Five Special Things for Five Lovely

image
Lima benda yang ingin dibeli di Lazada.

Manusia adalah mahluk sosial, begitu pemahaman yang saya dapat ketika belajar Pendidikan Kewarganegaraan di SMP dulu. Maksudnya, manusia tidak akan bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Ya, kita memang tidak bisa hidup hanya mengandalkan diri sendiri, terutama saya. Bila tanpa orang-orang hebat di belakang saya, mungkin saya tidak bisa berdiri tegak hingga saat ini.
-selengkapnya->

Utsman Bin Maz’un

Jika diurutkan berdasarkan orang-orang yang pertama kali masuk islam, Utsman Bin Maz’un adalah orang keempat belas yang masuk islam kala itu. Beliau juga merupakan muslim pertama yang meninggal di Madinah dan dimakamkan di Baqi’.
Sebagaimana karakteristik sahabat nabi pada umumnya, Beliau juga merupakan sahabat nabi yang zuhud, gemar beribadah, dan tak tertarik dengan kesenangan dunia. Beliau merupakan seorang yang suci lagi agung tapi bukan dari kalangan yang senang menyendiri, melainkan senang bergaul dalam masyarakat.
Ketika islam pertama kali dibawa dan disebarkan oleh Rasulullah SAW baik secara diam-diam maupun terang-terangan, maka Utsman Bin Maz’un juga termasuk dari segelintir orang yang memilih bergabung untuk menjadi pengikut Rasulullah SAW, dan kemudian ditempa oleh berbagai derita dan siksaan bersama kaum muslim lainnya.
Ketika Rasulullah bermaksud menyelamatkan kaum muslimin dengan cara hijrah ke Habasyah, maka Utsman Bin Maz’un terpilih sebagai pemimpin rombongan pertama yang berangkat hijrah. Beliau berangkat bersama Said anaknya dan kaum muslimin yang lainnya. Maka pergilah mereka ke tempat yang jauh dari kampung halamannya menghindari kekejaman dan kebuasan orang Quraisy.
Di Habasyah, mereka menemui agama yang berbeda dengan yang mereka temukan di Mekah dulu. Agama itu tidak menyembah berhala seperti yang orang Quraisy kerjakan, atau melakukan upacara-upacara seperti biasanya, tetapi mereka bukan islam. Dan ternyata beberapa dari pemeluk agama itu juga mulai mempengaruhi mereka agar meninggalkan islam dan memeluk agama mereka. Namun apa yang terjadi? Karena cinta mereka yang telah begitu besarnya kepada Allah, RasulNya dan Islam, membuat mereka tak sedikit pun tergerak untuk mengikuti agama orang-orang Habasyah, yang ada malah mereka semakin merindukan untuk bisa bertemu dan berkumpul serta beribadah bersama Rasulullah baik di dalam masjid maupun di medan tempur.
Suatu ketika, tersebarlah desas-desus bahwa orang-orang Quraisy di Mekah sudah memeluk Islam. Maka alangkah senangnya kaum muslim yang berada di Habasyah, dan mereka pun memutuskan untuk segera pulang ke kampung halaman. Ketika hampir sampai di Mekah, barulah mereka tahu bahwa cerita yang tersebar itu hanyalah dusta belaka. Orang Quraisy pun mendengar bahwa kaum muslim yang hijrah ke Habasyah telah kembali ke Mekah, maka mereka pun langsung mengatur siasat dan perangkap untuk menangkap dan menyiksa mereka semua. Namun karena kerinduan mereka yang teramat dalam pada mekah dan Rasulullah SAW, mereka pun tak memperdulikan bahaya tersebut dan kembalilah mereka ke Mekah. Sesampainya di Mekah, kaum muslim kembali disiksa oleh orang Quraisy.
Pada zaman itu di Arab terdapat tradisi perlindungan yang diakui dan dihormati di kalangan kaum Arab. Seseorang yang mendapat perlindungan tersebut, maka tak akan ada yang berani menyiksanya maupun menyentuhnya. Sayangnya, tidak semua orang bisa beruntung mendapatkan perlindungan tersebut. Salah satu yang beruntung mendapatkannya adalah Utsman Bin Maz’un yang mendapatkan perlindungan dari pamannya, Walid Bin Mughirah yang kala itu merupakan petinggi Quraisy yang disegani. Maka dengan perlindungan itu, Utsman Bin Maz’un pun bebas bergerak kemana pun ia suka tanpa takut tangan-tangan Quraisy akan menangkap dan menyiksanya.
Sayangnya, mereka yang tidak memiliki perlindungan merasakan hal yang sebaliknya dengan Utsman Bin Maz’un. Mereka disiksa dan dianiaya oleh musuh-musuh Allah. Melihat hal ini, Utsman yang ditempa oleh Alqur’an dan dididik langsung oleh Rasulullah sungguh tak tega, ia pun menyesal karena bisa bebas bergerak tanpa hambatan sementara saudaranya yang lain hidup dalam penderitaan.
Berkatalah Beliau, “ Demi Allah, sesungguhnya mondar-mandirku dalam keadaan aman disebabkan perlindungan seorang tokoh golongan musyrik, sedangkan teman-teman sejawatku dan kawan-kawan seagama menderita azab dan siksa yang tidak kualami, ini merupakan suatu kerugian besar bagiku!”
