Ayo Kunjungi Paiton dan Nikmati Segala Pesonanya

Ayo Kunjungi Paiton dan Nikmati Segala Pesonanya. Dear readers (sedikit menghayal pura-pura pembacanya banyak, hihi), ada yang sudah pernah ke Paiton? Atau minimal pernah mendengar kata Paiton sebelum ini? Bukan Phyton lho ya, itu mah nama ular, hehe. Paiton yang ini nama sebuah tempat.

Kalau belum tahu apa dan dimana Paiton, saya gambarkan sedikit ya. Paiton adalah sebuah desa yang terletak di antara Surabaya dan Bali, jadi bila kita pergi ke Bali dengan menempuh jalur darat, niscaya kita akan melewati desa Paiton yang terletak di kawasan jalur pantura. Lebih lengkapnya, Paiton adalah nama desa sekaligus kecamatan yang terletak di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Jarak tempuh Probolinggo-Paiton sekitar 1,5 jam, namun bisa disingkat hanya 45 menit saja dengan bermotor cepat. Nah, bila kita berangkat dari Surabaya ke Paiton dengan bus, kita cukup menempuh perjalanan sekitar 3 jam saja (belum termasuk waktu untuk menunggu bus berangkat dan macet).

Pertama kali saya menginjakkan kaki di Paiton adalah akhir 2011 yang lalu, waktu melaksanakan PKL (Praktik Kerja Lapangan) di salah satu PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) swasta yang ada di Paiton. Awalnya saya dan teman saya, Adek Rahayu merasa tidak betah tinggal di Paiton. Masakan di sini agak asing bagi kami, apalagi kami orang Sumatera terbiasa makan olahan ikan. Di sini masakannya banyak dari olahan ayam dan daging, kalaupun ada ikan paling cuma digoreng atau di pepes. Tidak ada empek-empek, tekwan, otak-otak, bakwan (bukan bakwan Malang ya, bakwan Bangka sejenis empek-empek rebus dan berkuah), dan makanan olahan ikan lainnya.

Aneka olahan ikan
Makanan olahan ikan yang banyak ditemukan di Bangka, dari kiri ke kanan: empek-empek, otak-otak, tekwan, dan bakwan. (Gambar diambil dari berbagai sumber).

Lama kelamaan, kami pun mulai menikmati suasana di Paiton, karena secara geografis, desa ini berdekatan dengan pantai seperti di Bangka. Selain itu, Paiton juga berdekatan dengan gunung, karenanya, sebagian besar mata pencaharian orang lokal di sini adalah petani dan nelayan. Selain itu, harga ikan dan sayuran di sini juga relatif murah bila dibandingkan dengan kota besar lainnya apalagi di Bangka. Bahkan hanya dengan Rp 500 saja kita masih bisa makan, di sini seikat bayam atau kangkung atau sepaket sop bisa dibeli seharga Rp 500. Murah sekali bukan?

Kebetahan saya di Paiton pun diuji ketika untuk kedua kalinya ketika akhir 2012 yang lalu saya kembali ke Paiton. kali ini bukan sebagai mahasiswa PKL, melainkan sebagai istri dari seorang karyawan PLTU swasta tempat kami praktik dulu. Hidup memang tak bisa ditebak, awalnya saya pikir tak kan pernah kembali lagi ke Paiton, ternyata saya malah menetap di sini.

Setelah menetap di Paiton, mau tak mau saya harus belajar mencintai desa kecil ini, dengan cara mencari segala celah kebaikan dan pesona Desa Paiton. Seperti yang saya tuliskan di atas, Desa Paiton berdekatan dengan pantai dan gunung. Sehingga bila hendak ke pantai, kami cukup menempuh perjalanan dengan motor kira-kira 15 menit. Pantai yang paling dekat dengan rumah adalah Pantai Harapan (sekarang namanya diganti menjadi Pantai Dutah), sebuah lahan konservasi bakau sebagai bentuk CSR dari salah satu PLTU swasta yang ada di Paiton. Nah, bila menempuh perjalanan lebih jauh, sekitar 30 menit dengan motor, kita bisa menikmati keindahan Pantai Tampora, namun sudah tidak termasuk kawasan Paiton lagi melainkan Kabupaten Situbondo. Bila diteruskan lagi sekitar 30 menit, yaitu 1 jam-an dari Paiton, kita bisa mengunjungi Pantai Pasir Putih yang ada di Besuki, Situbondo.

