menyusui yang lama sekali sembuhnya, padahal sampai Uwais berusia satu tahunan, saya belum pernah mengalaminya. Saya jadi cepat marah, uring-uringan, dan stress.
Rencana awal Abi akan datang menjemput kami tanggal 20 September pun berubah jadi lima hari lebih cepat, 15 September yang lalu.

image

      Before and after Uwais bertemu Abi.

Lihat sendiri kan bedanya? Betapa bahagianya Uwais bertemu Abi. Hihi.
Alhamdulillah, 26 September yang lalu kami sekeluarga sudah pulang lagi ke Jawa. Sebelum kembali ke kontrakkan, kami sempatkan untuk mengunjungi Mbah suami di Surabaya.
Untuk melepas rindu setelah sekian lama berpisah (ceile), Abi mengajak kami piknik ke Kebun Bibit Surabaya. Yeay! And the story begins
Kami berangkat ke Kebun Bibit minggu pagi, sekitar jam 8an pagi. Sayangnya kebun bibit sudah sangat ramai pengunjung. Ada yang reunian, kumpul komunitas, piknik keluarga, atau sekedar foto-foto.

image

Beberapa aktivitas pengunjung Kebun Bibit Surabaya. (Sumber gambar: dok. pribadi).

Banyak hal yang membuat saya suka piknik di kebun bibit, selain biaya masuknya gratis,~kami cuma diminta bayar parkir sebesar 2000 rupiah untuk motor~, Kebun Bibit Surabaya ini menyajikan pemandangan yang sejuk dan hijau. Tepat sekali untuk melepas penat setelah berhari-hari bergelut dengan polusi kota Surabaya.

image

Pesona hijau Kebun Bibit Surabaya. (Sumber gambar: dok. pribadi).

 

Sebagai nilai plus, tersedia juga arena bermain dan outbond untuk anak.

image

image

image

Arena bermain untuk anak-anak. (Sumber gambar: dok. pribadi).

image

Arena outbond untuk anak-anak. (Sumber gambar: dok. pribadi).

Bila bosan bermain di arena bermain anak dan outbond, kita bisa memberi makan rusa dan melihat burung.

image

Memberi makan para rusa di Kebun Bibit Surabaya. (Sumber gambar: dok. pribadi).

image

Melihat burung di dalam sangkar di Kebun Bibit Surabaya. (Sumber gambar: dok. pribadi)

Sebagai tempat tujuan rekreasi, Kebun Bibit Surabaya termasuk tempat yang sangat bersih, tempat sampah disediakan di berbagai titik di kebun bibit ini.

image

Tong sampah yang tersedia di berbagai titik di Kebun Bibit Surabaya. (Sumber gambar: dok. pribadi)

Untuk meningkatkan kesadaran pengunjung untuk membuang sampah pada tempatnya, pengelola bahkan mengecat tong sampah sedemikian rupa agar lebih menarik.

image

Tong sampah yang dicat menjadi semakin menarik. (Sumber gambar: dok. pribadi)

Jadi, kalo masih ada yang mau buang sampah sembarangan, minta dijitak tuh kayaknya. Haha.

Selain piknik, di kebun bibit Surabaya juga bisa dijadikan sebagai sarana belajar sambil bermain bagi anak. Anak-anak bisa belajar mengenal nama ilmiah setiap tumbuhan yang ada di kebun bibit. Plang nama tumbuhan sudah tertempel di badan tumbuhan.

image

Daftar nama flora dan nama salah satu pohon. (Sumber gambar: dok. pribadi)

Selain itu, ada perpustakaan yang menyediakan aneka buku bacaan menarik bagi anak-anak.

image

Aktivitas membaca di perpustakaan. (Sumber gambar: dok. pribadi)

Bila beruntung, kita bisa menikmati pameran foto atau kegiatan yang berlangsung di perpustakaan. Ketika berkunjung ke perpustakaannya, kami melihat pameran foto Surabaya tempo dulu. Sayangnya pengunjung dilarang mengambil foto yang sedang dipamerkan.

image

Pameran foto Surabaya tempo doeloe di perpustakaan. (Sumber gambar: dok. pribadi)

 

Setelah lelah bermain dan belajar, kita bisa beristirahat di berbagai tempat yang telah disediakan pengelola kebun bibit.

image

image

Berbagai rest area yang tersedia bagi pengunjung. (Sumber gambar: dok. pribadi)

Atau gelar tikar sembari menikmati bekal juga seru. Sayangnya karena berangkat dari rumah Mbah dan tak mau merepotkan, bekal yang kami bawa cuma air minum, popok dan baju ganti Uwais. Untungnya ada banyak yang berjualan di luar gerbang kebun bibit. Rasa lapar pun sedikit teratasi. Jangan takut tangan kotor, karena ada fasilitas cuci tangan disana.

image

Fasilitas cuci tangan untuk pengunjung. (Sumber gambar: dok. pribadi)

Selesai berkeliling, kita bisa membeli oleh-oleh berupa kerajinan cermin dari kerang-kerangan atau membeli mainan tradisional yang dijajakan para penjual di pintu masuk kebun bibit Surabaya.

image

Berbagai oleh-oleh yang bisa dibeli. (Sumber gambar: dok. pribadi)

Sungguh menyenangkan piknik di Kebun Bibit Surabaya, apalagi bersama keluarga tercinta. Hati yang rindu dan lara pun seketika bersukacita. Kadang-kadang piknik memang dibutuhkan untuk menyegarkan kembali pikiran setelah sibuk dengan segala urusan. Selain memang kita harus mengisi ruhiyah kita dengan beribadah, kita juga perlu keluar rumah untuk menyaksikan langsung ciptaan Sang Maha Kaya, untuk menambah syukur kita.

Nah, piknik yang juga tak kalah serunya adalah piknik memetik buah di Taman Wisata Mekarsari Bogor. Sedari saya kecil saya sudah memimpikannya. Jalan-jalan sambil memetik buah dan langsung menikmatinya. Nyam-nyam. Bila suatu saat saya bisa liburan di Bogor, saya akan mengusahakan untuk mengunjungi Taman Wisata Mekarsari Bogor. Semoga suatu saat bisa ke sana bersama keluarga, Aamiin.

Sekian cerita piknik saya bersama keluarga tercinta. Bagaimana dengan ceritamu? 🙂

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba “Lomba Blog Piknik itu Penting”.