Menikah adalah Bahagia

image

Banyak teman [Jika lebih dari satu boleh dikatakan banyak] yang
menanyakan kepadaku “Gimana sih, rasanya kalo udah nikah?” —
Pertanyaan ini dilontarkan beberapa hari setelah aku menikah, saat kami
[aku & suami] belum tinggal berdua [saja]–
Aku–yang memang tak pandai mendeskripsikan sesuatu ini– pun bingung
melontarkan jawaban apa yang pas untuk pertanyaan itu, yang tidak
menggurui, tidak plagiat, dan sedikit ngomporin… 🙂 v
Dan kini, setelah hampir 424.800 detik yang kulalui bersamamu, lelaki
sederhana dengan keistimewaan cintanya,
aku dengan mantap akan menjawab pertanyaan itu “Menikah adalah
Bahagia” 🙂
Bahagia, karena dengan menikah InsyaAllah kau akan menyempurnakan
separuh agamamu.
Bahagia, karena dengan menikah kau akan mendapatkan seseorang yang
senantiasa berada di dekatmu, kapan pun itu.
Bahagia, karena kau mendapatkan seseorang yang akan mencintaimu tulus,
bahkan di saat kau merasa kau tak pantas untuk dicintai.
Bahagia, karena kau akan mendapatkan seseorang yang akan senantiasa
mendoakanmu melalui diamnya, geraknya, atau doanya.
Bahagia, karena akan ada dia, yang tak kan rela bila kau mulai menjauh dari
cahaya Nya.
Bahagia, karena ternyata kau akan mendapatkan pasangan konyol dengan
jiwa humor yang sama –Kami pernah ditegor polisi karena ulah keisengan
kami–
Bahagia, karena dia akan selalu ada mendengarkan semua celotehanmu,
bahkan hingga kau sendiri pun tak mau mendengarnya.
Bahagia, karena kau punya guru baru yang siap menjawab semua
pertanyaan2mu dan mengajarkan hal2 baru yang super padamu.
Bahagia, karena kau punya teman baru yang akan selalu siap membantumu
memecahkan semua masalahmu [bersama].
Bahagia karena kau tak perlu malu bila kepergok [pegangan tangan] di depan
orang lain, karena sekarang ia mahrommu.
Bahagia karena kau bebas melakukan apapun bersamanya [lelakimu] itu.
Bahagia, karena kau akan menemukan momen-momen kebahagiaan baru,
yang bahkan dulu kau tak pernah membayangkannya.
Dan kata-kata ku tak mampu menguraikan semua bahagia itu, hingga kau
sendiri yang merasakannya… ^_^

Paiton, 17 Februari 2013
dalam 424.800 detik bersamamu
Ummi ♥

Iklan

Manisnya Jilbabku

image

Hidayah datang dengan berbagai cara, dan dengan cara inilah aku
menjemput hidayah…

