Manisnya Jilbabku

image

Hidayah datang dengan berbagai cara, dan dengan cara inilah aku
menjemput hidayah…

Suatu senja di Kota Pangkalpinang, saat istirahat dari pelatihan
salah satu agen asuransi ternama di Indonesia, aku dengan perutku yang
keroncongan memutuskan mencari makanan di salah satu warung di
pinggiran jalan.
“ Aji *, masih ada makanan apa?” Tanyaku dengan sangat antusias, karena
saat itu lapar sangat menusuk perutku yang belum terisi sejak sore sepulang
kuliah tadi.
“ Udah gak ada lagi, makanannya udah habis semua!” Ungkap Aji tersebut,
sembari memberi isyarat tangan menyuruhku untuk pergi menjauh.
“ Tapi itu masih ada makanannya, Ji?” Tanyaku sedikit memaksa karena
perutku sangat memberontak meminta diisi dengan sesuatu dan kulihat
masih ada beberapa bahan makanan di warung itu.
“ Kami ‘gak jual makanan yang lain, kami hanya jual mie yang pake daging
babi, jadi ‘gak usah beli disini!” Jelasnya lagi meyakinkan.
Alhamdulillah, singkat tapi begitu berarti untukku, dialog yang terjadi kurang
dari 3 tahun yang lalu ini, seakan mengingatkanku betapa sesungguhnya
Allah telah berulang kali menyelamatkanku melalui kain petak segi empat ini.
Jilbab, begitu kebanyakan orang menyebutnya. Jika saja bukan karena jilbab
yang kupakai, tentu telah mengalir barang haram ke dalam tubuh ini,
naudzubillah tsumma na’udzubillah…
Mungkin benar jika pepatah bijak mengatakan bahwa sesungguhnya
sesuatu yang besar adalah sekumpulan dari hal-hal yang kecil. Dan kurasa
itu yang terjadi padaku. Mengambil salah satu keputusan terbesar dalam
hidupku, hanya karena satu pernyataan singkat yang sederhana.
“ Berjilbablah Jul, karena dengan berjilbab maka kau akan disayang guru.”
Itulah pernyataan persuasif seorang teman yang mengajakku berjilbab, saat
aku akan masuk menjadi siswa sekolah menengah pertama. Dan pernyataan
singkat inilah yang kemudian memantapkan Julia yang masih polos untuk
berjilbab. Alhamdulillah.
Aku, -yang memang saat kecil lingkungan di sekitar rumah kami masih
lumayan agamis- setelah mendengar ajakan teman sepermainanku itu
dengan mudahnya kemudian memantapkan hati untuk berjilbab. Hal itu pun
aku utarakan pada orang-orang di rumah. Tak banyak yang berkomentar,
hanya Abang yang sesekali memberikan pernyataan kurang setuju dengan
kemauanku, mungkin karena jilbab belum terlalu populer saat itu. Mamak
juga tak banyak memberi komentar seingatku, namun tindakan
persetujuannya sudah lebih dari cukup. Beliaulah yang kemudian setia
menemaniku mencari baju panjang putih, rok biru panjang, baju dan rok
pramuka panjang, jilbab putih dan coklat hingga daleman jilbab untuk
persiapanku menjadi murid SMP.
Entahlah, aku tak terlalu banyak berpikir saat itu, mungkin kalimat
temanku itu begitu menyihirku sehingga tak pernah terbersit olehku saat itu
bahwa aku harus menjilbabkan hatiku terlebih dahulu atau harus memiliki
persediaan baju panjang dan jilbab yang banyak dulu barulah berjilbab.
Bahkan saat pertama berjilbab di SMP dulu, aku hanya memiliki satu jilbab
putih dan coklat yang dicuci seminggu sekali. Barulah saat pergantian
semester Mamak membelikan jilbab yang baru lagi. Alhamdulillah.
Pro dan kontra dari sekitar memang ada saat itu. Bahkan ada kakak