Maka pergilah Beliau menemui pamannya yang memberikan perlindungan padanya, Walid Bin Mughirah untuk melepaskan perlindungan tersebut. Bertanyalah Walid, “Kenapa keponakanku, adakah salah seorang anak buahku yang mengganggumu?”
“Tidak, saya hanya ingin berlindung kepada Allah dan tak suka kepada selainNya! Karenanya pergilah Anda ke masjid dan umumkanlah bahwa maksudku ini secara terbuka seperti dulu Anda mengumumkan perlindungan terhadap diriku!” Ujar Utsman Bin Maz’un. Maka berangkatlah mereka ke masjid dan Walid pun mengumumkan bahwa ia telah melepaskan perlindungan atas Utsman Bin Maz’un keponakannya. Setelah perlindungan tersebut dilepas, maka Utsman Bin Maz’un bukanlah orang yang bebas dari bahaya seperti dulu lagi, melainkan sama dengan saudara muslim lainnya. Pada hari yang sama ketika dilepaskan perlindungan itu, Utsman pun dipukuli hingga mengenai sebelah matanya. Peristiwa pemukulan ini bahkan berlangsung ketika Walid berada di dekatnya dan menyaksikan kejadian tersebut.
Berkatalah Walid kepada Utsman,
“ Wahai keponakanku, jika matamu kebal terhadap bahaya yang menimpa, maka sungguh, benteng perlindunganmu amat tangguh!”.
“ Tidak, bahkan mataku yang sehat ini amat membutuhkan pula pukulan yang telah dialami saudaranya di jalan Allah, dan sungguh wahai Abu Abdi Syams (Walid, red) saya berada dalam perlindungan Allah yang lebih kuat dan lebih mampu darimu!” Jelas Utsman kepada Walid.
“Ayolah Ustman, jika kamu ingin, kembalilah masuk ke dalam perlindunganku!” Tambah Walid pula.
“Terima kasih”, Utsman pun menolak tawaran tersebut.
Maka Utsman pun meninggalkan tempat itu dengan mata yang pedih dan kesakitan tetapi jiwanya yang besar memancarkan keteguhan hati dan serta penuh kebagahagiaan. Bahkan beliau pun masih sempat mendedangkan pantun.
“ Andaikata dalam mencapai ridha Ilahi mataku ditinju tangan jahil Mulhidi,
Maka Yang Maha Rahman telah menyediakan imbalannya,
Karena siapa yang diridhaiNya pasti berbahagia,
Hai Ummat walau menurutmu daku ini sesat,
Daku kan tetap dalam agama Rasul, Muhammad,
Dan tujuanku tiada lain hanyalah Allah dan Agama yang haq,
Walaupun lawan berbuat aniaya dan semena-mena.”
Dan setelah dikembalikannya perlindungan tersebut, seperti kaum muslimin lainnya, Utsman pun menerima siksaan yang bertubi-tubi dari kaum Quraisy. Tetapi dengan itu mereka tidak tambah merana, melainkan bertambah bahagia. Siksaan itu tak ubahnya bagai api yang menyebabkan keimanannya menjadi matang dan bertambah murni.
Kaum muslim pun hijrah ke Madinah, meninggalkan kekejaman orang Quraisy di Mekah, Utsman pun ikut serta bersama rombongan. Ketika di Madinah, terlihatlah seperti apa sebenarnya perilaku Utsman. Beliau selalu mengisi kehidupannya dengan beribadah setiap waktu, selain dengan berjuang siang dan malam. Saking asyiknya dengan ibadahnya itu, ia pun bermaksud hendak memutuskan hubungan dengan segala kesenangan dan kemewahan dunia. Ia tak ingin memakai pakaian kecuali yang kasar, dan tak ingin makan makanan kecuali yang amat sederhana.
Pada suatu hari ia masuk masjid dengan pakaian usang yang telah sobek-sobek yang ditambalnya dengan kulit unta, sementara Rasulullah sedang duduk-duduk bersama sahabatnya. Melihat hal tersebut, hati Rasulullah pun bagaikan disayat, begitu pula para sahabat, air mata mereka mengalir karenanya.
Saking cintanya Utsman pada Allah, ia semakin tekun dalam mendalami ibadahnya. Bahkan sampai-sampai ia hendak menahan diri dari bergaul dengan sang istri, hingga akhirnya Beliau pun ditegur oleh Rasulullah, yang segera memanggil dan menyampaikan kepadanya:
“ Sesungguhnya keluargamu itu mempunyai hak atas dirimu!”.
Rasulullah SAW sangat mencintai Utsman Bin Maz’un. Bahkan di saat-saat Utsman menghembuskan nafas terakhir, Rasulullah berada di sampinya. Rasulullah membungkuk menciumi kening Utsman serta membasahi kedua pipinya dengan air yang berderai dari kedua matanya yang diliputi duka cita hingga kematian Utsman, sedangkan wajah Utsman tampak bersinar gemilang. Dan bersabdalah Rasulullah melepas sahabatnya yang tercinta itu:
“Semoga Allah memberimu rahmat wahai Abu Saib, kamu pergi meninggalkan dunia, tak satu keuntungan pun yang kamu peroleh daripadanya,serta tak satu kerugian pun yang dideritanya daripadamu.”
Selepas Utsman wafat bahkan Rasulullah selalu mengengang Beliau. Ketika hendak melepas putrinya Rukayah yang akan menghembuskan nafas terakhir, ia pun menyebutkan Utsman,
“ Pergilah, susul pendahulu kita yang piliham, Utsman Bin Maz’un.”