 

Pantai Dutah Paiton
Menikmati senja di Pantai Dutah Paiton.
Pantai Tampora Situbondo
Pesona Pantai Tampora, (sumber gambar: doc. pribadi).
Pantai Pasir Putih Stubondo.
Pantai Pasir Putih Situbondo, doc. pribadi.

Selain pantai, karena dekat dengan gunung, pesona lain dari Desa Paiton adalah pemandangan sawah yang selalu terlihat sepanjang mata memandang. Di sini, bahkan ketika mengemudi di jalan raya, kita juga bisa menikmati keindahan padi yang ditanam para petani, mulai dari masih hijau, sampai kuning ketika ia siap dipanen.

Paiton
Pesona sawah hijau Paiton, doc. pribadi.

Setelah pantai dan sawah nan hijau, pesona lain dari Paiton adalah menjamurnya jajanan kaki lima yang murah dan menggoyang lidah, tentu terlebih dahulu harus survey mana jajanan kaki lima yang enak ya, karena ada beberapa yang asing di lidah saya.

Setelah menetap selama tiga tahun lamanya di Paiton, kini bila sedang malas masak atau mau jajan, setidaknya ada lima jajanan kaki lima favorit saya di Paiton, apa saja itu? Check it out!

1.Es oyen Cahaya 99

 Es oyen Paiton
Es oyen Cahaya 99
Es oyen Paiton
Slurp, nikmatnya es oyen khas Paiton.

Es oyen yang terletak persis di depan kuburan umum desa Paiton ini punya ciri khas tersendiri dibanding es oyen pada umumnya. Biasanya es oyen hanya terdiri dari mutiara, jeli, alpukat, lemon, kelapa, kemudian dicampur susu dan santan plus gula serta bongkahan es, terkadang juga ditambahi sedikit duren sebagai aroma. Nah, untuk es oyen yang satu ini ditambahi sesendok ketan yang sudah diberi pewarna kuning. Es oyen yang ini cocok sekali kalau diminum di siang hari yang panas. Harga es oyen yang mulai buka sekitar jam 10an pagi dan tutup sekitar jam 4an sore ini pun bersahabat sekali dengan kantong, cuma Rp 4000 saja kita sudah bisa menyeruput manis dan segarnya es oyen khas Paiton ini.

2. Terang bulan mini Batavia

Terbul mini Paiton
Terang bulan mini Batavia di Paiton
Terbul mini Paiton
Mantapnya terbul mini Paiton, nom-nom.

Sebenarnya saya mau protes sama pemilik jajanan yang satu ini. Kenapa? Soalnya di depan gerobak jualannya ditulis “khas Bangka”, padahal saya tahu betul waktu jajanan ini dibuka untuk pertama kalinya dulu, bahkan di Bangka belum ada yang jualan terang bulan mini. Soalnya yang khas di Bangka adalah martabak manisnya, bukan terang bulan mini.

Tapi berhubung jajanan ini rasanya enak dan murah, saya maklumilah kemauan mereka yang mengaku khas Bangka padahal yang jualan pun tak tahu bahasa Bangka, haha. Kalau jajanan kaki lima yang satu ini berada tidak jauh dari Indomearet pertigaan Paiton, di samping toko kelontong dan kafe Booster Paiton.

Biasanya jajanan ini buka sekitar jam setengah enam sore dan baru tutup bila persediaan adonan sudah habis. Bila sedang ramai pembeli, biasanya sekitar jam 8 malam gerobaknya sudah dibersihkan dan siap-siap ditutup. Satu buah terang bulan mini rasa coklat keju bisa dibeli Cuma dengan Rp 2500 saja, irit kan? Haha.

Terbul mini Paiton
Daftar harga terbul mini Paiton.

