Bermimpi (lagi)

Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia

                                              -Nidji-

Beberapa waktu yang lalu saya membaca postingan seorang teman bertajuk MBK(Mimpi Belum Kesampean), untuk yang mau lihat, silahkan meluncur kesini.

Karena saya termasuk orang yang percaya bahwa salah satu cara mewujudkan mimpi adalah dengan menuliskannya, maka saya pun akan menuliskan mimpi-mimpi yang ingin saya capai, semoga dengan menuliskannya akan membuat semua mimpi ini menjadi nyata, Aamiin. 🙂

Check it out!

1. Being a real mom

a788e129cdd576cde3a8854b18720d1aSumber gambar: pinterest.com

Sebelum menikah, saya semangat sekali untuk memiliki banyak anak bahkan saya menginginkan 12. 😀

Biar nanti rumah penuh dengan suara anak-anak. Soalnya Ibu (baca:Mak) saya di rumah cuma punya anak 3, saat sudah besar, rumah jadi sepi. Nah, kalo sampe selusin kan rumah bakal rame terus. 😀

Tapi ternyata Allah menguji kami dengan menunda hadirnya si buah hati di tengah keluarga kecil kami. Tapi tak apa, InsyaAllah semua ada hikmahnya. Semoga bisa secepatnya menjadi Ibu ya, Aamiin.

2. Memberangkatkan Ayah+Mamak & Ayah+Ibu ke tanah suci Mekah

Gambar diambil dari sini

Saya belum pernah melakukan sesuatu besar + berarti untuk kedua orang tua saya. Selama ini bahkan sepertinya banyak nyusahin malah. 😦

Sebelum kami saling mendahului panggilan akhir kami nanti, saya ingin sekali memberangkatkan kedua orang tua kami ke tanah suci Mekah, entah itu umroh atau haji. Semoga segera terwujud. Aamiin. 🙂

3. Hapal juz 30

1414303pSumber gambar disini

Ini sudah sejak jaman kuliah saya pengen sekali. Walau terdiri dari surat-surat pendek, tapi ternyata butuh upaya keras bagi orang kayak saya untuk menghapal juz 30 ini. Nah, pas di pengajian deket kontrakan ketemu sama ibu-ibu yang ternyata hapalannya jauh lebih banyak daripada saya, padahal sudah lebih tua dari saya, malu sekali rasanya. Semoga saja segera terwujud ya, kan katanya kalo seorang anak penghapal Al-Qur’an bisa ngasih cahaya apa gitu untuk kedua orang tuanya di akhirat nanti. Semoga bisa. Aamiin.

4. Membesarkan toko Mak

supermarket thatisbueno 3 copiaGambar nyomot dari sini

Di rumah, pekerjaan Mak sehari-hari adalah berjualan di toko kelontongnya. Alhamdulillah hasilnya lumayan, bahkan dari toko inilah kadang uangnya dipake buat biaya sekolah saya dulu. Tapi kadang Mak sering kecapean karena kadang pekerjaannya lumayan melelahkan untuk usianya yang tak muda lagi. Semoga suatu saat saya bisa bikin tokonya semakin besar dan lengkap, trus bisa punya karyawan. Jadi, Mamak ‘gak perlu terlalu bekerja berat lagi.

5. Punya butik syar’i dengan gamis dan jilbab buatan sendiri dengan nama butik: Jiyad Collection

produk-diskon-gamis-merk-fairadisanSumber gambar: klik!

Sejak januari lalu saya punya usaha kecil-kecilan jualan pakaian muslimah, mulai dari jilbab, gamis, rok dan atasan. Masih pemula sih, jadi koleksinya masih sedikit. Semoga saja bisa lebih baik lagi. Tapi, selama ini saya menjual produk orang lain, belum ada yang made in by my self. Semoga suatu saat bisa terwujud.Aamiin.

6. Keliling Indonesia bareng suami

galih_indonesia-map1Klik! Untuk tahu sumber gambar

Ini efek baca buku Travelicious Medan karya Ariyanto dan Adjie Hatadji terbitan B first. Bukunya nyeritain pengalaman lengkap mereka ketika backpacker ke tanah horas. Seru kayaknya, sama suami tercinta backpacker keliling Indonesia. Bakalan jadi momen so sweet banget ya. :3

Semoga bisa tercapai. Aamiin.

