#4 The Kids

Yup Alhamdulillah empat pertemuan sudah dilewati bersama anak-anak…. 🙂
Pertemuan pertama kemaren diisi dengan perkenalan saja, pertemuan kedua membuat aplikasi motor sederhana, meski tak ada anak yang selesai membuat, so far lumayanlah, anak-anak setidaknya berusaha. Nanti bisa dicoba lagi di pertemuan yang lain.
Pertemuan ketiga membuat robot bug atau robot sikat. Alhamdulillaaah, anak-anak bisa semuanya, meski agak kewalahan juga membantu mereka satu persatu. Walau kelihatannya mudah sekali bila dikerjakan orang dewasa, ternyata bagi anak SD fourth grade tetap tak mudah ya. Fuhhh. Gak apa-apa, tetap semangat!!!! Bagaimanapun mereka tetap anak-anak, aren’t they?
Pertemuan keempat, hari ini tepatnya, kami buat kipas mainan dari VCD bekas. Walhasil, bahkan baling-balingnya pun belum selesai dibuat. ;(
Tapi emang mulainya tadi agak telat setengah jam si, soalnya ada agenda sekolahan sebelum masuk kelas.
Ternyata menjadi guru itu tak semudah yang dibayangkan ya. 🙂
Banyak tantangannya. Apalagi jaman sekarang. Kalo zaman dulu, ketika orang tua kita yang masih jadi siswa, anak-anaknya nurut-nurut semua. Mereka begitu (sepertinya) takjub dengan gurunya. Bahkan mungkin kalo gurunya memainkan mata saja, tep, langsung tersampaikan maksudnya dan anak-anaknya langsung mengerti. Meski zaman dulu memang kekerasan bisa dengan mudah ditemui di dunia pendidikan kita dan terbukti lumayan ampuh tapi nampaknya kalo diterapkan di zaman sekarang gak keren lagi ya. Para guru dituntut untuk kreatif dalam mendidik para murid. Ofcourse without violence.
Seperti hari ini dan hari yang lalu-lalu, agak sulit menguasai kelas anak-anak ini. Karena jiwanya masih anak-anak mungkin ya, jadi tak semudah menyampaikan kepada orang dewasa, yang bila kita bilang A, maka mereka langsung menerima dan mengerjakan A. Walaupun tak semua orang dewasa seperti itu si. Tapi anak-anak berbeda. Mereka punya dunia sendiri. Ketika kita meminta mereka melakukan A, tidak serta merta mereka langsung mengerjakan A.
Seperti hari ini. Tadi anak-anak diminta menggaris kepingan VCD menjadi dua bagian sama besar. What did they do then??
Ada yang  lari-lari mengejar temannya dulu, ada sih yang mengerjakan langsung, paling hanya satu dua orang. Sisanya?? Ada yang sibuk membuat mainan dari alat yang dia bawa dengan idenya sendiri, tadi ada anak yang membuat mainan silau-silauan dengan bantuan sinar matahari. Kreatif memang, tapi tidak pada tempatnya. 🙂
Sehingga anak lain yang sama sekali tak melakukan apapun, jadi tertarik ikutan melakukan hal sama. Menyilaukan mata teman-teman yang lain.
Sekali lagi, mereka memang masih anak-anak ya. 🙂
Kata si Abi:

Kalo anak-anak itu diem, berarti ada sesuatu sama anak itu. Normalnya anak-anak ya aktif.

Iya juga sih ya. Mau dilarang, keinget kata seorang trainer dulu pernah bilang:

Jangan melarang anak, melainkan beri mereka pilihan.

Secara teori si emang gitu kayaknya. Tapi kalo udah di kelas, beuhhh semua teori mendidik perlahan gugur semua. Makanya kenapa meski sudah menguasai teorinya, sudah paham ilmunya, tidak pernah ada orang yang bilang stop to learn! Karena there’s no STOP for learning. Gak ada  kata cukup untuk belajar. Makanya guru senior yang udah setara sama Mak-mak kita juga masih sempet-sempetnya ngikutin training. Mungkin itu salah satu alasannya ya.
Begitulah. Jadi guru itu memang tak semudah kelihatannya. Berbicara cuap-cuap seenaknya di depan, kemudian meminta melakukan sesuatu. Tak semudah itu ternyata. Ada misi mendidik yang mereka bawa melalui tiap tingkah laku mereka. Seharusnya begitu.
Melelahkan memang menghadapi anak-anak ketika di kelas. Tapi juga ngangenin kalo lagi gak di kelas. 😉
Tapi apapun, semoga ini bisa jadi jawaban dari sebuah hadis yang saya pernah baca:

(Intinya seperti ini, kalo kata-kata persisnya saya lupa), pada hari kiamat nanti para keturunan Adam akan ditanyai empat hal, dari mana hartanya didapat, kemana hartanya dikeluarkan, apa aja yang dia lakukan selama masa mudanya, dan digunakan untuk apa ilmunya.

Semoga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s