Lenovo A6000: Sahabat Tepat Bagi Pemburu Barang Hemat

image

(Ilustrasi koneksi internet terputus saat menggunakan gadget.Sumber: doc. Pribadi)

Pernah mengalami hal seperti gambar di atas? Bila iya, toss! berarti kita senasib. Gak enak banget kan ya? Terutama buat Emak – emak pemburu diskon seperti saya, hehe. Padahal kalo belanja online di lazada.co.id itu bisa dapet voucher belanja sampai dengan lima ratus ribu rupiah. Wow banget kan? Udah lah dapet barang limited edition yang hanya dijual saat flash sale di lazada.co.id, dapet potongan harga lagi. Tapi itu semua tinggallah kenangan gegara jaringan smartphone nya lelet bin lemot, heuheu T_T. Jadilah kalah cepet sama yang lain, keburu direbut sama yang lain deh. Apa boleh buat, namanya bukan rejeki.
Nah, agar kejadian yang sama tidak terulang lagi, saya pun memutuskan untuk mencari smartphone baru yang lebih handal dari yang lalu. Yang jaringannya super cepet, praktis untuk dibawa kemana-mana dan gak ribet, trus tampilannya yang gak norak alias eye catching, dan yang terpenting harga terjangkau. (Emak-emak sejati ya 🙂 ). Walhasil, setelah browsing dan nanya-nanya si profesor google, saya pun menjatuhkan pilihan pada Lenovo A6000. Kok bisa gitu? Emang kenapa?
Mau tahu? Nih alasannya:
1. Pada dapur pacunya, Lenovo A6000 sudah dibekali chipset Qualcomm MSM8916 Snapdragon 410 dengan CPU Quad core 1.2GHz Cortex A-53, plus RAM 1GB yang sangat cukup untuk menjalankan beberapa aplikasi sekaligus secara smooth. Jadi meskipun sambil belanja online, kita masih bisa buka aplikasi lainnya gak khawatir kalo hp bakal ngadat karena terlalu banyak buka aplikasi.

2. Sudah support jaringan terkini 4G LTE sebagai kelebihannya.
Teknologi ini memungkinkan kita mendownload dengan kecepatan sampai dengan tingkat 300 Mbps dan upload 75 Mbps (sumber: wikipedia.co.id). Dengan kecepatan segitu, tentu akses belanja online terutama saat flash sale yang musti rebutan sama ribuan bahkan jutaan orang jadi cepat bingits kan? Nah, berhubung tidak di semua tempat tersedia jaringan LTE, jangan khawatir Lenovo A6000 juga dibekalkan dengan jaringan 3G HSDPA, juga jaringan 2G GSM, sehingga pengguna dapat selalu terkoneksi internet meskipun saat smartphone tidak terjangkau 4G.

3. Tampilan gak norak dan praktis
Maunya sih kalo punya smartphone itu yang ukurannya gak besar-besar banget sampe harus selalu dipegang dengan kedua tangan saking besarnya, duh ribet ya, apalagi buat para Emaks yang seringnya online sambil ngapa-ngapain. Tapi juga gak yang terlalu kecil sampe mata harus mencolot saking kecil layarnya. Nah, Lenovo A6000 ini desainnya praktis banget. Smartphone canggih ini sudah dibekali ukuran layar yang tidak terlalu lebar yaitu 5 inci beresolusi HD 720p atau 1280 x 720 pixel yang didukung teknologi IPS (In-Plane Switching) dan mampu menghadirkan gambar dengan kepadatan 294 pixel per inci. Jadi mata gak sepet deh kalo harus berlama-lama nyari barang yang diskonnya oke di Lazada.co.id, hehe.
Dengan dimensi layar tersebut,  bobot hp ini cuma 128 gram, lebih ringan dari 1 buah apel yang kita makan! Bukan hanya itu, buat kamu yang bosen punya smartphone warnanya hitam melulu, Lenovo A6000 juga tampil dengan warna-warna ceria namun tetap eye catching.

image

(Beberapa pilihan warna Lenovo A6000, sumber gambar: http://www.noypigeeks.com)