Ssst, rencananya tujuan pertama kami adalah wisata Surabaya ala mahasiswa Desember ini, ditunggu liputannya ya. 😉

7. Punya rumah baca

img_0187aSumber: http://tunjuksatubintangku.wordpress.com/tag/rumah-baca/

Jadi ceritanya di samping rumah kontrakan itu ada penyewaan playstation. Sayangnya, anak-anak yang main kadang ‘gak tahu waktu. Pernah mereka pas magrib-magrib udah manggil-manggil yang punya PS. Manggilnya kenceng pula. kadang-kadang malah mainnya sampe malem lagi. Jadi sedih liat hiburan anak-anak jaman sekarang. Gak bisa bayangin bila hal sama juga terjadi pada keponakan-keponakan dan anak-anak saya. 😦

Makanya saya pengen pake banget punya rumah baca biar nanti anak-anak juga bisa punya tempat hiburan yang edukatif. Aamiin. 🙂 Biiznillah, beberapa waktu belakangan ini ada toko buku di Mojokerto yang harganya pas sekali buat kantong IRT kayak saya. 😉
Jadilah, saya bisa sedikit-demi sedikit nyicil bukunya. Yeay!

8. Punya toko kue yang halal, murah, enak, plus sehat

aW1hZ2VzL3Nma19waG90b3Mvc2ZrX3Bob3Rvc18xMjkxNDI0ODQyX2dkeUpYTXZULmpwZw==Sumber gambar: klik!

Semenjak sibuk jadi IRT, sepertinya saya punya banyak sekali waktu luang yang kurang dimanfaatin dengan baik. Nah, biar manfaatnya lebih berasa, saya kepengen bisnis jualan kue. Ini juga terinspirasi waktu dulu di sekolahan tempat saya mengajar ada anak-anak yang jualan, padahal anak kepala sekolah. Nah, kalo anak-anak aja bisa, kenapa saya ‘nggak? Mulai dari yang kecil-kecil dulu aja tapi ya, secara saya belum jago yang namanya bikin-bikin kue. 🙂

9. Punya tulisan dimuat di media >5

Koran Keren

Sumber: disini

Selain karena sama kayak yang di atas, Alhamdulillah akhirnya kemaren2 sebuah tulisan singkat saya dimuat di koran. Yeay!(Maafkan kelebayan saya). Untuk yang pertama kalinya. Dan Alhamdulillah, dapet honor. 🙂

Honornya memang ‘gak boleh jadi niatan pertama. Tapi biar waktu luang saya lebih bermanfaat, gak ada salahnya belajar nulis lebih giat lagi dan semoga mimpi yang ini juga bisa terwujud. Aamiin. 🙂

10. Nulis buku

nulisbuku.com-logo-e1295611705241Sumber gambar: klik!

Sebelum saya menghembuskan nafas yang terakhir kalinya, saya pengen pake banget nulis sebuah buku kenang-kenangan yang bisa bermanfaat. Itung-itung sebagai bukti kalo saya pernah ada di dunia ini, pernah membuat karya. 🙂

11. Punya kebun dengan aneka tanaman di rumah

????????Klik! Untuk lihat sumber gambar

Pertama kali saya menanam tanaman di rumah kontrakan itu pas para IRT-ers galau sama harga bawang putih. Alhamdulillah, hingga saat ini saya sudah punya banyak tanaman di samping rumah, mereka adalah; cabe besar yang jumlahnya udah lebih dari tujuh batang dan semuanya berbuah :), cabe kecil yang jumlahnya 4 batang tapi baru satu yang berbuah, serai yang baru mulai tumbuh besar, dan daun bawang yang sedang tumbuh juga. Semoga suatu saat saya juga bisa punya tanaman yang lainnya, Aamiin.