kelas yang tahu sifat asliku saat SD – sedikit agak tomboy memang- pernah
mengatakan aku mirip ubur-ubur katanya, entahlah dari sisi mana
penampilanku dengan jilbabku ini kelihatan seperti ubur-ubur baginya.
Beberapa teman SD ku yang lain juga saat itu sepertinya tidak terlalu
menyukai aku dan jilbabku, sok alim begitu mereka bilang. Alhamdulillah itu
hanya terjadi beberapa minggu saat pertama aku berjilbab, karena meski
berjilbab aku tetap bisa menunjukkan prestasiku saat itu. Alhamdulillah, saat
SMP meski berjilbab aku selalu bisa meraih peringkat tiga besar di
sekolahku. Mungkin prestasi inilah salah satu alasan berkurangnya kata-kata
kurang nyaman yang kudengar dari orang-orang sekitar saat mereka melihat
penampilan baruku.
Waktu pun berlalu dengan cepatnya. Alhamdulillah, rasanya dengan
jilbab semua terasa mudah. Aku pun diterima menjadi siswa di salah satu
SMA favorit di provinsiku. Bahagia sekali, karena di sekolah inilah kemudian
aku menemukan cerita baru dengan jilbabku.
Meski berjilbab sejak SMP, namun jilbab yang kukenakan masih
bukan jilbab dalam arti sebenarnya, seperti yang tertulis di Al quran surah
An-Nuur ayat 31 dan Al-Ahzab ayat 59. Celana ketat, jilbab dililit, baju pas-
pasan di badan, aku pernah mencobanya. Hingga kemudian aku begitu
tersindir dengan cerita seorang teman tentang perjuangannya yang harus
lompat sana-lompat sini ketika di rumah hanya untuk mejaga agar auratnya
tak kelihatan orang yang lalu lalang di depan rumahnya yang memang
berada di pinggir jalan. Aku pun mulai belajar untuk selalu mengenakan jilbab
meski di rumah.
Allah lah yang terus mempertemukanku dengan wanita-wanita luar
biasa yang kemudian mengajarkanku bagaimana seharusnya berjilbab,
melalui cerita mereka, keseharian mereka, bahkan hanya dengan senyum
mereka. Aku pun mulai rutin mengikuti pengajian-pengajian yang bertemakan
wanita. Aku juga terus belajar untuk selalu mengenakan jilbab jika menemui
mereka yang bukan mahromku. Dan perlahan aku pun belajar untuk mulai
meninggalkan jeans ku dan menggantinya dengan rok hingga beralih ke
gamis. Meski masih dengan perlahan, aku juga mulai sedikit demi sedikit
mengganti gaya jilbabku, dari lilitan, setengah lilit, agak lebar, hingga lebar.
Banyak kejadian sederhana tapi berkesan saat aku melalui hari-hari
bersama jilbabku. Mulai dari dipanggil bu Haji lah, ustadzah lah hingga
selalu didoakan melalui salam yang diucapkan orang-orang ketika melihatku.
Meski mungkin mereka kesannya mengejek, tapi jilbab ini membuat ejekan
itu terasa seperti do’a.
Kini aku pun mulai menyadari, ternyata apa yang diungkapkan oleh
temanku dulu saat pertama mengajakku berjilbab rupanya kurang tepat.
Karena bukan hanya guru yang akan menyayangi kita ketika berjilbab, namun
Ayah, Mamak, keluarga, teman-teman, tetangga, hingga suami dan Allah pun
akan lebih menyayangi mereka yang berjilbab, InsyaaAllah.
Semoga Allah senantiasa membimbing dan memantapkan hati kita
untuk senantiasa istiqomah berada di jalan yang diridhoiNya. Aamiin.

Paiton, 25 Februari 2013
*) Aji, panggilan untuk ibu-ibu keturunan Tionghoa di daerah Pangkalpinang.

Iklan

2 pemikiran pada “Manisnya Jilbabku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s