Begitulah sepenggal kisah dari salah seorang sahabat terbaik yang pernah ada, Utsman Bin Maz’un. Seorang yang begitu cinta pada Allah, Rasulullah, dan Islam. Seseorang yang rela meninggalkan nikmatnya dunia demi indahnya ibadah. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah Beliau. Wallahua’lam.

*Diceritakan kembali dari sebuah buku berjudul: Karakteristik Perihidup Enam Puluh Sahabat Rasulullah ditulis oleh Khalid Muh. Khalid dari penerbit CV Penerbit Diponegoro Bandung 1981.

Hours, Karena Setiap Detik Begitu Berharga

220px-Hours2013Poster

Hours, sumber gambar Wikipedia.

Film Hours adalah film terakhir yang diperankan oleh seorang aktor terkenal dari film Fast and Furious, Paul Walker sebelum kematiannya. Film ini juga merupakan film terakhir yang saya tonton dari laptop pemberian Ibu saya, yang rusak beberapa hari setelah saya menonton film ini dan berkelanjutan hingga hampir setahun setelahnya. Saya mendapatkannya dari suami yang juga mengcopy dari teman kerjanya yang hobi nonton. (Ketahuan nggak modal ya, haha ).

Film ini saya tonton akhir 2014 lalu, ketika masih anget-angetnya menjadi seorang ibu. Berjuang membesarkan seorang bayi bersama suami di saat baby blues melanda, tanpa bantuan langsung dari sang ahli (baca: orang tua) dan hanya bermodalkan insting dan internet, membuat film ini menjadi hiburan yang cukup melegakan hati.

Secara keseluruhan, film ini bercerita tentang perjuangan seorang new father Nolan Hayes (Paul Walker) yang berusaha menyelamatkan bayinya.

Kisahnya bermula ketika Hayes mengantarkan istrinya ke rumah sakit karena akan melahirkan anak pertamanya. Betapa sedihnya ia tak lama kemudian dokter mengabarkan bahwa istrinya meninggal saat melahirkan anaknya. Malang tak dapat dielak, anak yang baru saja dilahirkan istrinya juga tidak dalam keadaan baik-baik saja. Bayinya harus diletakkan dalam inkubator sekitar 48 jam sebelum bayinya mulai menangis yang berarti menandakan kondisi kesehatannya yang telah pulih. Tak lama setelah berita kematian istrinya, kota New Orleans kediaman Hayes diserang badai katrina yang begitu dahsyat.