Suatu senja di Kota Pangkalpinang, saat istirahat dari pelatihan
salah satu agen asuransi ternama di Indonesia, aku dengan perutku yang
keroncongan memutuskan mencari makanan di salah satu warung di
pinggiran jalan.
“ Aji *, masih ada makanan apa?” Tanyaku dengan sangat antusias, karena
saat itu lapar sangat menusuk perutku yang belum terisi sejak sore sepulang
kuliah tadi.
“ Udah gak ada lagi, makanannya udah habis semua!” Ungkap Aji tersebut,
sembari memberi isyarat tangan menyuruhku untuk pergi menjauh.
“ Tapi itu masih ada makanannya, Ji?” Tanyaku sedikit memaksa karena
perutku sangat memberontak meminta diisi dengan sesuatu dan kulihat
masih ada beberapa bahan makanan di warung itu.
“ Kami ‘gak jual makanan yang lain, kami hanya jual mie yang pake daging
babi, jadi ‘gak usah beli disini!” Jelasnya lagi meyakinkan.
Alhamdulillah, singkat tapi begitu berarti untukku, dialog yang terjadi kurang
dari 3 tahun yang lalu ini, seakan mengingatkanku betapa sesungguhnya
Allah telah berulang kali menyelamatkanku melalui kain petak segi empat ini.
Jilbab, begitu kebanyakan orang menyebutnya. Jika saja bukan karena jilbab
yang kupakai, tentu telah mengalir barang haram ke dalam tubuh ini,
naudzubillah tsumma na’udzubillah…
Mungkin benar jika pepatah bijak mengatakan bahwa sesungguhnya
sesuatu yang besar adalah sekumpulan dari hal-hal yang kecil. Dan kurasa
itu yang terjadi padaku. Mengambil salah satu keputusan terbesar dalam
hidupku, hanya karena satu pernyataan singkat yang sederhana.
“ Berjilbablah Jul, karena dengan berjilbab maka kau akan disayang guru.”
Itulah pernyataan persuasif seorang teman yang mengajakku berjilbab, saat
aku akan masuk menjadi siswa sekolah menengah pertama. Dan pernyataan
singkat inilah yang kemudian memantapkan Julia yang masih polos untuk
berjilbab. Alhamdulillah.
Aku, -yang memang saat kecil lingkungan di sekitar rumah kami masih
lumayan agamis- setelah mendengar ajakan teman sepermainanku itu
dengan mudahnya kemudian memantapkan hati untuk berjilbab. Hal itu pun
aku utarakan pada orang-orang di rumah. Tak banyak yang berkomentar,
hanya Abang yang sesekali memberikan pernyataan kurang setuju dengan
kemauanku, mungkin karena jilbab belum terlalu populer saat itu. Mamak
juga tak banyak memberi komentar seingatku, namun tindakan
persetujuannya sudah lebih dari cukup. Beliaulah yang kemudian setia
menemaniku mencari baju panjang putih, rok biru panjang, baju dan rok
pramuka panjang, jilbab putih dan coklat hingga daleman jilbab untuk
persiapanku menjadi murid SMP.
Entahlah, aku tak terlalu banyak berpikir saat itu, mungkin kalimat
temanku itu begitu menyihirku sehingga tak pernah terbersit olehku saat itu
bahwa aku harus menjilbabkan hatiku terlebih dahulu atau harus memiliki
persediaan baju panjang dan jilbab yang banyak dulu barulah berjilbab.
Bahkan saat pertama berjilbab di SMP dulu, aku hanya memiliki satu jilbab
putih dan coklat yang dicuci seminggu sekali. Barulah saat pergantian
semester Mamak membelikan jilbab yang baru lagi. Alhamdulillah.
