Yuk Jalan-jalan ke Wisata Alam Ciamik Ala Probolinggo: TWSL dan BJBR!

Salah satu nikmat menjadi ibu rumah tangga bagi saya adalah bisa liburan kapan pun dan dimana pun tanpa perlu menunggu tanggal di kalender berwarna merah atau khawatir akan ada bos yang marah bila libur kelamaan. Haha (tertawa lega).

Apalagi ditambah dengan jadwal libur suami yang tak selalu bertepatan dengan weekend atau tanggalan merah kalender, membuat kami jadi lebih sering berlibur di saat orang-orang sudah kembali lagi bekerja setelah liburan panjang berlalu. Tapi hasilnya kebanyakan menyenangkan lho, serasa berlibur ke private place.
Seperti kamis lalu, saat menemani kakak ipar yang sedang berkunjung ke rumah bersama sang istri. Biasanya, bila ada keluarga yang datang, kami akan mengajak mereka main air dan mandi di pantai Pasir Putih yang terletak di desa Besuki Situbondo. Perjalanan dari rumah ke pantai kurang lebih 40 menit dengan sepeda motor.
Kali ini, agar tidak melulu ke Pantai Pasir Putih, kami mengajak kakak ipar beserta istri sekaligus ke dua tempat wisata alam apik yang ada di Probolinggo, TWSL dan BJBR.

First trip: TWSL Probolinggo
Perjalanan pun dimulai, waktu itu karena kelelahan sehabis ngebus dalam perjalanan menuju rumah sehari sebelumnya, akhirnya kami pun bangun kesiangan. Jadi baru siap-siap berangkat sekitar pukul 8an pagi. Setelah menempuh perjalanan dengan sepeda motor selama lebih kurang 52 menit, akhirnya kami sampai di TWSL (Taman Wisata Studi Lingkungan) yang terletak di kelurahan Mangunharjo, kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.

image
Pintu masuk TWSL Probolinggo.(dok. Pribadi)

Sesampainya di lokasi, ternyata matahari sudah mulai mengintip dan menunjukkan jati dirinya. Akhirnya sembari menunggu salah satu dari kami membeli tiket masuk,untuk menghilangkan dahaga kami pun membeli es cao yang ada di depan TWSL. Jadi, kalau berkunjung ke sini jangan takut kelaparan ya, karena ada banyak Bapak-bapak baik hati yang menjajakan makanan di depan TWSL. Ada es cao, bakso, nasi pecel, buah segar dan masih banyak lagi lainnya. Tiket masuknya juga lumayan terjangkau, Rp 4.000 untuk dewasa dan Rp 2.000 untuk anak-anak di atas dua tahun. Senangnya lagi, si kecil yang baru berusia 1,5 tahun pun tidak perlu membayar tiket masuk alias gratis! #Penggila gratis detected.
Setelah parkir, kami pun memasuki TWSL. Ketika masuk, kita akan disajikan dengan pemandangan asri nan hijau. Ada banyak pepohonan rindang yang ditanam di sekeliling taman. Selain itu, beberapa tanaman cantik juga menghiasi kawasan yang dulunya merupakan hutan kota Probolinggo. Di tengah-tengah taman, terdapat bundaran yang biasa digunakan untuk bersantai sambil duduk-duduk oleh para pengunjung yang datang.

image
Duduk dulu di bundaran sambil menikmati udara segar. (Dok. Pribadi)

Sebenarnya, taman ini lebih mirip kebun binatang sih, soalnya ada banyak binatang yang tersedia di sini. Ada aneka burung seperti kakak tua, merak, burung unta, elang dan lainnya. Di sini juga terdapat beberapa hewan buas seperti buaya, singa, ular dan beruang.

image
Salah satu buaya yang ada di taman. (Dok. Pribadi)

Selain itu juga ada hewan tambahan seperti landak, musang pandan, kura-kura, ikan, bahkan kucing.

image
Melihat koleksi ikan. (Dok. Pribadi)
image
Ikan Cat fish juga menjadi salah satu koleksi. (Dok. Pribadi)
image
Koleksi ikan lainnya. (Dok. Pribadi)

Jangan takut bakal kelelahan ya, karena meskipun taman ini luas, pengelola telah menyediakan beberapa gazebo dari bambu untuk beristirahat. Bawa anak-anak? Dijamin nggak akan bosan deh, karena ada banyak mainan yang tersedia seperti ayunan, pelosotan, dan mainan khas anak lainnya.

image
Salah satu ayunan di taman. Foto diambil waktu ke TWSL beberapa bulan yang lalu saat Uwais belum bisa jalan. (Dok. Pribadi)

Selain binatang dan mainan, di taman ini kita juga bisa belajar mengenal tanaman obat yang ada di sekitar kita beserta kegunaannya yang telah ditata dalam satu kawasan oleh pengelola.