Karena badai terus melanda dan banjir serta kerusakan terjadi di mana-mana, maka semua orang mengungsi mencari tempat yang aman. Begitu pula orang-orang di rumah sakit tak terkecuali para dokter dan tenaga medis dimana anak Hayes dirawat. Sayangnya, sang bayi tidak bisa dipindahkan demi alasan keselamatannya. Di sini mulai terjadi konflik batin dalam diri Hayes. Di satu sisi ia baru saja bersedih karena kehilangan istrinya, di sisi lain ia harus menyelamatkan bayi yang baru saja dikenalnya itu seorang diri. Pada bagian ini saya langsung merasa tertohok sekali. Siapalah saya yang terus mengeluh karena masih baru belajar membesarkan bayi saat itu dibandingkan seorang Nolan Hayes yang harus menyelamatkan anaknya hanya seorang diri. Sementara, ada banyak orang yang sebenarnya membantu saya saat itu. Suami yang baik hati yang senantiasa mengerti dan membantu, tetangga yang terus datang meringankan beban, dan masih banyak lagi lainnya.

Cobaan datang lagi. Karena badai katrina, listrik padam ditambah lagi infus yang digunakan sebagai makanan bayinya semakin berkurang. Sedangkan tidak ada orang sama sekali di rumah sakit dan banjir menggenang di sebagian besar rumah sakit. Nalurinya sebagai ayah tergerak, kemudian ia pun berusaha mencari segala sesuatu yang bisa digunakan untuk menyelamatkan bayinya. Akhirnya usahanya tak sia-sia. Pencariannya membuahkan hasil, ia berhasil mendapatkan beberapa kantong infus dan snack untuknya. Penemuan terbesarnya adalah sebuah generator manual untuk memberi tenaga pada baterai inkubator tempat bayinya dirawat. Sayangnya, karena usia mesin yang sudah tua, membuat baterai  baterai generator lemah dan hanya mampu mensuplai listrik cadangan selama tiga menit. Alhasis, Hayes harus memutar tuas generator manual tersebut setiap 3 menit, dan lama kelamaan tak lebih dari 2 menit.

Siapa bilang usaha Hayes dalam menyelamatkan bayinya akan lancar-lancar saja. Karena badai katrina, beberapa orang menjadi ganas, menjarah toko-toko, supermarket, bahkan rumah sakit. Termasuk di ruang bayi Hayes dirawat. Demi menyelamatkan bayinya, Hayes pun terpaksa melakukan upaya penyelamatan dengan menembak penjarah tersebut.

Berbagai cara dilakukan Hayes agar bisa mengeluarkan ia dan bayinya dari rumah sakit tersebut. Setiap hendak keluar mencari bantuan, Hayes akan menyetel alarm jam tangannya selama 3 menit agar begitu alarmnya berbunyi, ia bisa segera berlari untuk memutar tuas generator agar inkubator bayinya tetap menyala. Berkali-kali ia harus berlari dari kamar menuju luar rumah sakit demi menemukan mobil ambulans yang berisi radio untuk mengabarkan keberadaannya. Namun setelah perjuangan yang melelahkan itu, ternyata upayanya masih belum membuahkan hasil. Belum ada tanda-tanda ada yang datang untuk menyelamatkan mereka. Namun Hayes tidak menyerah begitu saja, ia bahkan berlari kembali dari kamar menaiki tangga ke atas rumah sakit untuk meminta bantuan. Bantuannya datang, namun sayangnya bukan hanya Hayes yang harus ditolong, di gedung sebelah rumah sakit juga ada beberapa orang yang harus ditolong. Kali ini perjuangannya pun belum membuahkan hasil.

Di tengah kelelahan berlari mencari bantuan dan memutar tuas generator, Hayes masih sempat bercerita kepada putrinya dan mengganti popok bayinya. Bahkan ia sempat berhalusinasi berbicara dengan mendiang istrinya.