Pro dan kontra dari sekitar memang ada saat itu. Bahkan ada kakak
kelas yang tahu sifat asliku saat SD – sedikit agak tomboy memang- pernah
mengatakan aku mirip ubur-ubur katanya, entahlah dari sisi mana
penampilanku dengan jilbabku ini kelihatan seperti ubur-ubur baginya.
Beberapa teman SD ku yang lain juga saat itu sepertinya tidak terlalu
menyukai aku dan jilbabku, sok alim begitu mereka bilang. Alhamdulillah itu
hanya terjadi beberapa minggu saat pertama aku berjilbab, karena meski
berjilbab aku tetap bisa menunjukkan prestasiku saat itu. Alhamdulillah, saat
SMP meski berjilbab aku selalu bisa meraih peringkat tiga besar di
sekolahku. Mungkin prestasi inilah salah satu alasan berkurangnya kata-kata
kurang nyaman yang kudengar dari orang-orang sekitar saat mereka melihat
penampilan baruku.
Waktu pun berlalu dengan cepatnya. Alhamdulillah, rasanya dengan
jilbab semua terasa mudah. Aku pun diterima menjadi siswa di salah satu
SMA favorit di provinsiku. Bahagia sekali, karena di sekolah inilah kemudian
aku menemukan cerita baru dengan jilbabku.
Meski berjilbab sejak SMP, namun jilbab yang kukenakan masih
bukan jilbab dalam arti sebenarnya, seperti yang tertulis di Al quran surah
An-Nuur ayat 31 dan Al-Ahzab ayat 59. Celana ketat, jilbab dililit, baju pas-
pasan di badan, aku pernah mencobanya. Hingga kemudian aku begitu
tersindir dengan cerita seorang teman tentang perjuangannya yang harus
lompat sana-lompat sini ketika di rumah hanya untuk mejaga agar auratnya
tak kelihatan orang yang lalu lalang di depan rumahnya yang memang
berada di pinggir jalan. Aku pun mulai belajar untuk selalu mengenakan jilbab
meski di rumah.
Allah lah yang terus mempertemukanku dengan wanita-wanita luar
biasa yang kemudian mengajarkanku bagaimana seharusnya berjilbab,
melalui cerita mereka, keseharian mereka, bahkan hanya dengan senyum
mereka. Aku pun mulai rutin mengikuti pengajian-pengajian yang bertemakan
wanita. Aku juga terus belajar untuk selalu mengenakan jilbab jika menemui
mereka yang bukan mahromku. Dan perlahan aku pun belajar untuk mulai
meninggalkan jeans ku dan menggantinya dengan rok hingga beralih ke
gamis. Meski masih dengan perlahan, aku juga mulai sedikit demi sedikit
mengganti gaya jilbabku, dari lilitan, setengah lilit, agak lebar, hingga lebar.
Banyak kejadian sederhana tapi berkesan saat aku melalui hari-hari
bersama jilbabku. Mulai dari dipanggil bu Haji lah, ustadzah lah hingga
selalu didoakan melalui salam yang diucapkan orang-orang ketika melihatku.
Meski mungkin mereka kesannya mengejek, tapi jilbab ini membuat ejekan
itu terasa seperti do’a.
Kini aku pun mulai menyadari, ternyata apa yang diungkapkan oleh
temanku dulu saat pertama mengajakku berjilbab rupanya kurang tepat.
Karena bukan hanya guru yang akan menyayangi kita ketika berjilbab, namun
Ayah, Mamak, keluarga, teman-teman, tetangga, hingga suami dan Allah pun
akan lebih menyayangi mereka yang berjilbab, InsyaaAllah.
Semoga Allah senantiasa membimbing dan memantapkan hati kita
untuk senantiasa istiqomah berada di jalan yang diridhoiNya. Aamiin.

