Menghargai #3rd day of ^one week writing^

Alhamdulillah, masih diberi kesempatan nulis dan ngepost disini… ^_^

Meski ini hari agak telat, dari biasanya… 🙂 v

Soalnya tadi pagi masih ngelakuin rutinitas harian dulu, nyupir dkk. Karena, setelah diperhatikan, saya ini termasuk tipe one stop worker (baca:pekerja yang hanya memiliki satu pemberhentian)# Ngarti ngasal 😀

Pasalnya, kalo udah males-malesan duluan, beraaat banget untuk ngemulai ngerjainnya. Jadinya agak terbengkalai. 😦

Utowo (bahasa Jawa, artinya atau #baru belajar dari Abi :p) kalo udah ngerjain sesuatu, trus berhenti, mau mulainya itu beraaaaat banget,atau kalo udah mulai lagi hasilnya gak sebagus pas yang pertama tadi. Itulah asbabun nya sampai sekarang cerpen yang selesai saya bikin itu baru 3, sejak SMA.(Budaya Membawa Luka #jadi finalis sekabupaten meskipun ceritanya ngasal, kapan-kapan kalo mudik saya posting de :D, cerpen tugas bahasa Inggris yang harus ditranslate,tp judulnya lupa, tapi tentang persahabatan, dan That My Mom is Wonderful). 😦

Nah, makanya kerana itu, apalagi setelah menimbang, menilai dan memutuskan, 30 menit itu waktunya bentar beuuud untuk nulis dan ngepost di blog, jadinya kebijakan ini direvisi saja yah.. #nanya ndiri,jawab ndiri 😀

Ga papa dah ya, namanya orang idup, semuanya adalah belajar. Dan sekarang saya sedang belajar mengatur waktu saya… 🙂 v

jadinya karena sekarang modemnya masih lumayan cuepet, nulis disini dimulai kalo udah longgar aja waktunya. Kalo udah nyante… 🙂
Demikian pengantarnya… 😀
Saya mau cerita dikit tentang menghargai.

Begini ceritanya.

Ada seorang wanita. Sebut saja namanya fulanah. Suatu hari dia berangkat katakanlah ke tempat kerjanya. Di tempat kerjanya, dia diminta melakukan sesuatu. Nah, karena diminta seperti itu, si fulanah ini pun berusaha keras melakukan yang diminta sebaik yang dia bisa. ketika pekerjaan yang dilakukan pagi hari, dia pun berusaha untuk datang pagi, mengorbankan hal-hal kecil tapi penting yang seharusnya dia lakukan namun ditinggalkan demi agar pekerjaan yang dilakukan nanti menghasilkan sesuatu yang sesuai diharapkan.Namun, apa yang terjadi? si fulanah diuji keikhlasannya. Ternyata pekerjaan yang dilakukannya dengan mengorbankan beberapa hal kecil namun pentingnya tidak digubris. Mereka tidak memilih pekerjaannya. Maka sedihlah si fulanah. Kecewa. Karena usahanya sepertinya tidak dihargai.

Nah, disisi lain, si peminta tadi, lupa memeberi tahukan sebelumnya bahwa ada perubahan dari yang dimintanya. Sehingga pada akhirnya, pekerjaan lain lah yang dipilij. Sekian ceritanya.

Apa yang kita dapat dari kisah di atas?

1. Sepertinya si fulanah masih belajar memaknai keihlasan. Bagaimana melakukan sesuatu yang hanya karena Nya semata. Bukan yang lain. Meski itu hanya karena ingin bermanfaat. Dia lupa. Bahwa manusia tidak akan bisa memuaskan manusia lainnya, karena sifat alami manusia adalah tidak cepat puas. Semoga kita masih bisa belajar lebih jauh lagi tentang makna keikhlasan.

2. Pentingnya komunikasi. Salah sangka itu bisa berdampak bahaya sekali. Salah-salah bisa jadi fitnah. Jangan segan untuk bertanya. ^_^

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s