image
Taman oba yang ada di TWSL. (Dok. Pribadi)

Jadi, TWSL ini cocok sekali dijadikan destinasi wisata edukatif bagi anak-anak usia sekolah. Makanya, pada hari-hari tertentu ada banyak rombongan anak sekolah mengunjungi taman ini. Pengelola juga menyediakan fasilitas outbond berupa flying fox di dalam taman.

image
Fasilitas flying fox. (Dok. Pribadi)

Selesai melihat-lihat, kita bisa sholat di mushola yang telah disediakan atau sekedar menikmati ice cream yang dijual di dalam taman. Oh ya, hampir lupa, di sini juga terdapat hewan yang merupakan daya pikat tersendiri bagi pengunjung. Teriakan nyaringnya yang terdengar ke seantero taman dan gerakan lincahnya melompat-lompat dari satu bagian ke bagian lain, membuat pengunjung akan segera merapat bila si amang mulai beraksi. Mereka akan bersahut-sahutan satu sama lain, tanpa peduli bahwa sebenarnya mereka sedang diperhatikan.
Salah satu tempat favorit di TWSL ini adalah sebuah kolam ikan yang di atasnya berdiri sebuah jembatan. Cocok sekali buat saya yang hobi narsis!

image
Kolam ikan TWSL Probolinggo. (Dok. Pribadi)
image
Narsis ria di jembatan kolam ikan TWSL. (Dok. Pribadi)

Second place to visit: BJBR Probolinggo

image
BJBR Probolinggo. (Dok. Pribadi)

Setelah puas berkeliling taman, kami pun melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya, BJBR Probolinggo. Kawasan wisata ini terletak hanya 6 menit dari Pelabuhan Mayangan kota Probolinggo. BJBR sendiri merupakan kependekan dari BeeJay Bakau Resort. Sayangnya saya nggak sempat tanya-tanya apa itu maksudnya Beejay, mungkin nama pendirinya kali ya. #Sotoy
Seperti namanya, tempat ini merupakan kawasan hutan bakau yang disulap menjadi sebuah tempat wisata. Untuk masuk dan menikmatinya, kita cukup membayar 10 ribu per orang di week day dan 20 per orang di weekend. Serunya berwisata di weekday itu adalah kita bisa bayar biaya masuk lebih murah dibanding biasanya, apalagi ternyata si kecil juga gratis, yeay! Happynya double deh, hehe.
Di sini, kita bisa berjalan-jalan santai di atas jembatan kayu yang dikelilingi hutan bakau. Meski ketika sampai di tempat hari sudah sangat terik, panasnya jadi tidak terasa karena rindangnya pohon bakau.

image
Jalan-jalan di atas jembatan kayu sambil menikmati sejuknya bakau. (Dok. Pribadi)

Bila lelah, tinggal duduk dan berhenti saja di beberapa pondok istirahat yang telah disediakan pengelola.

image
Salah satu tempat duduk yang disediakan pengelola. (Dok. Pribadi)
image
Leyeh-leyeh dulu sama si kecil sebelum melanjutkan perjalanan. (Dok. Pribadi)

Setelah puas menikmati keindahan pohon bakau dan sesi foto, kami pun berkunjung ke Rest O tent, sebuah restoran sari laut beratap tenda putih dengan pemandangan pantai yang juga terletak di BJBR.

image
Foto di depan resto. (Dok. Pribadi)

Sesampainya di restoran, kami langsung memesan beberapa makanan dan minuman. Waktu itu minuman yang dipesan adalah es teh dan lime squash. Sedangkan untuk makanan kami memesan seporsi lobster saos lada hitam dan saos pedas.

image
Lime squash penghilang dahaga. (Dok. Pribadi)

Total biaya yang dihabiskan sekitar 128 ribu. Lumayan mahal sih, untuk Emak-emak yang biasa belanja makanan murah seperti saya, hihi. Meskipun agak mahal bagi saya, tapi rasa masakannya maknyus, langsung ludes seketika. Apalagi waktu itu makannya setelah lelah berkeliling. Makanya belum sempat difoto, eh sudah habis duluan. Sepertinya ini pertanda bahwa suatu saat harus kembali lagi untuk mereview masakan di restoran ini.
Salah satu keunikan di resto ini adalah tersedia banyak buku dan komik yang bisa dibaca oleh pengunjung. Ada juga ayunan dan plosotan untuk anak-anak. Sepertinya tempat ini memang didesain agar kita bisa betah berlama-lama di sini. Gimana nggak betah, angin pantai yang sepoi-sepoi, hijaunya pohon bakau yang menemani serta makanannya yang maknyus, bikin nggak mau pulang rasanya. Ditambah lagi suasana natural yang ada di dalam resto, bikin kepingin balik lagi dan lagi. Oh ya, tiket masuk yang diberikan di pintu masuk jangan dibuang dulu ya, karena bila kita menunjukkan tiket masuk di resto ini, akan ada potongan sebesar Rp 5.000 per tiket, lumayan lah buat beli es teh. Nah, bagi pengunjung yang muslim jangan takut telat sholat karena berlama-lama di resto ya, karena sudah tersedia mushola  bagi pengunjung yang ingin sholat.
Setelah puas mengisi perut dan leyeh-leyeh, saatnya beranjak pulang, dalam perjalanan pulang, kita akan disuguhi beberapa spot yang apik untuk diabadikan dalam kamera, ada pusat oleh-oleh BJBR yang di dalamnya terdapat sebuah replika kapal serta gembok cinta BJBR.