Paiton, 25 Februari 2013
*) Aji, panggilan untuk ibu-ibu keturunan Tionghoa di daerah Pangkalpinang.

Who is Behind Our “REZEKI” ????

image

Rezeki itu aslinya bukan datang dari pekerjaan kita (sehingga kita mendapatkan uang melalui
gaji),
Bukan juga datang dari pelanggan atau
konsumen kita (sehingga mereka membeli
produk yang kita jual ),
Bukan juga dari bos kita (yang menggaji kita
kemudian uangnya kita pake untuk kebutuhan
sehari-hari),
Bukan juga dari obat atau dokter yang saat kita
sakit kemudian kita menemui dokter tersebut
kemudian kita menjadi sehat. Dan banyaaaak
lagi bentuk rezeki yang lain yang tak bisa
disebut satu persatu saking banyaknya.
sehingga ketika kemudian jika salah satunya
terputus (misalnya dipecat, pelanggan pergi,)
atau terganggu (Ada orang yang memfitnah kita
dan mengambil posisi pekerjaan kita atau ada
toko yang menjual barang serupa dengan kita
yang mengambil pelanggan kita), kita sedihnya,
kesalnya minta ampuuuun sampe semua orang
bahkan Allah pun disalahkan.
pun karena merasa rezeki datang dari yang
disebutkan di atas, kita pun mengelu-elukan
mereka. Saat bos bilang jangan berhenti bekerja
sampe jam 3 siang (misalnya), kita pun
melakukannya dan meninggalkan kewajiban
sholat kita. Atau saking asyiknya melayani
pelanggan, kita lupa kalo sekarang udah jam
setengah 6 sore dan melupakan kewajiban kita.
Nah, jika demikian berarti kita sedang lupa
bahwa hakikatnya rezeki itu datangnya dari
Allah. Kata siapa??