2013-09-04-17-11-22_photoFoto salah satu cabe besar di rumah (satu-satunya foto disini yang punya sendiri 🙂 v)

Nah, itu dulu mimpi saya saat ini. Semoga Allah mengabulkannya atau menggantinya dengan yang lebih baik. Aamiin. 🙂

Psst, sengaja saya sertakan gambar di setiap mimpi. Katanya, kalo nulis mimpi itu harus jelas, makanya saya perjelas dengan foto. 🙂

Ok Guys, ini mimpiku, mana mimpimu? 😉

Hakikat Memberi

6804bad5d60dc3b269521ff1d96e903cSumber gambar disini

            Salman Al Farisi sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita shalihah telah menarik perhatiannya. Tapi bagaimanapun, Madinah bukanlah tempat ia tumbuh dewasa. Ia berpikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi urusan pelik bagi seorang pendatang seperti Salman. Maka, disampaikanlah gejolak hati itu kepada sahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’. “Subhanalloh, Walhamdulillah..” senang hati Abu Darda’ mendengarnya.

Setelah persiapan, beriringanlah kedua sahabat itu menuju rumah wanita sholihah yang dimaksud. “Saya Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam. Ia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Salman memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”Dibalaslah oleh orangtua wanita shalihah tersebut, “Adalah kehormatan bagi kami menerima Anda sahabat Rasulullah yang mulia. Dan suatu penghargaan bagi kami bermenantukan seorang sahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.

”Abu Darda’ dan Salman menunggu dengan berdebar-debar. Hingga sang ibu muncul kembali setelah berbincang-bincang dengan puterinya. “Maafkan kami atas keterusterangan ini. Dengan mengharap Ridho Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Keterusterangan yang di luar prediksi. Mengejutkan bahwa sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya. Ironis sekaligus indah. Bayangkan sebuah perasaan campur aduk dimana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran. Ya, Salman memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar apa yang dikatakan Salman: “ Allahu Akbar! Semua mahar yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’ dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!” (disadur dari Buku “Jalan Cinta Para Pejuang” karya Salim A. Fillah)

Sepenggal kisah di atas adalah kisah Salman Al Farisi dan Abu Darda’ seorang sahabat dari Anshor dalam mencari cinta untuk dijadikan pasangan hidup. Menurut saya, bukan hanya tentang cinta dan persahabatan yang disampaikan dalam kisah di atas, melainkan juga tentang hakikat memberi yang sesungguhnya, keikhlasan. Ketika seseorang merelakan apa yang disukainya untuk menjadi milik orang lain, bahkan menambahnya pula dengan sesuatu baik yang lain, disitulah makna keikhlasan sebenarnya berada. Meskipun memang, memberi sangat erat kaitannya dengan cinta dan persahabatan. Kita akan memberi lebih banyak  dan dengan senang hati bila ternyata sesuatu yang akan kita beri ditujukan pada sahabat kita apalagi kepada orang yang kita cintai.

Betapa Allah memuliakan Rasulullah, bahkan hingga orang-orang yang hidup di dekatnya pun akan mencerminkan kepribadiannya yang mulia. Sikap kemurahan hati seorang Salman Alfarisi dalam memberi, bisa jadi merupakan salah satu efek dicontohkannya langsung sifat memberi tersebut oleh Rasulullah, manusia terbaik sepanjang zaman. Para sahabat yang begitu mencintai Rasulullah tentu akan banyak mencontoh keteladanan Sang Nabi Sallallahu ‘alaihi Wasalam dalam hal memberi. Bisa kita lihat ketika Rasulullah memberi makan seorang pengemis buta Yahudi. Meski pengemis buta tersebut sangat membenci dan selalu menghina Rasulullah, tapi balasan yang diberikan Rasulullah adalah kelembutan yang  tiada tara, diberikanlah kepada pengemis yang telah tua renta itu makanan yang lembut serta disuapi kepada pengemis itu dengan hati-hati, padahal pengemis tua yang tak tahu siapa yang memberinya makan tersebut tak pernah berhenti mencacinya. Maka ketika Abu Bakar memberi makan pengemis tersebut dengan cara yang berbeda, segera tahulah ia bahwa itu bukanlah dari tangan orang yang biasa memberinya makan, sang Rasulullah yang selalu dihinanya.

Begitulah seharusnya seorang muslim dalam memberi, ikhlas dalam pemberian, tanpa mengharap kembali bahkan tanpa melihat kepada siapa sesuatu itu akan diberi-untuk yang satu ini tentunya bila yang diberi tidak berkaitan dengan peribadatan-, serta memberi dengan apa yang terbaik dari yang ia punya bukan malah dengan sesuatu yang tidak disukai. Karena memberi sejatinya merupakan salah satu wujud syukur kepada Sang Maha Pemberi yang telah merahmati kita dengan semua pemberian terbaik yang pernah ada.  Maka ketika kita sudah dilimpahi dengan pemberian terbaik yang pernah ada, betapa pelitnya kita bila tidak mau membagi pemberiannya tersebut walau sedikit.