image
Kakak ipar dan istri pun ikut berpose. (Dok. Pribadi)
image
Gembok Cinta BJBR. (Dok. Pribadi)
image
Replika hewan di pusat oleh-oleh.

Untuk yang mau berbulan madu, tempat ini romantis banget deh, apalagi kalau malam hari pohon bakau akan dikelilingi cahaya lampu sehingga menambah keindahannya. Di sini juga disediakan bungalow bagi pengunjung yang ingin menginap. Juga tersedia gedung pertemuan bagi yang ingin mengadakan pertemuan di sini. 
Sayangnya, waktu itu kami sampai di tempat ini sudah siang hari, padahal di sini juga disediakan arena permainan air dan voli pantai. Jadi tak sempat melihat-lihat dan bermain di pantai deh. Tapi tak apa, segini saja saya sudah bahagia sekali bisa berkunjung sekaligus ke dua tempat wisata di kota Probolinggo.
Nah, buat para Emak yang mau membawa bayinya berkunjung ke TWSL dan BJBR Probolinggo, berikut tips barang bawaan yang harus dibawa ketika berkunjung ke dua tempat wisata ini:
1. Diaper cadangan
Kemarin waktu ke BJBR si kecil sempat pup, untungnya saya sudah menyediakan diaper cadangan, kalau tidak bisa repot bila tiba-tiba si kecil pipis di celana.
2. Baju dan celana ganti plus handuk
Sebenarnya ini buat jaga-jaga kalau sikecil gerah atau mandi di pantai. Kemarin Uwais sempat mandi dan ganti baju di Rest O Tent, bajunya juga basah karena ikutan minum dan blepotan, jadi mau tidak mau harus ganti baju deh.
3. Camilan
Kalo yang ini sebenarnya yang butuh ya Emaknya, haha. Buat mensiasati kalau ternyata si kecil lapar tapi nggak ada jajanan yang disukai.
4. Tisu basah dan kering untuk lap bila si kecil blepotan atau sehabis cuci tangan.
5. Minyak kayu putih, jaga-jaga bila Uwais digigit serangga atau nyamuk.
6. Jaket untuk melindungi si kecil dari terpaan angin terutama bagi motor traveler seperti kami.
7. Topi sebagai pelindung panas aja sih.
8. Kacamata untuk menutupi mata dari debu saat di perjalanan.
9.Tas untuk menaruh semua barang bawaan.
Nah, ini yang terpenting dibawa setiap kami bepergian. Ya iya lah, masa barang-barangnya dibawa di kantong kresek, hihi. Dulu ketika si kecil masih belum terlalu banyak bergerak, tas andalan yang saya bawa adalah tas bayi jinjing yang bisa muat banyak bawaan.

image
Tas jinjing yang dibawa kemana-mana saat si kecil masih gembul. (Dok. Pribadi)

Semakin ke sini, bawaan yang dibawa semakin sedikit, jadi tas yang dibawa pun semakin kecil. Sekarang tas andalan kalau pergi kemana-mana adalah tas hitam pemberian suami.

image
Tas hitam andalan pemberian suami dibawa muter-muter TWSL. (Dok. Pribadi)

Dulu pernah sih punya tas batik yang cantik, eh pas dibawa ke rumah mertua malah dibeli sama temannya Ibu. Jadi sekarang kemana-mana yang dibawa ya tas hitam kesayangan, hehe.

Nah, segitu dulu catatan perjalanan ala saya. Mau menikmati wisata alam yang ciamik? Probolinggo bisa jadi pilihannya. Sampai jumpa di next traveling ya. See you!

 

Iklan

10 pemikiran pada “Yuk Jalan-jalan ke Wisata Alam Ciamik Ala Probolinggo: TWSL dan BJBR!

  1. Salam kenal Mba Julia…

    Bagus sekali tempat wisatanya. Sepertinya cocok untuk jalan-jalan bersama keluarga. Bagian yang saya suka di kebun bakaunya, terlihat asri dan damai 🙂

    1. Hihi, iya Mba’, lumayan jauh sih, kalau mau main ke sini mah musti nginep di Bungalow BJBR nya, tapi bisa sekalian naik gunung bromo lho.. 😋
      #Ngomporin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s