3. Sate ayam Cak Arif

Ini adalah penolong kami dikala masih menjadi mahasiswa PKL di Paiton , juga penolong dikala saya sedang tidak mood untuk memasak ketika hamil si kecil dulu. Sekitar jam 4 sore, Cak Arif mulai keluar dari rumahnya menuju pertigaan Paiton, di samping Indomaret. Biasanya sekitar jam 5 sore Beliau sudah nongkrong di tempat jualannya. Di sebelahnya, ada juga yang jualan roti goreng, tahu tek, pisang molen, dan mie goreng. Sesekali saya pun membeli jajanan di sebelah Cak Arif, tapi yang paling sering saya beli adalah sate Cak Arif, karena rasanya enak, murah, dan cocok untuk lauk. Apalagi kalau saya sedang malas masak, hihi. Satu tusuk sate ayam Cak Arif bisa dibeli dengan Rp 700 saja, bila mau ditambah lontong, cukup bayar Rp 1000 saja.

4. Siomay dan batagor khas Tasik Bang Arya

Siomay Paiton
Siomay khas Tasik di Paiton.

Kalau jajanan kaki lima yang satu ini, baru buka beberapa bulan belakangan. Tapi jangan salah, begitu tahu ada siomay dan batagor yang mangkal di depan Swalayan Usaha Bakti Paiton, saya dan suami langsung memfaforitkan jajanan khas Tasik ini, apalagi kalau lagi malas makan nasi tapi mau yang agak berat. Bumbu kacangnya pas, bahkan untuk siomay lengkap dengan pare rebusnya lho. Saya dan suami lebih memilih batagor dibandingkan siomaynya, mungkin karena digoreng dulu, jadi ada gurih-gurihnya gitu, hehe. Seporsi lengkap batagor plus telor hanya Rp 8.000 saja, bila mau tanpa telor, cukup bayar Rp 5.000 saja seporsi. Batagor dan siomay ini buka di siang hari, sekitar jam 11 siang sampai malam, sekitar jam 9. Bila siang hari, karena tempat jualannya menghadap matahari, gerobak siomay nongkrong di depan Koperasi Usaha Bakti, barulah sorenya pindh ke depan swalayan.

5. Bakso keliling Pak Rawi

Bakso Paiton
Bakso Cak Rawi Paiton.
Bakso Paiton
Mantapnya bakso Cak Rawi Paiton.

Bakso Pak Rawi ini memang tidak dijual dijual di sebuah tempat atau warung, melainkan dijual keliling. Sekitar jam 3 sore, barulah terdengar bunyi mangkok beradu dengan sendok yang  menandakan Pak Rawi sudah datang. Semangkuk bakso lengkap dengan pentol jumbo cuma seharga Rp 5.000, bila mau membeli pentolnya saja, cukup bayar Rp 500 per pentol. Jangan khawatir, bila Pak Rawi tidak datang, kita bisa order melalui sms di 085330396071.

Itulah beberapa pesona Desa Paiton yang selama ini menjadi salah satu alasan saya untuk terus bertahan menemani suami di desa kecil ini. Memang fasilitas di sini tidak selengkap dan semewah seperti yang ada di kota besar umumnya, namun berada di Paiton membuat saya merasa sangat beruntung karena bisa menikmati berbagai keindahan ciptaan Ilahi yang ada di sini. Jadi, kapan mau ke Paiton?

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Advencious dan JengSri First Giveaway”

Iklan

7 pemikiran pada “Ayo Kunjungi Paiton dan Nikmati Segala Pesonanya

  1. Kalau baca Paitonnya sih keinget langsung PLTU. Tapi kalo soal Paiton adalah desa kecil saya baru ngeh. Asyik kayaknya Mbak suasananya…bisa sepedaan di dekat yg hijau2 begitu. Pantainya juga bagus2.

    Sukses ya Mbak..GA nya. Fighting! #koreamodeon

    1. Aja-aja fighting!! 🙌
      Iya bagus-bagus, meskipun bukan kawasan Paiton lagi, tapi lumayan dekat sama Paiton, ayo main ke sawah Paiton… 😊
      Makasih Mba’..

  2. Hallo mba saya ada mau ke paiton minggi depan sekitar tgl 11 okt.. di sana ada penginapan ngga mba.. dan sebaiknya dr surabaya saya ambil bus jurusan apa yah . Atw ada travel lgs ke paiton

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s