Berbeda sekali dengan yang jamak terjadi di dunia perpolitikan negeri ini, ketika seseorang memberi hadiah sesuatu berharga kepada seorang pejabat, maka itu berarti ada ”maksud” terselubung dalam makna pemberiannya yang nantinya akan berkaitan dengan kebijakan yang diambil pejabat tersebut. Meski yang memberi hadiah tersebut kemudian menjelaskan bahwa tak ada maksud apa-apa dari pemberian tersebut. Lain lagi halnya dengan staf pemerintahan kita. Anda akan sangat lama dalam mengurus pembuatan sebuah KTP yang konon katanya hanya berharga sepuluh ribu rupiah untuk pengurusannya, bila Anda tak memberi uang pelicin yang bila ditotal bisa mencapai sepuluh kali lipat dari biaya asli kepada si pengurus.

Dua fenomena di atas memang tak selalu terjadi seperti itu, masih ada mereka yang memang memberi dengan ketulusannya, tapi terkadang mereka hanya seperti oase di padang pasir, jarang sekali terjadi. Maka tak heran bila di negeri yang katanya mayoritas muslim dan makmur karena hasil alamnya yang melimpah ini sering dilanda kesulitan yang sangat menyesakkan hati seperti bencana alam, kemiskinan, kelaparan dan lainnya. Karena mungkin Sang Maha Memberi sedang menegur kita yang sepertinya sudah sangat lupa bagaimana itu hakikat memberi dengan sedikit-demi sedikit mengambil pemberian yang pernah Dia berikan. Semoga penyakit lupa massal yang sedang kita derita bersama ini bisa segera sembuh dan pulih, sehingga semoga dengan begitu kita bisa kembali merasakan pemberian yang dulu pernah Ia berikan kepada kita.

NB: Tulisan ini dimuat untuk memenuhi salah satu persyaratan waktu mau melamar sebagai salah satu penulis keislaman di salah satu penerbit, sayangnya ketika mengirimkan email, ternyata waktunya sudah lewat dan alamat email yang dituju ternyata diatur berdasarkan waktu yang diberikan. Yah, setidaknya kita sudah mencoba, ya kan? Semangat!! 🙂

Menjadi Guru Berarti Melayani

indexSila kesini untuk lihat sumber gambar

              Saya udah pernah bilang belum ya sebelumnya, kalo beberapa minggu yang lalu saya dapet kiriman buku gratis ::) Alhamdulillah. Ini adalah fenomena yang sangat langka bagi saya. Untuk yang kepingin tahu cerintanya, silahkan merapat kesini.

Ada dua buku yang dikasih, Indonesia Mengajar #1– berisi cerita pengalaman mengajar para pengajar muda asuhan yayasan Indonesia Mengajarnya Anies Baswedan dkk- dan Berani Mengubah –Pandji Pragiwaksono-. Buku Indonesia Mengajar sebenarnya udah saya baca-bole minjem dari temen-, meskipun begitu tetep exited banget dapet buku-buku bagus seperti itu. Semoga sering-sering ya. Ngarep. 😉

Saya coba sok menyimpulkan dari sebagian besar cerita para pengajar muda tentang cerita mereka, bahwa ternyata dengan menjadi guru Anda harus siap melayani. Melayani berbagai keinginan anak murid yang haus akan ilmu dan perhatian, melayani para orang tua dengan berbagai harapan akan pendidikan, dan pihak-pihak lainnya.

