Naluri Ibu (Rumah Tangga)

Setelah tiga minggu sudah tak main ke TK, akhirnya selasa kemaren maen lagi ke TK.
Kebetulan guru playgroupnya lagi cuti melahirkan, jadilah secara tidak sengaja aku jadi guru playgroup dadakan hari itu. 🙂
Senang? Ya. Sangat. 🙂
Hari itu kegiatannya membuat rumah-rumahan dari sendok es krim pake lem fox trus menggambar lingkungan rumah masih pake lem fox yang dikasih pewarna makanan.
Eit, tapi kali ini aku ‘gak sendirian kok, bisa mati kutu nanti kalo tiba2 langsung diminta ngadepin anak2 KB sendirian. 😉
Ditemani guru lain satu lagi.
Harus hati2 sekali mendidik anak2 usia TK seperti mereka, bila sampai salah mengarahkan, bisa jadi mengakar sampe tua.
Meski hal yg sifatnya sederhana seperti cuci tangan sekalipun. Percayalah.
Jadi pertama-tama anak2 dikasih contoh dulu bagaimana cara membuat rumah2an dengan stik es krimnya.
Dan semuanya berjalan menyenangkan meski ada satu dua anak yang tak mau mengerjakan sesuai instruksi Bu gurunya tadi. Ada anak yang maunya ngebentuk sendok eskrimnya jadi seperti mainannya di rumah, ada anak yang tak mau membuat pagar, ada anak yg rumahnya gak mau yang kecil, sampe tinggiiii sekali, ada anak yang dengan manisnya membentuk sesuai dengan yang dicontohkan gurunya tadi, ada anak yang lamaaaa sekali ketika hendak menaruh sendok eskrimnya di kertas. Namanya juga anak-anak ya. Bisa jadi itulah bentuk kreatifitas mereka.
Sebenarnya bukan anaknya yang mau diceritakan disini. Hanya pengantarnya saja… 😉
Setelah anak-anak pulang, biasanya para guru ngobrol-ngobrol dulu sambil menyelesaikan pekerjaannya, entah itu buku penghubung, dll.
Di sela obrolan siang para guru itu, ada satu yang menarik perhatianku.
Seorang Ibu dua anak curhat tentang betapa kemarin sepertinya ia menyesal karena tak mengajarkan anaknya membuat PR MTK karena ia kelelahan pulang dari tempat kerja dan akhirnya nilainya kecil. Tidak sesuai standar.
Jadi ceritanya di TK ada sedikit kesibukan sehingga para guru harus pulang sore hari itu. Karena kelelahan, akhirnya tak punya waktu lagi untuk sekedar bercengkrama dengan anak. Akhirnya PRnya tidak dikerjakan dengan optimal.

Oh, lihatlah betapa sesungguhnya setiap wanita itu fitrahnya adalah di rumah. Mengurus keluarga.
Hingga mestinya tiap wanita memiliki naluri untuk menjadi Ibu (rumah tangga) yang baik. #Tapi bukan berarti juga melupakan perannya sebagai insan sosial ya. Semua ada takarannya.
Dan naluri Ibu inilah yang kemudian mungkin menbuat seorang dokter seperti Bu Ainun berhenti dari profesinya untuk kemudian mengurus anak-anaknya.
Karena bagaimanapun anak dan keluarga adalah amanah yang bisa jadi karenanya lah nanti disana kita kan tersenyum lega atau menangis sesal. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s