4. Harga terjangkau
Ini nih yang paling penting buat seorang Emak pemburu diskon seperti saya. Dengan berbagai kecanggihan dan kemudahan yang ditawarkan, kita cukup merogoh kocek sebesar 2 jutaan aja kalo mau memiliki smartphone ini. Belum lagi kalo lagi beruntung, kita bisa dapat potongan harga sampe 200 ribu kalo belinya di lazada.co.id. Wih, asyik banget kan? Cukup duduk manis di depan gadget (kalo gadgetnya Lenovo  A6000 bisa nyambi yang lain juga kayaknya) trus belanjanya di lazada.co.id, kita bisa dapetin gadget canggih dan limited edition dengan harga yang miring pula. 🙂
Nah, kayaknya cukup dengan empat kelebihan di atas  udah buat saya mantep deh menjadikan Lenovo A6000 sebagai ganti gadget saya yang lama. Kalau mau spesifikasi lebih lanjut bisa dilihat di tabel ya.
Buat kamu yang sependapat dengan saya, yuk segera melipir ke http://www.lazada.co.id dan adopsi smartphone canggih ini, siapa tahu kamu salah satu yang beruntung mendapatkannya. (Psst, info yang beredar, tanggal 19 Maret 2015 ini bakalan ada flash sale Lenovo A6000 di http://www.lazada.co.id, tunggu apalagi? Grab it fast ya!)

image

(Spesifikasi Lenovo A6000, sumber gambar: http://www.dhanjeung.com)

Nikah Yuk!

“Menikah adalah Bahagia”

Bahagia, karena dengan menikah InsyaAllah kau akan menyempurnakan
separuh agamamu.
Bahagia, karena dengan menikah kau akan mendapatkan seseorang yang
senantiasa berada di dekatmu, kapan pun itu.
Bahagia, karena kau mendapatkan seseorang yang akan mencintaimu tulus, bahkan di saat kau merasa kau tak pantas untuk dicintai.
Bahagia, karena kau akan mendapatkan seseorang yang akan senantiasa mendoakanmu melalui diamnya, geraknya, atau doanya.
Bahagia, karena akan ada dia, yang tak kan rela bila kau mulai menjauh dari cahaya Nya.
Bahagia, karena ternyata kau akan mendapatkan pasangan konyol dengan
jiwa humor yang sama,
Bahagia, karena dia akan selalu ada mendengarkan semua celotehanmu,
bahkan hingga kau sendiri pun tak mau mendengarnya.
Bahagia, karena kau punya guru baru yang siap menjawab semua
pertanyaan-pertanyaanmu dan mengajarkan hal2 baru yang super padamu.
Bahagia, karena kau punya teman baru yang akan selalu siap membantumu
memecahkan semua masalahmu (bersama).
Bahagia karena kau tak perlu malu bila kepergok (pegangan tangan) di depan
orang lain, karena sekarang ia mahrommu.
Bahagia karena kau bebas melakukan apapun bersamanya (lelakimu) itu.
Bahagia, karena kau akan menemukan momen-momen kebahagiaan baru,
yang bahkan dulu kau tak pernah membayangkannya.
Dan kata-kata ku tak mampu menguraikan semua bahagia itu, hingga kau
sendiri yang merasakannya… ^_^

