Hakikat Memberi

6804bad5d60dc3b269521ff1d96e903cSumber gambar disini

            Salman Al Farisi sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita shalihah telah menarik perhatiannya. Tapi bagaimanapun, Madinah bukanlah tempat ia tumbuh dewasa. Ia berpikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi urusan pelik bagi seorang pendatang seperti Salman. Maka, disampaikanlah gejolak hati itu kepada sahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’. “Subhanalloh, Walhamdulillah..” senang hati Abu Darda’ mendengarnya.

Setelah persiapan, beriringanlah kedua sahabat itu menuju rumah wanita sholihah yang dimaksud. “Saya Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam. Ia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Salman memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”Dibalaslah oleh orangtua wanita shalihah tersebut, “Adalah kehormatan bagi kami menerima Anda sahabat Rasulullah yang mulia. Dan suatu penghargaan bagi kami bermenantukan seorang sahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.

”Abu Darda’ dan Salman menunggu dengan berdebar-debar. Hingga sang ibu muncul kembali setelah berbincang-bincang dengan puterinya. “Maafkan kami atas keterusterangan ini. Dengan mengharap Ridho Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Keterusterangan yang di luar prediksi. Mengejutkan bahwa sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya. Ironis sekaligus indah. Bayangkan sebuah perasaan campur aduk dimana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran. Ya, Salman memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar apa yang dikatakan Salman: “ Allahu Akbar! Semua mahar yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’ dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!” (disadur dari Buku “Jalan Cinta Para Pejuang” karya Salim A. Fillah)

Sepenggal kisah di atas adalah kisah Salman Al Farisi dan Abu Darda’ seorang sahabat dari Anshor dalam mencari cinta untuk dijadikan pasangan hidup. Menurut saya, bukan hanya tentang cinta dan persahabatan yang disampaikan dalam kisah di atas, melainkan juga tentang hakikat memberi yang sesungguhnya, keikhlasan. Ketika seseorang merelakan apa yang disukainya untuk menjadi milik orang lain, bahkan menambahnya pula dengan sesuatu baik yang lain, disitulah makna keikhlasan sebenarnya berada. Meskipun memang, memberi sangat erat kaitannya dengan cinta dan persahabatan. Kita akan memberi lebih banyak  dan dengan senang hati bila ternyata sesuatu yang akan kita beri ditujukan pada sahabat kita apalagi kepada orang yang kita cintai.

Betapa Allah memuliakan Rasulullah, bahkan hingga orang-orang yang hidup di dekatnya pun akan mencerminkan kepribadiannya yang mulia. Sikap kemurahan hati seorang Salman Alfarisi dalam memberi, bisa jadi merupakan salah satu efek dicontohkannya langsung sifat memberi tersebut oleh Rasulullah, manusia terbaik sepanjang zaman. Para sahabat yang begitu mencintai Rasulullah tentu akan banyak mencontoh keteladanan Sang Nabi Sallallahu ‘alaihi Wasalam dalam hal memberi. Bisa kita lihat ketika Rasulullah memberi makan seorang pengemis buta Yahudi. Meski pengemis buta tersebut sangat membenci dan selalu menghina Rasulullah, tapi balasan yang diberikan Rasulullah adalah kelembutan yang  tiada tara, diberikanlah kepada pengemis yang telah tua renta itu makanan yang lembut serta disuapi kepada pengemis itu dengan hati-hati, padahal pengemis tua yang tak tahu siapa yang memberinya makan tersebut tak pernah berhenti mencacinya. Maka ketika Abu Bakar memberi makan pengemis tersebut dengan cara yang berbeda, segera tahulah ia bahwa itu bukanlah dari tangan orang yang biasa memberinya makan, sang Rasulullah yang selalu dihinanya.

Begitulah seharusnya seorang muslim dalam memberi, ikhlas dalam pemberian, tanpa mengharap kembali bahkan tanpa melihat kepada siapa sesuatu itu akan diberi-untuk yang satu ini tentunya bila yang diberi tidak berkaitan dengan peribadatan-, serta memberi dengan apa yang terbaik dari yang ia punya bukan malah dengan sesuatu yang tidak disukai. Karena memberi sejatinya merupakan salah satu wujud syukur kepada Sang Maha Pemberi yang telah merahmati kita dengan semua pemberian terbaik yang pernah ada.  Maka ketika kita sudah dilimpahi dengan pemberian terbaik yang pernah ada, betapa pelitnya kita bila tidak mau membagi pemberiannya tersebut walau sedikit.

Berbeda sekali dengan yang jamak terjadi di dunia perpolitikan negeri ini, ketika seseorang memberi hadiah sesuatu berharga kepada seorang pejabat, maka itu berarti ada ”maksud” terselubung dalam makna pemberiannya yang nantinya akan berkaitan dengan kebijakan yang diambil pejabat tersebut. Meski yang memberi hadiah tersebut kemudian menjelaskan bahwa tak ada maksud apa-apa dari pemberian tersebut. Lain lagi halnya dengan staf pemerintahan kita. Anda akan sangat lama dalam mengurus pembuatan sebuah KTP yang konon katanya hanya berharga sepuluh ribu rupiah untuk pengurusannya, bila Anda tak memberi uang pelicin yang bila ditotal bisa mencapai sepuluh kali lipat dari biaya asli kepada si pengurus.

Dua fenomena di atas memang tak selalu terjadi seperti itu, masih ada mereka yang memang memberi dengan ketulusannya, tapi terkadang mereka hanya seperti oase di padang pasir, jarang sekali terjadi. Maka tak heran bila di negeri yang katanya mayoritas muslim dan makmur karena hasil alamnya yang melimpah ini sering dilanda kesulitan yang sangat menyesakkan hati seperti bencana alam, kemiskinan, kelaparan dan lainnya. Karena mungkin Sang Maha Memberi sedang menegur kita yang sepertinya sudah sangat lupa bagaimana itu hakikat memberi dengan sedikit-demi sedikit mengambil pemberian yang pernah Dia berikan. Semoga penyakit lupa massal yang sedang kita derita bersama ini bisa segera sembuh dan pulih, sehingga semoga dengan begitu kita bisa kembali merasakan pemberian yang dulu pernah Ia berikan kepada kita.

NB: Tulisan ini dimuat untuk memenuhi salah satu persyaratan waktu mau melamar sebagai salah satu penulis keislaman di salah satu penerbit, sayangnya ketika mengirimkan email, ternyata waktunya sudah lewat dan alamat email yang dituju ternyata diatur berdasarkan waktu yang diberikan. Yah, setidaknya kita sudah mencoba, ya kan? Semangat!! 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s