Di akhir cerita, tim penyelamat datang. Mereka menemukan Hayes yang begitu kelelahan dan hampir pingsan. Bahkan ia tak sempat mengatakan bahwa bayinya sedang dirawat di salah satu kamar. Hampir saja mereka meninggalkan sang bayi. Beruntung, akhirnya sang bayi menangis seakan memberitahukan keberadaannya. Perjuangan Hayes yang begitu melelahkan dan menguras emosi akhirnya berbuah happy ending, ia dan bayinya selamat.

Film ini mengingatkan saya bahwa hidup adalah perjuangan, sekeras apapun cobaan hidupmu, teruslah berjuang dan jangan menyerah pada nasib. Film ini juga mengingatkan saya bahwa betapapun kelelahannya saya dalam mengurus Uwais, masih belum ada apa-apanya dibanding si Hayes. Dalam film ini rasanya setiap detik begitu berharga, karena terlambat sedikit saja, Hayes bisa saja kehilangan bayinya. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menjadi orang tua yang baik, salah satunya dengan menonton film ini. Itu pendapat saya, bagaimana menurutmu?

“Postingan ini diikutsertakan dalam Evrinasp Second Giveaway: What Movie are You?”

image

Yuk Jelajahi Bangka dan Segala Pesonanya!

Waktu SD saya sering berangan-angan seperti ini: ” Alangkah enaknya kalau punya keluarga di luar daerah ya, kalau lebaran bisa mudik jauh deh.”
Itu karena banyak dari teman SD saya yang punya kerabat dari luar daerah. Dan terkadang, ketika musim liburan atau mudik tiba, mereka akan mengunjungi saudara tersebut. For your information, semua keluarga saya dari buyut sampai cicit semuanya berdomisili di Bangka Belitung. Sebagian memang ada yang menikah dengan orang luar pulau, namun mereka sudah menetap di Bangka Belitung. Sehingga, kunjungan keluarga terjauh yang pernah saya dan keluarga lakukan kala itu adalah antar kabupaten.
Karena itu, entah sejak kapan mimpi itu bermula, mulai ada terbersit keinginan: “Mungkin enak bila punya suami dari luar daerah ya, sesekali bisa mudik ke luar daerah”.
Waktu berlalu, saya pun telah melupakan keinginan itu.
Dan benarlah rupanya, salah satu cara mewujudkan mimpi adalah dengan memvisualisasikannya. Alhamdulillah pada tanggal 19 Oktober 2012 lalu, seorang pria jawa rela terbang menyeberangi pulau untuk menyatakan janji setia untuk menjaga saya di hadapan Ayah, penghulu dan tamu undangan yang hadir.
Tak berapa lama setelahnya, November 2012 saya pun resmi merantau ke pulau Jawa mengikuti suami. Lalu di awal Januari 2013, saya menetap bersama suami di Paiton Probolinggo Jawa Timur, tak jauh dari tempat kerja suami.
Waktu terus bergerak, tujuh bulan setelahnya, kami mudik untuk yang pertama kalinya ke Bangka Belitung  untuk merayakan idul fitri bersama keluarga. Dulu saya menangis ketika diantarkan Ayah dan Ibu di bandara, kemudian berdo’a dalam hati, ” Ya Robbi, jangan jadikan ini penerbangan terakhirku ya Robbi, beri aku kesempatan untuk bertemu mereka lagi.” Alhamdulillah akhirnya saya pulang kembali seminggu sebelum lebaran. Sayangnya, karena pulang saat puasa, kami tak terlalu banyak meluangkan waktu untuk jalan-jalan. Selain karena cuaca Bangka yang amat panas, waktu cuti suami yang juga tak terlalu lama membuat kami ingin berlama-lama saja di rumah. Paling hanya pergi ke toko oleh-oleh atau pantai terdekat. Lalu, setelah sepuluh hari mudik di Bangka, kami pun kembali ke tanah rantau.
Singkat cerita, 20 Juli 2015 yang lalu, kami mudik untuk yang kedua kalinya. Alhamdulillah, kali ini sudah bawa jagoan. Hehe.

image

Pertama kali nyampe di Bangka, jepret sana jepret sini dulu. (sumber gambar: dok. Pribadi)

Kali ini masih sama sebenarnya, cuti suami cuma delapan hari kerja. Tapi  saya dan si jagoan bakal lama di Bangka. Yeay! Kami akan di Bangka selama dua bulan. 🙂
Karena mudiknya bukan pas puasa, saatnya kami mengeksplorasi wiskul yang ada di Bangka sambil jalan-jalan. Mau tahu kemana saja kami jalan-jalan? Check it out!
1. Jalan-jalan ke pantai
Karena Bangka Belitung adalah provinsi kepulauan yang memang dikelilingi laut seluruh pulaunya, maka kalau ke Bangka tapi belum main ke pantai belum afdol namanya.
Karena Abinya Uwais cuma sebentar di Bangka, kami hanya ke beberapa pantai saja yang ada di Bangka, tak sempat mengunjungi semua pantai. (Bisa sampai sebulan lamanya kalau semua pantai yang ada di Bangka dikunjungi. ~Lebay detected~).