Ini yang sepertinya belum begitu saya pahami dan dalami sebagai seorang guru. 😦
Pada awal mengajar dulu, bahkan saya masih bergantung pada Mas bersih-bersih untuk sekadar membuka pintu kantor-gegara saya gak tahu dimana ngambil kuncinya si-. 😦 Parahnya, saya seakan nyaman dengan keadaan seperti ini. Rela menunggu bermenit-menit hanya untuk diambilkan kuncinya. Hingga pagi ini saya baru sadar ternyata tempat kunci itu berada dekat sekali dengan sekolahan-setelah beberapa bulan mengajar-. Jalan kaki berapa meter aja nyampe. Sayangnya, dulu saya belum begitu sadar tentang konsep melayani ini-sekarang juga si belum, cuma minimal udah mulai belajar 😉 -.#plak

Menjadi guru berarti melayani. Termasuk melayani diri sendiri, mulai dari hal yang terkecil sekalipun seperti membuka pintu kantor, membersihkan ruangan dan meja sendiri, meskipun sudah ada pakarnya dalam bidang tersebut. Sekali-kali memudahkan pekerjaan orang lain bukanlah sebuah kesalahan bukan?

Anyway, teori ini bikinan saya sendiri, gegara tadi padi pagi sebelum ke sekolah saya mampir ngambil kunci kantor untuk pertama kalinya #haha. Jadi, bila salah, maafkanlah saya, bila benar, resapilah dan terapkanlah. Semoga bermanfaat. 🙂

Paiton, di sebuah malam bertemankan detak jarum jam.

Sebuah renungan dari 10 jam setelah saya bertemu anak-anak.

KPK Itu Bernama Istri

Korupsi, tak pernah sepi untuk diperbincangkan. Seperti yang diberitakan baru-baru ini, tentang oknum yang terbukti melakukan korupsi melalui tindak gratifikasi sebesar 11 miliar rupiah. Untuk menyamarkan transaksi haram itu, uang dikirim melalui rekening sang istri. Dari kasus tersebut, bisa kita lihat bahwa siapapun bisa terlibat dalam tindakan korupsi, disengaja maupun tidak. Apalagi orang-orang terdekat pelaku, termasuk sang istri.
Sebagai pengatur keuangan rumah tangga, seorang istri harusnya bisa mengontrol keuangan rumah tangga serta mengetahui sumber keuangan itu berasal, termasuk perkiraan besarnya pendapatan suami. Sehingga ketika uang yang diterima suami melebihi pendapatan biasanya, harusnya ini menjadi pertanyaan bagi sang istri, “darimana uang tersebut berasal?”
Peran aktif istri sangatlah penting, bila istri mengetahui bahwa suami mendapat uang dengan jumlah lebih, seharusnya istri tidak serta merta langsung menerimanya, melainkan menanyakan dan telusuri dari mana uang itu berasal, apabila ada hal yang menyalahi aturan maka istri langsung bisa memperingatkan sang suami. Selain itu, seharusnya istri bisa mencegah suami melakukan tindakan buruk seperti korupsi, dengan cara mensyukuri semua pemberian suami tanpa menuntut melebihi kemampuannya.
Pada dasarnya, salah satu tujuan suami mencari nafkah adalah memenuhi kebutuhan keluarga. Jadi, bila keluarga dan orang-orang terdekat enggan menerima uang yang didapatkan dari jalan yang haram, tentunya para suami juga tak mau membawa pulang uang haram tersebut. Hal ini berlaku bagi semua lini pekerjaan. Oleh karena itu, meski bukan pejabat, tiap kali suami berangkat kerja, tak lupa saya berpesan, “Jangan bawa rizki haram, biar sedikit yang penting halal,” atau sesekali saya bercanda, “Biar banyak yang penting halal.”

Alhamdulillah dimuat di gagasan Jawa Pos edisi 12 November 2013 dengan beberapa editan, semangat menulis.. *\(^_^)/*