Paiton, 17 Februari 2013
dalam 424.800 detik bersamamu
Ummi ♥

Tulisan di atas ditulis ketika usia pernikahan kami masih 4 bulanan, masih manten anyar ceritanya. 🙂
Ketika banyak teman yang menanyakan bagaimana rasanya menikah Jul? Terciptalah tulisan di atas.
Nasib memang kadang tak bisa di tebak. Jika Dia telah memutuskan, maka tak bisa kita menghindar. Jadi ceritanya, dulu ketika masih kuliah, saya merencanakan akan menikah di usia 24 tahun. Usia 22 tahun lulus kuliah, setelah itu bekerja sambil nabung selama dua tahun, di usia 24 tahun barulah membuka usaha lalu menikah. Tapi ternyata Allah memutuskan yang lain. Di akhir tahun 2011 saya bertemu seorang lelaki yang ingin mengajak saya menikah. Tanpa proses yang panjang, Alhamdulillah 19 Oktober 2012 kami pun menikah. Saat itu usia saya masih 22 tahun. Dua tahun lebih cepat dari perkiraan. Alhamdulillaah 🙂
Ngomongin nikah emang gak ada habisnya ya, mulai dari prosesnya, persiapannya, pesta nikahnya, sampe suka duka selama menjalaninya. Alhamdulillaah sekarang pernikahan kami sudah memasuki usia ketiga tahun. Masih sangat muda memang. Bila diibaratkan seorang balita, di usia ini sedang asyik-asyiknya bereksplorasi, sudah belajar mandiri. Alhamdulillah Allah juga telah menghadiahi kami seorang bayi lucu, Uwais Alharits, yang membuat pernikahan kami semakin berwarna. Alhamdulillah, jika dulu bukan jawaban iya yang kukatakan pada suami, entah seperti apa kehidupan yang akan aku jalani saat ini. Mungkin tidak akan seseru bila bersama bocil dan suami.  Nah, buat kamu-kamu yang masih takut untuk menikah, tunggu apalagi?
Nih aku kasih bocoran ya, betapa sesungguhnya menikah itu dipenuhi keberkahan, InsyaAllah, tanya kenapa?

1. Karena menikah adalah ibadah

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. An~nur: 21)

Yang sering dapet undangan nikah pasti sering baca arti surat An-Nur ayat 21 di atas kan?
Ya, menikah adalah perintahNya, sunnah RasulNya, dan sebuah fitrah yang harusnya dilalui seorang muslim. Jika melalui menikah kita telah melakukan sebuah perintah Allah dan sunnah, apalagi semua kebaikan yang kita lakukan di dalamnya. Gimana? Asyik kan? Sudahlah membahagiakan, eh dapet bonus pahala pula. 🙂

2. Akhirnya menemukan belahan jiwa yang dicari ( duh, bahasanya)
Sebelum menikah saya kemana-kemana seringnya sendirian atau bareng temen. Lebih sering sendiri sih, karena aktivitas saya padat (sok sibuk ceritanya, hehe). Kalau sama teman, ngapa-ngapainnya berbatas. Kalo teman lagi sibuk sama keluarganya, jelas gak boleh diganggu gugat. Nah, kalo sama suami, no limited euy. It’s free to do everything! Minta dianterin dan ditemenin kemana-mana, oke. Minta dibantuin apa-apa, oke. Berbagi cerita, oke. Pokoknya oke semuanya, hehe.
3. Bisa punya krucil-krucil yang imut-imut dan ngegemesin.
Di rumah krucilnya baru satu. MasyaAllah itu pun keluarga besar udah heboh banget. Meski harus menunggu satu tahun lamanya, ketika akhirnya Uwais ada, bahagianya tiada tara!
Buat yang udah menikah tapi belum punya krucil, saya do’akan segera diberi ya, Aamiin.
4. Punya banyak momen-momen kebahagiaan baru
Kalo dulu pas masih sendiri, bahagianya kan masih tunggal ya, nah setelah berdua bahagianya jadi jamak alias banyak kan ya? (Rumus darimana ini :)). Bahagia karena nanti punya keluarga baru yang seru. Bahagia ketika nanti bisa tumbuh dan tua bersama.

Udah, segitu aja dulu. Itu baru kulit luarnya aja lho, belum yang dalem-dalemnya. Nanti kalo semakin banyak kesannya mendikte dan dibuat-buat, karena menikah bukan teori yang harus dihapal rumusannya ya, tapi  menikah itu adalah proses yang harus dilalui dan dinikmati bersama. Mau tahu lebih lanjut? Yuk nikah dan ciptakan bahagiamu bersamanya ( ngomporin it’s detected).:) Yakin deh nanti kamu bisa menambahkan jauh lebih banyak lagi angka-angka keberkahan berikutnya.

Menikah memang tidak melulu soal tawa, karena kadang ada tangis yang menghiasinya,
Menikah juga tak melulu soal jalan yang mulus karena bisa jadi kadang kau temui jalan ujian berliku di dalamnya,
Namun, dengan itu semua bukan berarti kita harus mundur dan mengatakan tidak untuk menikah bukan? Karena bila kau percaya, apapun ujiannya, semata agar mahligaimu lebih kokoh bersamanya.