~ Pantai pasir padi

image

Menunggu sunset sambil minum es kelapa dan siomay. (Sumber gambar: dok. Pribadi)

Pantai pertama yang dikunjungi adalah pantai pasir padi. Pantai yang berjarak kurang lebih 7km dari pusat kota Pangkalpinang ini cukup ditempuh 15 menit dengan sepeda motor dari rumah Ibu saya. Pasirnya putih, ombaknya juga tenang, airnya juga masih jernih. Kalau bukan karena datang kesitu sudah sore, mungkin saya sudah nyebur. 😀

image

Mandi pagi di pantai. ( sumber gambar: dok. Pribadi)

Seperti yang saya sebutkan di atas, kalau ke pantai pasir padi tuh bawaannya mau nyemplung. Maka keesokan harinya kami datang pagi-pagi untuk mandi di pantai.

~ Pantai Matras

Satu lagi pantai yang tak kalah indahnya dari pantai pasir padi adalah pantai matras.
pantai ini terletak di desa Sinar Baru, Kecamatan Sungailiat, di sebelah timur laut Pulau Bangka yang mempunyai jarak sekitar 40 km dari Pangkalpinang atau 7 km dari kota Sungailiat. Seperti umumnya pantai yang ada di Bangka Belitung, pantai ini memiliki pasir putih dan ditambah lagi bebatuan yang semakin memperindah pantai ini.

image

Berpose di pantai matras. (Sumber gambar: dok. Pribadi)

image

Keindahan pantai matras. (Sumber gambar: dok. Pribadi)

2. Berkunjung ke Bangka Botanical Garden (BBG)

Bangka Botanical Garden merupakan kawasan argowisata yang berdiri di atas tanah seluas 300 hektar. Kawasan hijau ini merupakan bentuk Corporat Social Responsibility dari sebuah perusahaan peleburan timah yang ada di Bangka. Disini, kita bisa berwisata sambil melihat peternakan sapi perah dan langsung mencicipi susu sapi, memberi makan kuda, menikmati rindangnya pohon pinus, melihat peternakan ikan, serta melihat kebun bibit sayuran seperti terong, sawi, sawit, kurma, dan buah naga.

image

Mengunjungi peternakan sapi perah. (Sumber gambar: dok. Pribadi)

image

Memberi makan kuda di BBG. (Sumber gambar: dok. Pribadi)

image

Berpose di antara pohon pinus. (Sumber gambar: dok. Pribadi)

image

Memberi makan ikan.(Sumber gambar: dok. Pribadi)

image

Berpose di kebun bibit. (Sumber gambar: dok. Pribadi)

Jangan khawatir, bila lelah setelah melihat-lihat dan berkeliling, ada restoran di pintu masuk BBG yang menyajikan berbagai menu yang menggoyang lidah.

image

image

image

Beberapa menu di BBG resto.(sumber gambar: dok. Pribadi)

3. Mencicipi Empek-empek dan Es Gula kabung
Sebelum terbentuk menjadi provinsi, Bangka Belitung merupakan bagian dari provinsi Sumatera Selatan. Karena itu, tak heran bila beberapa makanan khas daerah Palembang sana juga banyak terdapat di sini, salah satunya adalah empek-empek.
Sementara gula kabung adalah sebutan untuk gula merah atau gula Jawa. Jadi es gula kabung adalah es yang terbuat dari sirup gula merah atau gula kabung.

image

image

Empek-empek dan es gula kabung. (Sumber gambar: dok. Pribadi)

Harganya juga relatif murah. Satu empek-empek dihargai senilai Rp 2000. Sementara satu gelas kecil es gula kabung diberi harga Rp 5.000. Dengan merogoh kantong sebesar Rp 15.000 sudah bisa mengenyangkan perut yang sedang lapar. Nyam-nyam! 🙂