DIBILANG GURU PAI Diary Sang Ustadzah #1

Dear diary…
Hari ini hari sabtu. Tepatnya tanggal 31 Agustus 2013. Ada yang beda di hari ini. Kau tau kenapa? Coba kau tanya padaku.
Ah, aku lupa, kau bahkan tak bisa menjawab pertanyaanku. Yah, kau hanya menerima dan mendengar dan itulah ajaibnya dirimu.
Di, hari ini adalah my first time to work man! Aku udah pernah cerita kan? Kalo hari ini aku mengajar di salah satu SD Islam Terpadu di kota sana. Kau mau tahu mata pelajaran apa yang aku ajarkan? Kau pasti terkejut mendengarnya. Percayalah – itu bila kau tau bagaimana sesungguhnya aku -.
Taraa, aku mengajar Robotik, Di. Lebih tepatnya ekstrakurikuler robotik. Ya, di SD itu aku mengajar tiap sabtu pagi. Tak lama, hanya satu jam setengah. Dari jam tujuh teng sampe jam setengah sembilan pagi.
Sementara begitu banyak orang yang berdecak ‘wah’ pada mata pelajaran yang kuajarkan, aku malah takut, Di. Aku takut kalau apa-apa yang kuajarkan nantinya salah. Atau malah membuat anak muridku nantinya jadi bosan dengan robotik. Yah, kuharap tak seperti itu sih.
Apa? Mengapa aku mau menerimanya?
Pertanyaanmu bagus sekali. Hei, kau tahu kan kalo aku lulusan teknik elektronika? That’s the reason why. Itu sesuai dengan jurusanku Di. Walau memang ada beberapa alasan lain yang pada akhirnya juga membuatku memilih pekerjaan ini. Bagaimanapun, mungkin ini takdir Allah untukku yang harus aku syukuri sepenuhnya. Alhamdulillah. J
Apa oleh-oleh ku hari ini?
Oh Di, kau tahu, aku dipanggil ustadzah. 🙂
Malu sebenarnya. Bagiku, ustadzah adalah panggilan kepada seorang wanita-lebih tepatnya da’iah- yang memang paham betul tentang agama atau minimal berwawasan luas tentang agama. Sementara aku? Kau tahulah, dimana harus meletakkan nilai untukku tentang agama diantara 1-10. 🙂
Tapi tidak bagi anak-anak itu. Siapapun wanita yang mengajar mereka, artinya mereka adalah ustadzah. Seberapa minimnya pun pengetahuan agamamu. Pun bagi lelaki, lelaki manapun yang mengajar di sekolah mereka, akan mereka panggil ustadz. Ajaib kan?
Tapi aku sih enjoy aja dengan panggilan itu. Bagiku, itu adalah do’a dari anak-anak itu. Do’a agar pemahamanku tentang agama lebih mendalam lagi. Aamiin.
Eit, tahukah kau Di, meski seharusnya anak-anak tahu bahwa materi yang kuajarkan adalah robotik, tapi pagi ini ketika hari pertama aku mengajar, aku dibilang guru PAI. 😀
Lucu ya. Tahu kenapa?
Begini ceritanya…
“Assalamu’alaikum warohmatullohi Wabarokatuh”. Ucapku sembari memberikan senyuman terbaikku hari itu.
Ya, hari ini adalah hari pertama mengajarku. Bisa gawat kan, kalau sampai anak-anak langsung tidak menyukaiku di pertemuan pertama ini? Seperti kata orang lah, pandangan pertama begitu memukau, selanjutnya terserah anda.
“Wa’alaikumsalam Warohmatullohi Wabarokatuh”. Jawab anak-anak yang jumlahnya empat belas orang itu-harusnya lima belas sih, hingga akhirnya yang satu orang datang belakangan- seadanya.
“Wah, kurang semangat ya. Tahu kan kalo salam itu do’a? Nah, karena itu, jika ada saudara kita yang mengucapkan salam, maka hak mereka lah untuk mendapatkan jawaban yang terbaik pula, apalagi ditambah dengan semangat dan senyum” Terangku membenarkan. Sok tahu sekali kedengarannya yah.
“Ustadzah ulang ya, Assalamu’alaikum Warohmatullohi wabarokaatuh.” Ulangku lagi dengan volume suara yang lebih besar dari salam yang pertama.
Maka dengan sekejap ruangan kelas pun dipenuhi jawaban salam anak-anak yang menggema, “ Wa’alaikumsalam Warohmatullohi Wabarokatuh”.
“Alhamdulillah. Terima kasih banyak ya anak-anak, sudah mendo’akan ustadzah”. Tambahku lagi.
“Alhamdulillahirobbil’aalamiin. Assholatu wassalamu ‘ala asrofil anbiya’i wal mursalin wa’ala ‘alihi wasohbihi ajmain, Amma Ba’du. Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Subhanallah Wata’ala, karena hanya berkat rahmat dan karuniaNya lah kita semua bisa berkumpul disini untuk belajar robotik. Nah, biar kegiatan kita hari ini diberkahi Allah Subhana Wata’ala dan dimudahkan, marilah kita melafazkan lafaz Basmallah bersama-sama.” Terangku panjang lebar-tanpa tahu bagaimana pendapat anak-anak.
“Bismillaahirrahmaanirrohiim”. Jawab anak-anak.
“ Nah, biar lebih berkah lagi, boleh ustadzah minta kita do’a bersama terlebih dahulu?” pintaku pada anak-anak itu.
Dan setelah pembacaan do’a bersama itulah, ada satu anak yang nyeletuk. “kayak pelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam, red) ya?
Deg. Wah, belum apa-apa saja anak-anak ini sudah membuatku keki. Yah, sepertinya aku memang harus lebih banyak lagi belajar untuk menghadapi anak-anak ini. Terbiasa member pembukaan dengan kalimat pembukaan seperti itu, membuatku lupa bahwa ternyata yang kuhadapi bukan para dewasa yang penuh keseriusan, tapi anak-anak yang penuh keceriaan.
Tapi, aku tidak akan menyerah Di, meski dibilang guru PAI, beberapa prinsip dasar yang memang harus diterapkan kepada anak-anak seperti bismillah dan berdo’a, tak boleh dihilangkan. Karena misiku dalam mengajar ini adalah, meski mereka belajar tentang robotic, mereka tak kan kehilangan jati diri mereka sebagai anak-anak muslim. Semoga.

