KPK Itu Bernama Istri

Korupsi, tak pernah sepi untuk diperbincangkan. Seperti yang diberitakan baru-baru ini, tentang oknum yang terbukti melakukan korupsi melalui tindak gratifikasi sebesar 11 miliar rupiah. Untuk menyamarkan transaksi haram itu, uang dikirim melalui rekening sang istri. Dari kasus tersebut, bisa kita lihat bahwa siapapun bisa terlibat dalam tindakan korupsi, disengaja maupun tidak. Apalagi orang-orang terdekat pelaku, termasuk sang istri.
Sebagai pengatur keuangan rumah tangga, seorang istri harusnya bisa mengontrol keuangan rumah tangga serta mengetahui sumber keuangan itu berasal, termasuk perkiraan besarnya pendapatan suami. Sehingga ketika uang yang diterima suami melebihi pendapatan biasanya, harusnya ini menjadi pertanyaan bagi sang istri, “darimana uang tersebut berasal?”
Peran aktif istri sangatlah penting, bila istri mengetahui bahwa suami mendapat uang dengan jumlah lebih, seharusnya istri tidak serta merta langsung menerimanya, melainkan menanyakan dan telusuri dari mana uang itu berasal, apabila ada hal yang menyalahi aturan maka istri langsung bisa memperingatkan sang suami. Selain itu, seharusnya istri bisa mencegah suami melakukan tindakan buruk seperti korupsi, dengan cara mensyukuri semua pemberian suami tanpa menuntut melebihi kemampuannya.
Pada dasarnya, salah satu tujuan suami mencari nafkah adalah memenuhi kebutuhan keluarga. Jadi, bila keluarga dan orang-orang terdekat enggan menerima uang yang didapatkan dari jalan yang haram, tentunya para suami juga tak mau membawa pulang uang haram tersebut. Hal ini berlaku bagi semua lini pekerjaan. Oleh karena itu, meski bukan pejabat, tiap kali suami berangkat kerja, tak lupa saya berpesan, “Jangan bawa rizki haram, biar sedikit yang penting halal,” atau sesekali saya bercanda, “Biar banyak yang penting halal.”

Alhamdulillah dimuat di gagasan Jawa Pos edisi 12 November 2013 dengan beberapa editan, semangat menulis.. *\(^_^)/*