Sebenarnya masih banyak lagi objek wisata yang bisa dikunjungi di Bangka Belitung. Ada hutan pelawan, wisata pulau putri, pulau ketawai, dan mercusuar di pelabuhan mentok. Sementara kuliner yang lain yang wajib dicicipi adalah rusep, martabak manis, lempah kuning, dan masih banyak lagi lainnya. Sayangnya, karena cuti suami yang singkat, kami hanya bisa melakukan beberapa hal di atas. Nanti kalau Abinya Uwais balik ke Bangka untuk jemput kami, barulah berpetualang lagi. Psst, soalnya kalau jalan-jalan sama Abinya Uwais ada yang traktir. 😀

Wah, kalo setiap pulang selalu disajikan pemandangan yang indah seperti ini, gimana bisa nggak kangen sama kampung halaman?
Trus adakah hubungan jalan-jalan dengan nasionalisme?
Jelas ada dong! Apalagi jalan-jalan di negeri sendiri. Dengan jalan-jalan, kita akan membangun kenangan bersama tempat-tempat yang kita kunjungi. Bahkan terkadang kita akan jatuh cinta pada tempat yang kita kunjungi. Apalagi di Indonesia banyak tempat-tempat cantik nan indah yang akan dengan mudah membuat kita jatuh cinta. Nah, bila sudah jatuh cinta, tentu kita tidak akan berpaling pada lain hati bukan? Sehingga sejauh apapun kita melangkah dan betapapun indahnya tempat yang kita kunjungi, kita akan ingat untuk selalu pulang.

Itu pendapatku. Bagaimana menurutmu?

“Tulisan ini disertakan dalam lomba ‘jalan-jalan nasionalisme’ yang diadakan Travel On Wego Indonesia”.

Andai Bisa Terbang Gratis, Aku Akan Menemui Emak dan Ayah

image

      Antara kangen, kaget dan bahagia hanya karena sebuah tiket (sumber gambar: dok. Pribadi)

Sesungguhnya tinggal berjauhan apalagi beda pulau dengan orang tua memang tidak mengenakkan. Setiap hari selalu memikirkan bagaimana keadaan mereka, apa yang mereka kerjakan, dan banyak lagi lainnya. Namun, apa mau dikata, takdir telah dituliskan bahwa jodoh saya berada nun jauh di sana, di pulau Jawa. Walhasil, mau tidak mau sebagai istri saya harus membuntuti sang suami menyeberang jauh dari Bangka sang tanah kelahiran dan menemaninya di tempatnya mencari nafkah, Paiton Probolinggo Jawa Timur. Jarak yang teramat jauh, tiket pesawat yang mahal, suami yang tidak boleh terlalu sering cuti, menjadi alasan kenapa kami hanya bisa pulang paling sering setahun sekali.
Terakhir kali pulang yaitu Agustus 2013 yang lalu. Setelah itu saya hamil dan melahirkan, makanya sampai sekarang belum bisa pulang. Sudah hampir dua tahun lamanya. Hiks.

Meski teknologi dalam berkomunikasi sudah semakin canggih, namun bertatap muka langsung adalah obat yang paling mujarab bagi mereka yang merindu.

Karenanya, ketika Traveloka mengadakan kontes blog berhadiah tiket pesawat citilink pp dan menanyakan siapa orang yang paling ingin saya temui, maka dengan pasti jawabannya adalah Emak & Ayah.

image
              Mereka yang kurindukan

Setelah bertemu, apa yang ingin dilakukan?

Ada banyak hal yang ingin saya lakukan bersama kedua orang tua saya. Apalagi bila saya mengingat masih sedikit sekali kebaikan yang baru saya lakukan untuk Emak & Ayah. Karenanya, bila nanti saya bertemu, saya ingin meninggalkan kenangan betapa sesungguhnya saya menyayangi mereka dengan cara melakukan banyak hal baik bersama. Apa sajakah itu?

1. Memperbaiki manajemen toko Emak

image

Harapan saya terhadap toko Emak suatu saat (sumber gambar:disini )

Ketika ditelpon, Emak sering sekali
curhat betapa lelahnya mengurus sebuah toko kelontong. Kelihatannya memang simple, namun cukup menguras tenaga. Sehingga kadang-kadang Emak kurang istirahat. Karena itu, bila nanti saya pulang, sedikit demi sedikit saya akan mencoba memperbaiki sistem kerja Emak di toko. Semoga saja bisa dan berhasil.

