Ceritaku Tentang Orang dengan Gangguan Jiwa

image
Sumber gambar reportaseterkini.com, edited by Julia

Di Paiton tempat kami tinggal sekarang, ada banyak orang dengan gangguan jiwa (selanjutnya disingkat ODGJ) buangan yang terus bertambah. Saya bilang buangan karena memang tidak ada yang tahu kapan datangnya, asal usulnya, dimana rumahnya, dan lainnya, tahu-tahu sudah nongol begitu saja di Paiton.

Di sini, ODGJnyajuga bermacam-macam, ada  pria tak berbaju yang kerjaannya nongkrong di pinggir jalan raya, pria berambut gimbal di pinggir jalan, ada Ibu-ibu tua dengan daster lusuh, atau pria 30an yang nongkrong di pinggir jalan sambil ngerokok dan ngoceh sesukanya, baru-baru ini ada juga Bapak-bapak yang selalu tersenyum dengan pakaian lengkap dan kopiah, tapi tetap celananya robek-robek, ODGJ yang satu ini selalu berhenti di depan warung gorengan di pinggir lapangan bola, kemudian baru pergi setelah diberikan gorengan.
Nah, lain lagi dengan ODGJ yang selalu lewat di depan rumah, orang-orang memanggilnya Dul. Umurnya kira-kira 40an, tubuhnya agak gempal, perutnya buncit, rambutnya ikal. Hobinya berjalan bolak-balik berkilo-kilo jauhnya. Setiap hari, ia berjalan sambil membawa tongkat, setiap lewat komplek, ia akan selalu menghampiri setiap tong sampah di depan tiap rumah di komplek, mengais-ngais isi tong yang bisa dimakan dan langsung lep ke mulut. Sesekali tetangga memberinya sepiring nasi plus lauk, bila dia suka, akan langsung ludes seketika. Tapi bila tak suka menunya, ditinggal begitu saja. Pernah saya memberinya sebungkus roti isi selai coklat. Baru satu gigitan, eh langsung dibuang. Si Dul juga rajin mandi, dua kali sehari. Setiap pagi atau sore, dia akan berendam di sungai yang ada di sawah di dekat rumah, jadi meskipun ODGJ, si Dul tampangnya lumayan klimis, hihi.
Nah, ngomong-ngomong soal ODGJ, saya punya pengalaman yang tak terlupakan ketika SD di Pangkalpinang dulu.
Waktu itu saya masih duduk di kelas 5 SD. Ketika itu, sekolah baru selesai melaksanakan ujian semester. Hari itu adalah hari santai, dimana tidak ada kegiatan belajar mengajar sama sekali, mungkin para guru sedang sibuk mengisi rapot. Bila di sekolah tingkat atas, mungkin sudah diisi dengan kegiatan class meeting, sayangnya di sekolah saya belum ada yang mengkoordinir, jadilah kerjaan muridnya terutama saya dan tiga teman lainnya, nongrong di depan sekolah sambil jajan. Di sela menunggu jajanan kelar dibuat, seorang teman mencetuskan ide: “Kita ke Ramayana yuk!”
Yang lain menimpali,” Ngapain ke sana? ”
“Kita jalan-jalan aja, cuci mata.” Jelas si pemberi ide.
Waktu itu Ramayana adalah satu-satunya swalayan terbesar di Pangkalpinang. Akhirnya setelah berunding, kami berempat, saya, Ana, Anggi dan Fitri memutuskan untuk langsung berangkat naik angkot ke arah Ramayana. Sesampainya di sana, kami langsung menuju pintu masuk. Karena tak sempat pulang, pakaian kami masih lengkap seragam SD putih merah. Di depan pintu masuk pak satpam langsung menghentikan langkah kami.
“Mohon maaf dek, yang berseragam sekolah dilarang masuk.”
Yah, padahal kami sudah senang mau jalan-jalan. Akhirnya kami pun memutuskan jalan-jalan sebentar di pasar di bawah Ramayana lalu pulang. Dalam perjalanan pulang menuju angkot, tiba-tiba….
Bug!!
Sebuah pukulan keras mendarat di punggung saya. Spontan saya langsung tolah-toleh kanan-kiri depan-belakang mencari tahu siapa yang telah memukul sambil meringis kesakitan memegangi punggung.
Hingga akhirnya seorang bapak supir angkot dari dalam mobilnya berteriak, ” Orang gila dek!” Sambil menyilangkan jari telunjuk di keningnya memberi tanda.
Duh, rasanya nyeri sekali, nyeri di punggung, nyeri di hati. Jalan-jalan dan cuci mata gagal, malah dapat jatah pukulan dari ODGJ.
Begitulah sedikit cerita saya dengan ODGJ. Sejauh ini, Kecuali yang telah memukuli punggung saya, ODGJ yang saya temui tidak pernah mengganggu yang lain, mereka sibuk dengan dunianya masing-masing. Ada yang sibuk jalan kaki, senyum sendiri, marah sendiri, dan lainnya.
Kebanyakan orang di sini (Paiton red) juga memperlakukan ODGJ dengan baik, bagi yang baju atau celananya robek, diganti dengan baju dan celana yang tidak robek, yang tidak berpakaian, dipakaikan baju, kadang sesekali ada yang memberi makan. Semoga suatu hari pihak terkait (mungkin dinas kesehatan dan rumah sakit jiwa setempat) bisa membawa mereka kembali dan melanjutkan proses penyembuhan mereka. Soalnya kalo saya mah, baru bisa ngasih sebungkus roti, itu pun ditolak, heuheu.
Segitu dulu cerita saya bersama ODGJ, kamu punya cerita juga? Sharing yuk! 🙂

“Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Aku dan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang diselenggarakan oleh Liza Fathia dan Si Tunis

image

Iklan

14 pemikiran pada “Ceritaku Tentang Orang dengan Gangguan Jiwa

    1. Itu selama hampir 3 tahun saya di Paiton Mba’, yang terdeteksi sama saya aja, yang nggak terdeteksi mungkin masih banyak,
      Iya, bingung juga gimana harus memperlakukan mereka..

  1. kasihan mereka itu ya, apa sudah tdk punya keluarga atau bagaimana, itu yg selalu di pikiran saya ketika melihat ODGJ. dan kalau punya keluarga, di mana keluarganya? cemas nggak? nyariin nggak? bersyukur ya kita masih diberikan kesempurnaan akal utk bs tetap berkumpul dengan keluarga.

    1. Iya Mba’, kayak udah nggak punya keluarga lagi.. 😢 mungkin ada yang cemas awalnya, tapi karena sudah terlalu lama, jadi lupa.
      Alhamdulillah kita masih diberi kesempatan…

  2. Hehe saya juga ada pengalaman seru mba dengan odgj. Saya ngga dipukul seperti mba sih, ngga diapa-apain. Tapi saya lari saya teman-teman karena si odgj ngga pakai baju sama sekali di badannya. Kasihan sih, tapi waktu itu masih takut kalau mau menolong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s