Yuk Jelajahi Bangka dan Segala Pesonanya!

Waktu SD saya sering berangan-angan seperti ini: ” Alangkah enaknya kalau punya keluarga di luar daerah ya, kalau lebaran bisa mudik jauh deh.”
Itu karena banyak dari teman SD saya yang punya kerabat dari luar daerah. Dan terkadang, ketika musim liburan atau mudik tiba, mereka akan mengunjungi saudara tersebut. For your information, semua keluarga saya dari buyut sampai cicit semuanya berdomisili di Bangka Belitung. Sebagian memang ada yang menikah dengan orang luar pulau, namun mereka sudah menetap di Bangka Belitung. Sehingga, kunjungan keluarga terjauh yang pernah saya dan keluarga lakukan kala itu adalah antar kabupaten.
Karena itu, entah sejak kapan mimpi itu bermula, mulai ada terbersit keinginan: “Mungkin enak bila punya suami dari luar daerah ya, sesekali bisa mudik ke luar daerah”.
Waktu berlalu, saya pun telah melupakan keinginan itu.
Dan benarlah rupanya, salah satu cara mewujudkan mimpi adalah dengan memvisualisasikannya. Alhamdulillah pada tanggal 19 Oktober 2012 lalu, seorang pria jawa rela terbang menyeberangi pulau untuk menyatakan janji setia untuk menjaga saya di hadapan Ayah, penghulu dan tamu undangan yang hadir.
Tak berapa lama setelahnya, November 2012 saya pun resmi merantau ke pulau Jawa mengikuti suami. Lalu di awal Januari 2013, saya menetap bersama suami di Paiton Probolinggo Jawa Timur, tak jauh dari tempat kerja suami.
Waktu terus bergerak, tujuh bulan setelahnya, kami mudik untuk yang pertama kalinya ke Bangka Belitung  untuk merayakan idul fitri bersama keluarga. Dulu saya menangis ketika diantarkan Ayah dan Ibu di bandara, kemudian berdo’a dalam hati, ” Ya Robbi, jangan jadikan ini penerbangan terakhirku ya Robbi, beri aku kesempatan untuk bertemu mereka lagi.” Alhamdulillah akhirnya saya pulang kembali seminggu sebelum lebaran. Sayangnya, karena pulang saat puasa, kami tak terlalu banyak meluangkan waktu untuk jalan-jalan. Selain karena cuaca Bangka yang amat panas, waktu cuti suami yang juga tak terlalu lama membuat kami ingin berlama-lama saja di rumah. Paling hanya pergi ke toko oleh-oleh atau pantai terdekat. Lalu, setelah sepuluh hari mudik di Bangka, kami pun kembali ke tanah rantau.
Singkat cerita, 20 Juli 2015 yang lalu, kami mudik untuk yang kedua kalinya. Alhamdulillah, kali ini sudah bawa jagoan. Hehe.

image

Pertama kali nyampe di Bangka, jepret sana jepret sini dulu. (sumber gambar: dok. Pribadi)

Kali ini masih sama sebenarnya, cuti suami cuma delapan hari kerja. Tapi  saya dan si jagoan bakal lama di Bangka. Yeay! Kami akan di Bangka selama dua bulan. 🙂
Karena mudiknya bukan pas puasa, saatnya kami mengeksplorasi wiskul yang ada di Bangka sambil jalan-jalan. Mau tahu kemana saja kami jalan-jalan? Check it out!
1. Jalan-jalan ke pantai
Karena Bangka Belitung adalah provinsi kepulauan yang memang dikelilingi laut seluruh pulaunya, maka kalau ke Bangka tapi belum main ke pantai belum afdol namanya.
Karena Abinya Uwais cuma sebentar di Bangka, kami hanya ke beberapa pantai saja yang ada di Bangka, tak sempat mengunjungi semua pantai. (Bisa sampai sebulan lamanya kalau semua pantai yang ada di Bangka dikunjungi. ~Lebay detected~).

~ Pantai pasir padi

image

Menunggu sunset sambil minum es kelapa dan siomay. (Sumber gambar: dok. Pribadi)

Pantai pertama yang dikunjungi adalah pantai pasir padi. Pantai yang berjarak kurang lebih 7km dari pusat kota Pangkalpinang ini cukup ditempuh 15 menit dengan sepeda motor dari rumah Ibu saya. Pasirnya putih, ombaknya juga tenang, airnya juga masih jernih. Kalau bukan karena datang kesitu sudah sore, mungkin saya sudah nyebur. 😀

image

Mandi pagi di pantai. ( sumber gambar: dok. Pribadi)

Seperti yang saya sebutkan di atas, kalau ke pantai pasir padi tuh bawaannya mau nyemplung. Maka keesokan harinya kami datang pagi-pagi untuk mandi di pantai.