2. Memasak lebih banyak untuk Ayah dan Emak

image

Bubur ayam buatan sendiri. (Sumber gambar: dok. Pribadi)
Dulu saya jarang sekali masak di rumah :(. Waktu saya banyak di luar untuk kegiatan kuliah dan organisasi. Ketika pulang nanti, saya ingin memasak lebih banyak dan sering untuk mereka. Semoga Emak dan Ayah suka ya. Aamiin.

3.Mengajak Emak & Ayah berlibur ke tanah kelahiran

image

Salah satu rumah di desa Pejem. Sekarang beberapa rumah sudah lebih modern.(sumber gambar: disini)

Emak dan Ayah dilahirkan di desa yang sama, Pejem. Sebuah desa nun jauh dari kota yang masih lumayan terpencil. Dulu ketika kecil saya kesana, orang-orang hanya bisa menonton tv dari rumah seorang pedagang keturunan Tionghoa, karena saat itu listrik belum masuk desa Pejem. Berita baiknya, sekarang listrik sudah masuk ke Pejem dan bila malam tidak akan sesepi ketika saya kecil dulu. Mungkin Emak dan Ayah akan senang bila diajak sedikit bernostalgia di tanah kelahirannya.
4. Liburan ke Ketawai

image

  Indahnya pulau Ketawai. (Sumber gambar:disini )
Ketika saya sudah jadi penduduk Jawa, kadang saya merasa bukan orang Bangka asli. Haha.
Kenapa? Karena ternyata ada banyak tempat indah di Bangka Belitung yang belum saya kunjungi. *tear*
Salah satunya Ketawai. Di pulau ini, ada banyak sekali pohon kelapa. Bahkan jumlahnya mencapai 1000 buah. Airnya yang jernih, pasirnya yang putih dan keindahan panorama pantainya, bisa menjadi pilihan yang tepat untuk rehat sejenak dari rutinitas. Bila mengajak Ayah dan Emak kesini, mungkin bisa merefresh sedikit buat Ayah dan Emak.

5. Liburan ke hutan Pelawan

image

Jembatan merah di hutan Pelawan. (Sumber gambar:disini)
Sebelum ke Ketawai, terlebih dahulu kami akan mampir ke wisata hutan Pelawan. Menurut cerita teman-teman saya, di sana udaranya sejuk. Banyak tumbuhan hijau di sana. Bahkan nanti Ayah dan Emak bisa diajak memanen madu pahit dari kayu pelawan. Semoga bisa untuk obat bagi Emak yang sering mengeluh kecapekan.

Setelah merencanakan apa saja yang ingin dikerjakan, saatnya merinci detail perjalanan dari Paiton menuju Pangkalpinang Bangka. Untuk menuju ke Bangka, saya harus memilih transportasi melalui pesawat setelah sebelumnya melewati perjalanan darat selama 4 jam. Pesawat yang dipilih adalah citilink. Saya baru sekali naik citilink dan dari pengalaman sekali itu, membuat saya tidak jera bila suatu saat harus terbang dengan citilink lagi. Pramugarinya ramah, pesawatnya ontime. Saya akan berangkat tanggal 13 Juni dan pulang tanggal 23 Juni.
image

image

image

Karena takut tidak keburu, soalnya saya memilih penerbangan paling pagi, saya memutuskan untuk menginap di Surabaya.
image

image
Mengapa hotel walan syariah? Menurut review dari aplikasi traveloka, jarak hotel dengan bandara cuma 2,87 km, selain itu ada fasilitas antar jemput bandara, jadi saya tidak perlu repot mencari taxi. Selain itu fasilitas kamarnya baik dan bersih.
Aplikasi traveloka memang memudahkan penggunanya. Apa saja kelebihan lainnya?
1. Harga tiket di traveloka selalu lebih murah dibandingkan travel lainnya.
2. Review hotel memudahkan pengguna untuk tahu jarak, fasilitas, dan rating pengguna hotel yang lain.
3. Cara menggunakan aplikasi ini mudah dan gak ribet. Apalagi orang awam seperti saya, hehe.
4. Banyak promo menarik dan sangat membantu pengguna.

Demikianlah mimpi saya bila saya mendapat tiket gratis dari traveloka.

Karena saya percaya, salah satu mewujudkan mimpi adalah dengan mwnuliskannya. 🙂