Tobe continued…

Puisi Cinta

Surat CintaImage source: here

Nemu puisi ini di laptop, kata-katanya bagus -meski gak ngerti beberapa makna kata tersiratnya-, suka sama puisi ini, karangan WS Rendra. Check it out:

Pamflet Cinta

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi.

Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

Aku menyaksikan zaman berjalan kalang-kabutan.

Aku melihat  waktu melaju melanda masyarakatku.

Aku merindui wajahmu.

Dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa.

Kampus telah diserbu mobil berlapis baja.

Kata-kata telah dilawan dengan senjata.

Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini.

Kenapa keamanan justeru menciptakan ketakutan dan ketegangan.

Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sihat.

Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan.

Suatu malam aku mandi di lautan.

Sepi menjadi kaca.

Bunga-bungaan yang ajaib bertebaran di langit.

Aku inginkan kamu tetapi kamu tidak ada.

Sepi menjadi kaca.

Apa yang bisa dilakukan oleh penyair

Bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan?

Udara penuh rasa curiga.

Tegur sapa tanpa jaminan.

Air lautan berkilat-kilat.

Suara lautan adalah suara kesepian

Dan lalu muncul wajahmu.

Kamu menjadi makna.

Makna menjadi harapan.

… sebenarnya siapakah harapan?

Harapan adalah karena aku akan membelai rambutmu.

Harapan adalah karena aku akan tetap menulis sajak.

Harapan adalah karena aku akan melakukan sesuatu.

Aku tertawa, Ma!

Angin menyapu rambutku.

Aku terkenang kepada apa yang telah terjadi.

Sepuluh tahun aku berjalan tanpa tidur.

*Punggungku karatan aku seret dari warung ke warung.

Perutku sobek di jalan raya yang lenggang…

Tidak. Aku tidak sedih dan kesepian.

Aku menulis sajak di bordes kereta api.

Aku bertualang di dalam udara yang berdebu.

Dengan berteman anjing-anjing geladak dan kucing-kucing liar,

Aku bernyanyi menikmati hidup yang kelabu.

Lalu muncullah kamu,

Nongol dari perut matahari bunting,

Jam dua belas seperempat siang.

Aku terkesima.

Aku disergap kejadian tak terduga.

Rahmatku turun bagai hujan

Membuatku segar,

Tapi juga menggigil

Bertanya-tanya.

Aku jadi bego,Ma!

Yaaahhhh,Ma, mencintai kamu adalah bahagia dan sedih.

Bahagia karena mempunyai kamu di dalam kalbuku,

Dan sedih karena kita sering terpisah.

Ketegangan menjadi pupuk cinta kita.

Tetapi bukankah kehidupan sendiri adalah bahagia dan sedih?

Bahagia karena nafas mengalir dan jantung berdetak.

Sedih karena fikiran diliputi bayang-bayang.

Adapun harapan adalah penghayatan akan ketegangan.

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi,

Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

-W.S. Rendra-

{Willibordus Surendra}