[Hijabku Karena…] Berjilbablah Agar Disayang Allah

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(Qs. Al~Ahzab:59)

Hidayah datang dengan berbagai cara, dan dengan cara inilah aku menjemput hidayah…

Suatu senja di Pangkalpinang 2009 silam….
“ Aji *, masih ada makanan apa?” Tanyaku dengan sangat antusias, karena
saat itu lapar sangat menusuk perutku yang memang sudah kelaparan sejak pulang kuliah tadi.
“ Udah gak ada lagi, makanannya udah habis semua!” Ungkap Aji tersebut,
sembari memberi isyarat tangan menyuruhku untuk pergi menjauh.
“ Tapi itu masih ada makanannya, Ji?” Tambahku sedikit memaksa karena kulihat masih ada beberapa bahan makanan di warung itu.
“ Kami ‘gak jual makanan yang lain, kami hanya jual mie yang pake daging
babi, jadi ‘gak usah beli disini!” Jelasnya lagi meyakinkan sambil terus mengisyaratkan tangannya untuk mengusirku.
Alhamdulillah, singkat tapi begitu berarti untukku, jika saja bukan karena jilbab yang kupakai, tentu telah mengalir zat haram dalam tubuh ini. naudzubillah tsumma na’udzubillah… Saat itu sepulang kuliah aku langsung mengkuti seminar di Pangkalpinang. Kelelahan karena harus bersepeda motor dari kampus-tempat seminar selama lebih kurang 1 jam, ditambah perut yang belum terisi sejak sore dan pikiran yang dijejali dengan teori, membuatku lupa bahwa di kawasan itu memang banyak warung yang menjual aneka olahan makanan dengan babi.Pangkalpinang memang dihuni oleh banyak orang tionghoa, jadi di beberapa titik tertentu bisa dengan mudah ditemukan warung-warung pinggir jalan yang menjual babi sebagai hidangan utamanya. Apalagi bagiku yang memang memiliki garis keturunan tionghoa ini, tentu akan dengan mudah orang mengira bahwa aku bukanlah seorang muslimah bila tanpa jilbab.
Mungkin benar jika pepatah bijak mengatakan bahwa sesungguhnya
sesuatu yang besar adalah sekumpulan dari hal-hal yang kecil. Dan kurasa
itu yang terjadi padaku. Mengambil salah satu keputusan terbesar dalam
hidupku, hanya karena satu pernyataan singkat yang sederhana.

“ Berjilbablah Jul, karena dengan berjilbab maka kau akan disayang guru.”