“Dan tiadalah sesuatupun dari makhluk-makhluk
yang bergerak (bernyawa) di bumi melainkan
semuanya dijamin Allah rezekinya.Dia
mengetahui tempat kediamannya dan tempat
persembunyiannya. Semuanya itu tersurat di
dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuz).” (QS
Hud: 6)

Jadi, sesungguhnya pekerjaan, pelanggan,
dokter, obat, bos, dll hanyalah penyebab dan
perantara turunnya rezeki dari Allah pada kita
yang sekali lagi, Allah jua yang memilihkannya
untuk kita. Sehingga memang sepatutnya kita
berterima kasih kepada mereka yang telah
menjadi sebab atau perantara turunya rezeki
dari Nya kepada kita, tapi alangkah lebih elok
dan baiknya dan semestinya kalo perbuatan
baik kita kepada Nya harus jauuuuh lebih
baiiiiiik dari perbuatan kita pada mereka.
Wallahua’lam.
Semangat beraktivitas semuanya, maafkan bila
ada yang salah. Sila dibenarkan. Semoga
rahmat Allah senantiasa selalu menaungi
kehidupan kita. Aamiin. ^_^

Seka, the Story of Life Part 1

Ini cerita tentang kucing komplek yang sudah
beberapa bulan terakhir menumpang di
kontrakan kami. Mohon maaf bila terdapat
kesamaan pada nama dan tempat kejadian.
Perlu diingat bahwa sebagian cerita ini adalah
benar adanya dan sebagian lagi hanyalah
karangan belaka.
Perkenalkan namanya Seka, lengkapnya Seka
SeDe. Sebenarnya, nama aslinya adalah Sekar.
Namun, sejak diajak menjadi vocalis di
grupband kucing komplek yang bernama SN
SeDe, Sekar pun mengubah namanya menjadi
Seka SeDe. Awalnya, Seka hanyalah kucing
kampung biasa yang menjalani hidupnya
dengan segala kesederhanaannya. Namun, sejak
Onyol, manager grupband kucing SN SeDe
mendengar Seka bernyanyi ketika mandi di kali,
akhirnya Onyol pun mengajak Seka bergabung
menjadi vocalis di grupband tersebut. “
Suaramu cetar membahana”, begitu katanya.
Sayangnya, Seka si kucing kampung menjadi
lupa begitu diajak bergabung di grup band
kucing. Sejak sering bergaul dengan teman-
teman bandnya, Asis si Basis, Aris si gitaris dan
Kubur si drummer, Seka melupakan segala
kesederhanaan ketika ia di kampung dulu. Ia
mulai mengikuti kealay-an anggota bandnya.
Mulai dari mengganti namanya menjadi Seka
SeDe, sering keluar malam, pulang pagi, bahkan
sering menginap di rumah teman-teman band
kucingnya itu.
Hingga akhirnya petaka itu tiba. Setelah
berhari-hari menginap dan menghabiskan waktu
bersama teman bandnya, pagi itu setelah
terbangun dari tidurnya, Seka muntah-muntah.
Pemilik kontrakan yang prihatin melihat Seka
yang sering muntah-muntah, membawa Seka ke
klinik. Ternyata oh ternyata, Seka hamil!.
Rasanya bagaikan tertimpa langit tujuh lapis
sekaligus. Bingung dan sedih bercampur jadi
satu. Perlahan semua orang yang dulu
menyanjung-nyanjungnya, mulai
meninggalkannya satu persatu. Pemilik
kontrakan yang mengetahui aib ini pun
mengusir Seka. Padahal Seka sudah menyewa
kontrakkannya selama dua puluh tahun
sekaligus. Sayangnya, karena dulu waktu
mengontrak Seka tidak meminta kuitansi
pembayaran kontrakkan, pemilik kontrakkan
malah menuduhnya penipu, karena tak memiliki
bukti pembayaran. Parahnya lagi, Seka diusir
tanpa diganti uang kontrakkannya. Padahal,
uang itu adalah sebagian besar hasil jerih
payahnya selama manggung bersama Seka
SeDe. Tak putus asa, Seka menceritakan hal ini
pada Onyol, manajer grupbandnya. Apa yang
terjadi? Ternyata Seka diusir, bahkan
dihina.”Dasar kucing kampung kau!”.
Sebenarnya Onyol mau menolong Seka. Hanya
bila Seka mau menggugurkan kandungannya.
Karena ini masalah pamor SN SeDe. Bisa turun
jauh pamornya nanti di pasaran. Tentu saja
Seka yang akhirnya menyadari kekhilafan dan
kebodohan yang telah dilakukannya, tak mau
melakukan itu. Ia memilih pergi. Sudah jatuh
tertimpa kulit durian pula. Dengan sedikit
harapan, ia pergi menemui teman-teman
bandnya, Asis, Aris, dan Kubur, meminta
pertanggungjawaban. Sama saja. Hanya
cercaan dan hinaan yang Seka terima. Apa mau
dikata. Nasi sudah menjadi bubur ayam. Habis
tak bersisa. Mau pulang ke kampung, Seka
sangat malu. Mengingat dulu ia pernah
mengusir keluarganya yang pernah
mengunjunginya ke komplek. Bahkan ia tak
mengakui bahwa mereka adalah keluarganya.
Akhirnya, Seka pun mencari belas kasihan
orang-orang di sekitar komplek. Ia meminta-
minta di sekitaran komplek. Hingga akhirnya
ketika ia hampir melahirkan, ia mendatangi
kontrakkan kami. Meminta belas kasihan untuk
sekedar tempat menampungnya dan anak-
anaknya ketika lahir nanti. Kami yang tak tega
melihat kucing yang sedang hamil tua itu pun
akhirnya menerima Seka. Ia kami tempatkan di
gudang belakang di samping rumah. Kini ia
hidup bersama anak-anaknya yang lucu. Kami
menamai mereka Krucil, kru cilik. Begitulah
sekilas perjalanan hidup Seka, mantan vocalis
grupband Seka SeDe. Miris sekali. Hanya
karena tergoda kemerlapnya dunia, ia
melupakan semuanya. Semoga kau mengambil
hikmah dari semua kejadian ini Seka. 🙂
Tobe continued…
*demi menjaga nama baik si kucing, foto
sengaja kami tiadakan. 😀

Nb: Ceritq ini diambil dari notes fb saya yang ditulis beberapa bulan lalu.. 🙂

Alhamdulillah Aku Bisa Ummi!

Ini ceritaku tentang putra pertama kami, Uwais Alharits yang lahir 25 Juli 2014 yang lalu. Sekarang usianya sudah 4 bulan 8 hari. Anaknya sudah semakin cerdas, sudah lihai tengkurap dan aktif sekali mengoceh.
Terharu sekali bila ingat perjuangan Uwais untuk tengkurap.
Awalnya,di usianya ketiga bulan, Uwais baru aktif-aktifnya belajar tengkurap, mulanya miring kanan – miring kiri. Kadang-kadang berusaha membalikkan badannya, namun belum bisa.
image
Bahkan saat tidur pun Uwais miring kanan. Ini saat usianya 3 bulanan.

Continue reading “Alhamdulillah Aku Bisa Ummi!”