Paiton, 18 Maret 2015
Ummi

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway 3rd Anniversary The Sultonation”

image

[Hijabku Karena…] Berjilbablah Agar Disayang Allah

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(Qs. Al~Ahzab:59)

Hidayah datang dengan berbagai cara, dan dengan cara inilah aku menjemput hidayah…

Suatu senja di Pangkalpinang 2009 silam….
“ Aji *, masih ada makanan apa?” Tanyaku dengan sangat antusias, karena
saat itu lapar sangat menusuk perutku yang memang sudah kelaparan sejak pulang kuliah tadi.
“ Udah gak ada lagi, makanannya udah habis semua!” Ungkap Aji tersebut,
sembari memberi isyarat tangan menyuruhku untuk pergi menjauh.
“ Tapi itu masih ada makanannya, Ji?” Tambahku sedikit memaksa karena kulihat masih ada beberapa bahan makanan di warung itu.
“ Kami ‘gak jual makanan yang lain, kami hanya jual mie yang pake daging
babi, jadi ‘gak usah beli disini!” Jelasnya lagi meyakinkan sambil terus mengisyaratkan tangannya untuk mengusirku.
Alhamdulillah, singkat tapi begitu berarti untukku, jika saja bukan karena jilbab yang kupakai, tentu telah mengalir zat haram dalam tubuh ini. naudzubillah tsumma na’udzubillah… Saat itu sepulang kuliah aku langsung mengkuti seminar di Pangkalpinang. Kelelahan karena harus bersepeda motor dari kampus-tempat seminar selama lebih kurang 1 jam, ditambah perut yang belum terisi sejak sore dan pikiran yang dijejali dengan teori, membuatku lupa bahwa di kawasan itu memang banyak warung yang menjual aneka olahan makanan dengan babi.Pangkalpinang memang dihuni oleh banyak orang tionghoa, jadi di beberapa titik tertentu bisa dengan mudah ditemukan warung-warung pinggir jalan yang menjual babi sebagai hidangan utamanya. Apalagi bagiku yang memang memiliki garis keturunan tionghoa ini, tentu akan dengan mudah orang mengira bahwa aku bukanlah seorang muslimah bila tanpa jilbab.
Mungkin benar jika pepatah bijak mengatakan bahwa sesungguhnya
sesuatu yang besar adalah sekumpulan dari hal-hal yang kecil. Dan kurasa
itu yang terjadi padaku. Mengambil salah satu keputusan terbesar dalam
hidupku, hanya karena satu pernyataan singkat yang sederhana.

“ Berjilbablah Jul, karena dengan berjilbab maka kau akan disayang guru.”