~ Pantai Matras

Satu lagi pantai yang tak kalah indahnya dari pantai pasir padi adalah pantai matras.
pantai ini terletak di desa Sinar Baru, Kecamatan Sungailiat, di sebelah timur laut Pulau Bangka yang mempunyai jarak sekitar 40 km dari Pangkalpinang atau 7 km dari kota Sungailiat. Seperti umumnya pantai yang ada di Bangka Belitung, pantai ini memiliki pasir putih dan ditambah lagi bebatuan yang semakin memperindah pantai ini.

image

Berpose di pantai matras. (Sumber gambar: dok. Pribadi)

image

Keindahan pantai matras. (Sumber gambar: dok. Pribadi)

2. Berkunjung ke Bangka Botanical Garden (BBG)

Bangka Botanical Garden merupakan kawasan argowisata yang berdiri di atas tanah seluas 300 hektar. Kawasan hijau ini merupakan bentuk Corporat Social Responsibility dari sebuah perusahaan peleburan timah yang ada di Bangka. Disini, kita bisa berwisata sambil melihat peternakan sapi perah dan langsung mencicipi susu sapi, memberi makan kuda, menikmati rindangnya pohon pinus, melihat peternakan ikan, serta melihat kebun bibit sayuran seperti terong, sawi, sawit, kurma, dan buah naga.

image

Mengunjungi peternakan sapi perah. (Sumber gambar: dok. Pribadi)

image

Memberi makan kuda di BBG. (Sumber gambar: dok. Pribadi)

image

Berpose di antara pohon pinus. (Sumber gambar: dok. Pribadi)

image

Memberi makan ikan.(Sumber gambar: dok. Pribadi)

image

Berpose di kebun bibit. (Sumber gambar: dok. Pribadi)

Jangan khawatir, bila lelah setelah melihat-lihat dan berkeliling, ada restoran di pintu masuk BBG yang menyajikan berbagai menu yang menggoyang lidah.

image

image

image

Beberapa menu di BBG resto.(sumber gambar: dok. Pribadi)

3. Mencicipi Empek-empek dan Es Gula kabung
Sebelum terbentuk menjadi provinsi, Bangka Belitung merupakan bagian dari provinsi Sumatera Selatan. Karena itu, tak heran bila beberapa makanan khas daerah Palembang sana juga banyak terdapat di sini, salah satunya adalah empek-empek.
Sementara gula kabung adalah sebutan untuk gula merah atau gula Jawa. Jadi es gula kabung adalah es yang terbuat dari sirup gula merah atau gula kabung.

image

image

Empek-empek dan es gula kabung. (Sumber gambar: dok. Pribadi)

Harganya juga relatif murah. Satu empek-empek dihargai senilai Rp 2000. Sementara satu gelas kecil es gula kabung diberi harga Rp 5.000. Dengan merogoh kantong sebesar Rp 15.000 sudah bisa mengenyangkan perut yang sedang lapar. Nyam-nyam! 🙂

Sebenarnya masih banyak lagi objek wisata yang bisa dikunjungi di Bangka Belitung. Ada hutan pelawan, wisata pulau putri, pulau ketawai, dan mercusuar di pelabuhan mentok. Sementara kuliner yang lain yang wajib dicicipi adalah rusep, martabak manis, lempah kuning, dan masih banyak lagi lainnya. Sayangnya, karena cuti suami yang singkat, kami hanya bisa melakukan beberapa hal di atas. Nanti kalau Abinya Uwais balik ke Bangka untuk jemput kami, barulah berpetualang lagi. Psst, soalnya kalau jalan-jalan sama Abinya Uwais ada yang traktir. 😀

Wah, kalo setiap pulang selalu disajikan pemandangan yang indah seperti ini, gimana bisa nggak kangen sama kampung halaman?
Trus adakah hubungan jalan-jalan dengan nasionalisme?
Jelas ada dong! Apalagi jalan-jalan di negeri sendiri. Dengan jalan-jalan, kita akan membangun kenangan bersama tempat-tempat yang kita kunjungi. Bahkan terkadang kita akan jatuh cinta pada tempat yang kita kunjungi. Apalagi di Indonesia banyak tempat-tempat cantik nan indah yang akan dengan mudah membuat kita jatuh cinta. Nah, bila sudah jatuh cinta, tentu kita tidak akan berpaling pada lain hati bukan? Sehingga sejauh apapun kita melangkah dan betapapun indahnya tempat yang kita kunjungi, kita akan ingat untuk selalu pulang.

Itu pendapatku. Bagaimana menurutmu?

“Tulisan ini disertakan dalam lomba ‘jalan-jalan nasionalisme’ yang diadakan Travel On Wego Indonesia”.

Iklan