Begitu Mulyati, ~temanku yang juga berjilbab sejak SMP~ mengajakku berjilbab saat
aku akan mendaftar menjadi siswa SMP. Dari pernyataan
singkat inilah yang kemudian memantapkan Julia yang masih lugu untuk
berjilbab. Alhamdulillah.
Aku, ~yang memang saat kecil lingkungan di sekitar rumah kami masih
lumayan agamis~ setelah mendengar ajakan teman sepermainanku itu
dengan mudahnya kemudian memantapkan hati untuk berjilbab. Hal itu pun
aku utarakan pada orang-orang di rumah. Tak banyak yang berkomentar,
hanya Abang tertua yang sesekali memberikan pernyataan kurang setuju dengan
kemauanku, mungkin karena jilbab belum terlalu populer saat itu. Mamak
juga tak banyak memberi komentar seingatku, namun tindakan
persetujuannya sudah lebih dari cukup. Beliaulah yang kemudian setia
menemaniku mencari baju panjang putih, rok biru panjang, baju dan rok
pramuka panjang, jilbab putih dan coklat hingga daleman jilbab untuk
persiapanku menjadi murid SMP.
Aku yang masih lugu tak terlalu banyak berpikir saat itu, mungkin kalimat
temanku itu begitu menyihirku sehingga tak pernah terbersit olehku saat itu
bahwa aku harus menjilbabkan hatiku terlebih dahulu atau harus memiliki
persediaan baju panjang dan jilbab yang banyak dulu barulah berjilbab.
Bahkan saat pertama berjilbab di SMP dulu, aku hanya memiliki satu jilbab
putih dan coklat yang dicuci seminggu sekali. Barulah saat pergantian
semester Mamak membelikan jilbab yang baru lagi. Alhamdulillah.
Pro dan kontra dari sekitar memang ada saat itu. Bahkan ada kakak
kelas yang tahu sifat asliku saat SD ~ sedikit agak tomboy memang~pernah
mengatakan aku mirip ubur-ubur katanya, entahlah dari sisi mana
penampilanku dengan jilbabku ini kelihatan seperti ubur-ubur baginya.
Beberapa teman SD ku yang lain juga saat itu sepertinya tidak terlalu
menyukai aku dan jilbabku, sok alim begitu mereka bilang. Alhamdulillah itu
hanya terjadi beberapa minggu saat pertama aku berjilbab, karena meski
berjilbab aku tetap bisa menunjukkan prestasiku saat itu. Alhamdulillah, saat
SMP meski berjilbab aku selalu bisa meraih peringkat tiga besar di
sekolahku. Mungkin prestasi inilah salah satu alasan berkurangnya kata-kata
kurang nyaman yang kudengar dari orang-orang sekitar saat mereka melihat
penampilan baruku.
Waktu pun berlalu dengan cepatnya. Alhamdulillah, rasanya bersama Allah dan jilbab semua terasa mudah, aku pun diterima menjadi siswa di salah satu
SMA favorit di provinsiku. Bahagia sekali, karena di sekolah inilah kemudian aku menemukan cerita baru dengan jilbabku.
Meski berjilbab sejak SMP, namun jilbab yang kukenakan masih
bukan jilbab dalam arti sebenarnya, seperti yang tertulis di Al quran surah
An-Nuur ayat 31 dan Al-Ahzab ayat 59. Celana ketat, jilbab dililit, baju pas-
pasan di badan, aku pernah mencobanya. Hingga kemudian aku begitu tersindir dengan cerita seorang teman tentang perjuangannya yang harus lompat sana-lompat sini ketika di rumah hanya untuk mejaga agar auratnyatak kelihatan orang yang lalu lalang di depan rumahnya yang memang berada di pinggir jalan. Aku pun mulai belajar untuk selalu mengenakan jilbab meski di rumah.
Allah lah yang terus mempertemukanku dengan wanita-wanita luar
biasa yang kemudian mengajarkanku bagaimana seharusnya berjilbab,
melalui cerita mereka, keseharian mereka, bahkan hanya dengan senyuman
mereka (agak lebay ya, tapi emang bener kok 🙂 ). Aku pun mulai rutin mengikuti pengajian-pengajian yang bertemakan muslimah. Aku juga terus belajar untuk selalu mengenakan jilbab jika menemui
mereka yang bukan mahromku. Dan perlahan aku pun belajar untuk mulai
meninggalkan jeans ku dan menggantinya dengan rok hingga beralih ke
gamis. Meski masih dengan perlahan, aku juga mulai sedikit demi sedikit
mengganti gaya jilbabku ke arah yang lebih syar’i. Aku mulai menata hati dalam berjilbab, memantapkan hati melakukan semuanya karenaNya semata meski dengan tertatih. Banyak kejadian sederhana tapi berkesan saat aku melalui hari-hari
bersama jilbabku. Mulai dari dipanggil bu Haji lah, ustadzah lah hingga
selalu didoakan melalui salam yang diucapkan orang-orang ketika melihatku.
Meski mungkin mereka kesannya mengejek, tapi jilbab ini membuat ejekan
itu terasa seperti do’a.
Kini aku pun mulai menyadari, ternyata apa yang diungkapkan oleh
temanku dulu saat pertama mengajakku berjilbab rupanya kurang tepat.
Karena bukan hanya guru yang akan menyayangi kita ketika berjilbab, namun
Orang tua, keluarga, teman-teman, tetangga, hingga suami dan terutama Allah
akan lebih menyayangi mereka yang berjilbab, InsyaAllah.
Semoga Allah senantiasa membimbing dan memantapkan hati kita
untuk senantiasa istiqomah berada di jalan yang diridhoiNya. Aamiin.

image

*) Aji, panggilan untuk ibu-ibu keturunan Tionghoa di daerah Pangkalpinang.

Artikel ini diikutsertakan  dalam “Hijab Syar’i Story Giveaway”

image

Iklan

6 pemikiran pada “[Hijabku Karena…] Berjilbablah Agar Disayang Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s