Begitu Mulyati, ~temanku yang juga berjilbab sejak SMP~ mengajakku berjilbab saat
aku akan mendaftar menjadi siswa SMP. Dari pernyataan
singkat inilah yang kemudian memantapkan Julia yang masih lugu untuk
berjilbab. Alhamdulillah.
Aku, ~yang memang saat kecil lingkungan di sekitar rumah kami masih
lumayan agamis~ setelah mendengar ajakan teman sepermainanku itu
dengan mudahnya kemudian memantapkan hati untuk berjilbab. Hal itu pun
aku utarakan pada orang-orang di rumah. Tak banyak yang berkomentar,
hanya Abang tertua yang sesekali memberikan pernyataan kurang setuju dengan
kemauanku, mungkin karena jilbab belum terlalu populer saat itu. Mamak
juga tak banyak memberi komentar seingatku, namun tindakan
persetujuannya sudah lebih dari cukup. Beliaulah yang kemudian setia
menemaniku mencari baju panjang putih, rok biru panjang, baju dan rok
pramuka panjang, jilbab putih dan coklat hingga daleman jilbab untuk
persiapanku menjadi murid SMP.
Aku yang masih lugu tak terlalu banyak berpikir saat itu, mungkin kalimat
temanku itu begitu menyihirku sehingga tak pernah terbersit olehku saat itu
bahwa aku harus menjilbabkan hatiku terlebih dahulu atau harus memiliki
persediaan baju panjang dan jilbab yang banyak dulu barulah berjilbab.
Bahkan saat pertama berjilbab di SMP dulu, aku hanya memiliki satu jilbab
putih dan coklat yang dicuci seminggu sekali. Barulah saat pergantian
semester Mamak membelikan jilbab yang baru lagi. Alhamdulillah.
Pro dan kontra dari sekitar memang ada saat itu. Bahkan ada kakak
kelas yang tahu sifat asliku saat SD ~ sedikit agak tomboy memang~pernah
mengatakan aku mirip ubur-ubur katanya, entahlah dari sisi mana
penampilanku dengan jilbabku ini kelihatan seperti ubur-ubur baginya.
Beberapa teman SD ku yang lain juga saat itu sepertinya tidak terlalu
menyukai aku dan jilbabku, sok alim begitu mereka bilang. Alhamdulillah itu
hanya terjadi beberapa minggu saat pertama aku berjilbab, karena meski
berjilbab aku tetap bisa menunjukkan prestasiku saat itu. Alhamdulillah, saat
SMP meski berjilbab aku selalu bisa meraih peringkat tiga besar di
sekolahku. Mungkin prestasi inilah salah satu alasan berkurangnya kata-kata
kurang nyaman yang kudengar dari orang-orang sekitar saat mereka melihat
penampilan baruku.
Waktu pun berlalu dengan cepatnya. Alhamdulillah, rasanya bersama Allah dan jilbab semua terasa mudah, aku pun diterima menjadi siswa di salah satu
SMA favorit di provinsiku. Bahagia sekali, karena di sekolah inilah kemudian aku menemukan cerita baru dengan jilbabku.
Meski berjilbab sejak SMP, namun jilbab yang kukenakan masih
bukan jilbab dalam arti sebenarnya, seperti yang tertulis di Al quran surah
An-Nuur ayat 31 dan Al-Ahzab ayat 59. Celana ketat, jilbab dililit, baju pas-
pasan di badan, aku pernah mencobanya. Hingga kemudian aku begitu tersindir dengan cerita seorang teman tentang perjuangannya yang harus lompat sana-lompat sini ketika di rumah hanya untuk mejaga agar auratnyatak kelihatan orang yang lalu lalang di depan rumahnya yang memang berada di pinggir jalan. Aku pun mulai belajar untuk selalu mengenakan jilbab meski di rumah.
Allah lah yang terus mempertemukanku dengan wanita-wanita luar
biasa yang kemudian mengajarkanku bagaimana seharusnya berjilbab,
melalui cerita mereka, keseharian mereka, bahkan hanya dengan senyuman
mereka (agak lebay ya, tapi emang bener kok 🙂 ). Aku pun mulai rutin mengikuti pengajian-pengajian yang bertemakan muslimah. Aku juga terus belajar untuk selalu mengenakan jilbab jika menemui
mereka yang bukan mahromku. Dan perlahan aku pun belajar untuk mulai
meninggalkan jeans ku dan menggantinya dengan rok hingga beralih ke
gamis. Meski masih dengan perlahan, aku juga mulai sedikit demi sedikit
mengganti gaya jilbabku ke arah yang lebih syar’i. Aku mulai menata hati dalam berjilbab, memantapkan hati melakukan semuanya karenaNya semata meski dengan tertatih. Banyak kejadian sederhana tapi berkesan saat aku melalui hari-hari
bersama jilbabku. Mulai dari dipanggil bu Haji lah, ustadzah lah hingga
selalu didoakan melalui salam yang diucapkan orang-orang ketika melihatku.
Meski mungkin mereka kesannya mengejek, tapi jilbab ini membuat ejekan
itu terasa seperti do’a.
Kini aku pun mulai menyadari, ternyata apa yang diungkapkan oleh
temanku dulu saat pertama mengajakku berjilbab rupanya kurang tepat.
Karena bukan hanya guru yang akan menyayangi kita ketika berjilbab, namun
Orang tua, keluarga, teman-teman, tetangga, hingga suami dan terutama Allah
akan lebih menyayangi mereka yang berjilbab, InsyaAllah.
Semoga Allah senantiasa membimbing dan memantapkan hati kita
untuk senantiasa istiqomah berada di jalan yang diridhoiNya. Aamiin.

image

*) Aji, panggilan untuk ibu-ibu keturunan Tionghoa di daerah Pangkalpinang.

Artikel ini diikutsertakan  dalam “Hijab Syar’i Story Giveaway”

image