Hours, Karena Setiap Detik Begitu Berharga

220px-Hours2013Poster

Hours, sumber gambar Wikipedia.

Film Hours adalah film terakhir yang diperankan oleh seorang aktor terkenal dari film Fast and Furious, Paul Walker sebelum kematiannya. Film ini juga merupakan film terakhir yang saya tonton dari laptop pemberian Ibu saya, yang rusak beberapa hari setelah saya menonton film ini dan berkelanjutan hingga hampir setahun setelahnya. Saya mendapatkannya dari suami yang juga mengcopy dari teman kerjanya yang hobi nonton. (Ketahuan nggak modal ya, haha ).

Film ini saya tonton akhir 2014 lalu, ketika masih anget-angetnya menjadi seorang ibu. Berjuang membesarkan seorang bayi bersama suami di saat baby blues melanda, tanpa bantuan langsung dari sang ahli (baca: orang tua) dan hanya bermodalkan insting dan internet, membuat film ini menjadi hiburan yang cukup melegakan hati.

Secara keseluruhan, film ini bercerita tentang perjuangan seorang new father Nolan Hayes (Paul Walker) yang berusaha menyelamatkan bayinya.

Kisahnya bermula ketika Hayes mengantarkan istrinya ke rumah sakit karena akan melahirkan anak pertamanya. Betapa sedihnya ia tak lama kemudian dokter mengabarkan bahwa istrinya meninggal saat melahirkan anaknya. Malang tak dapat dielak, anak yang baru saja dilahirkan istrinya juga tidak dalam keadaan baik-baik saja. Bayinya harus diletakkan dalam inkubator sekitar 48 jam sebelum bayinya mulai menangis yang berarti menandakan kondisi kesehatannya yang telah pulih. Tak lama setelah berita kematian istrinya, kota New Orleans kediaman Hayes diserang badai katrina yang begitu dahsyat.

Karena badai terus melanda dan banjir serta kerusakan terjadi di mana-mana, maka semua orang mengungsi mencari tempat yang aman. Begitu pula orang-orang di rumah sakit tak terkecuali para dokter dan tenaga medis dimana anak Hayes dirawat. Sayangnya, sang bayi tidak bisa dipindahkan demi alasan keselamatannya. Di sini mulai terjadi konflik batin dalam diri Hayes. Di satu sisi ia baru saja bersedih karena kehilangan istrinya, di sisi lain ia harus menyelamatkan bayi yang baru saja dikenalnya itu seorang diri. Pada bagian ini saya langsung merasa tertohok sekali. Siapalah saya yang terus mengeluh karena masih baru belajar membesarkan bayi saat itu dibandingkan seorang Nolan Hayes yang harus menyelamatkan anaknya hanya seorang diri. Sementara, ada banyak orang yang sebenarnya membantu saya saat itu. Suami yang baik hati yang senantiasa mengerti dan membantu, tetangga yang terus datang meringankan beban, dan masih banyak lagi lainnya.

Cobaan datang lagi. Karena badai katrina, listrik padam ditambah lagi infus yang digunakan sebagai makanan bayinya semakin berkurang. Sedangkan tidak ada orang sama sekali di rumah sakit dan banjir menggenang di sebagian besar rumah sakit. Nalurinya sebagai ayah tergerak, kemudian ia pun berusaha mencari segala sesuatu yang bisa digunakan untuk menyelamatkan bayinya. Akhirnya usahanya tak sia-sia. Pencariannya membuahkan hasil, ia berhasil mendapatkan beberapa kantong infus dan snack untuknya. Penemuan terbesarnya adalah sebuah generator manual untuk memberi tenaga pada baterai inkubator tempat bayinya dirawat. Sayangnya, karena usia mesin yang sudah tua, membuat baterai  baterai generator lemah dan hanya mampu mensuplai listrik cadangan selama tiga menit. Alhasis, Hayes harus memutar tuas generator manual tersebut setiap 3 menit, dan lama kelamaan tak lebih dari 2 menit.

Siapa bilang usaha Hayes dalam menyelamatkan bayinya akan lancar-lancar saja. Karena badai katrina, beberapa orang menjadi ganas, menjarah toko-toko, supermarket, bahkan rumah sakit. Termasuk di ruang bayi Hayes dirawat. Demi menyelamatkan bayinya, Hayes pun terpaksa melakukan upaya penyelamatan dengan menembak penjarah tersebut.

Berbagai cara dilakukan Hayes agar bisa mengeluarkan ia dan bayinya dari rumah sakit tersebut. Setiap hendak keluar mencari bantuan, Hayes akan menyetel alarm jam tangannya selama 3 menit agar begitu alarmnya berbunyi, ia bisa segera berlari untuk memutar tuas generator agar inkubator bayinya tetap menyala. Berkali-kali ia harus berlari dari kamar menuju luar rumah sakit demi menemukan mobil ambulans yang berisi radio untuk mengabarkan keberadaannya. Namun setelah perjuangan yang melelahkan itu, ternyata upayanya masih belum membuahkan hasil. Belum ada tanda-tanda ada yang datang untuk menyelamatkan mereka. Namun Hayes tidak menyerah begitu saja, ia bahkan berlari kembali dari kamar menaiki tangga ke atas rumah sakit untuk meminta bantuan. Bantuannya datang, namun sayangnya bukan hanya Hayes yang harus ditolong, di gedung sebelah rumah sakit juga ada beberapa orang yang harus ditolong. Kali ini perjuangannya pun belum membuahkan hasil.

Di tengah kelelahan berlari mencari bantuan dan memutar tuas generator, Hayes masih sempat bercerita kepada putrinya dan mengganti popok bayinya. Bahkan ia sempat berhalusinasi berbicara dengan mendiang istrinya.

Di akhir cerita, tim penyelamat datang. Mereka menemukan Hayes yang begitu kelelahan dan hampir pingsan. Bahkan ia tak sempat mengatakan bahwa bayinya sedang dirawat di salah satu kamar. Hampir saja mereka meninggalkan sang bayi. Beruntung, akhirnya sang bayi menangis seakan memberitahukan keberadaannya. Perjuangan Hayes yang begitu melelahkan dan menguras emosi akhirnya berbuah happy ending, ia dan bayinya selamat.

Film ini mengingatkan saya bahwa hidup adalah perjuangan, sekeras apapun cobaan hidupmu, teruslah berjuang dan jangan menyerah pada nasib. Film ini juga mengingatkan saya bahwa betapapun kelelahannya saya dalam mengurus Uwais, masih belum ada apa-apanya dibanding si Hayes. Dalam film ini rasanya setiap detik begitu berharga, karena terlambat sedikit saja, Hayes bisa saja kehilangan bayinya. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menjadi orang tua yang baik, salah satunya dengan menonton film ini. Itu pendapat saya, bagaimana menurutmu?

“Postingan ini diikutsertakan dalam Evrinasp Second Giveaway: What Movie are You?”

image

Iklan

6 pemikiran pada “Hours, Karena Setiap Detik Begitu Berharga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s