Kisah Tentang Pak Tua yang Bijak dan Kalajengking

Bismillah,
semoga setidaknya ada hal baik yang dapat kita ambil untuk kemudian kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dari kisah ini (meskipun mungkin entah kali keberapa cerita ini kita dengarkan)..

Siang itu pertemuan edisi Sabtu, 21 jumadil akhir 1433 H.
Kali ini, tidak seperti biasanya, materi siang itu diawali dengan kisah tentang seorang Pak Tua yang Bijak dan Kalajengking.

Pada suatu hari, pak Tua pergi memancing ke laut. Di tengah lautan, ketika sedang asyik memancing,pak Tua melihat ada seekor kalajengking yang sedang berupaya keras untuk menyelamatkan diri agar tidak tenggelam.
“Kasihan sekali kalajengking itu.” Ungkap Pak Tua.
“Bukankah ia juga makhluk Allah.” Ungkapnya lagi.

Maka tanpa berpikir panjang Pak Tua pun mencoba menolong kalajengking itu.
Lalu Pak Tua mengulurkan tangannya kepada kaljengking dengan niat ingin memudahkan si kalajengking agar tak tenggelam lagi.

ciss!!

“Aw!!”Jerit Pak Tua.
Ternyata si Kalajengking menggigit tangan pak Tua yang berupaya untuk menolongnya.

Namun, tanpa gentar, Pak Tua kembali melakukan hal yang sama, mengulurkan tangannya untuk menolong si kalajengking.

ciss!!

“Aw!!”Jerit Pak Tua lagi.
Kembali si kalajengking menggigit Pak Tua yang berupaya untuk menolongnya.

Kembali,tanpa menghiraukan rasa sakit dan akibat apa yang akan didapatkannya apabila ia kembali mengulangi hal yang sama, Pak Tua kembali mengulurkan tangannya untuk menolong si kalajengking.

ciss!!

“Aw!!”Jeritnya lagi.

Tak selang beberapa lama setelah itu, ada seorang nelayan yang mengomentarinya dari kejauhan.
“Pak Tua,untuk apa kau tolong si kalajengking yang tidak tahu balas budi itu. Kau hanya akan mendapat kerugiann jika menolongnya. Lebih baik jangan hiraukan ia.”Ungkap nelayan tersebut dari kejauhan

Mendengar komentar nelayan tersebut,tak membuat Pak Tua gentar untuk terus menolong si kalajengking.
Terus-menerus ia mencoba menyelamatkan kalajengking.
Berkali-kali ia melakukan hal yang sama, namun kemudian mendapatkan hal yang sama pula.
Kembali ia digigit lagi dan lagi oleh si kalajengking.
Hingga akhirnya, sikalajengking pun naik ketangannya dan ia pun selamat dan tidak tenggelam.

Alhamdulillah, pada akhirnya, seperti kisah-kisah yang tertulis dalam dongeng,fabel, atau kisah-kisah nyata terdahulu hingga sekarang, bahwa kebaikan lah yang pada akhirnya menjadi the real winner.^^

Setelah mendengarkan kisah tersebut,kami diminta untuk menarik hikmah apa yang bisa diambil dari kisah tersebut.

1. Bahwa ketika kita hendak melakukan kebaikan, tidak semuanya menganggap sesuatu yang kita lakukan itu adalah baik, karena tidak semua orang atau tidak semua pihak akan memiliki pemikiran yang sama dengan kita. Namun disinilah “the real challenge” bagi siapapun yang hendak menebarkan kebaikan. Disinilah kemudian ujian itu datang,seberapa tegarkah kita untuk kebaikan ini? Apakah akan luluh seketika hanya dengan “gigitan si kalajengking?” atau hanya dengan “komentar” “Pak Nelayan”?
Namun Pak Tua membuktikan, ketika azzam yang telam terhujam di hati, tak kan ada yang dapat mengalahkannya, meskipun ia harus mencoba tidak hanya sekali,dua atau tiga kali.
Dan kemudian Ia membuktikannya, bahwa ia berhasil.
2. Bahwa mungkin terkadang kita tidak selalu berada di posisi Pak Tua sebagai “penyelamat”. Namun terkadang kita juga bisa ada di posisi si kalajengking, yang “hampir tenggelam” dan yang butuh pertolongan. Namun terkadang mungkin kita juga sama dengan si kalajengking, kita sibuk memikirkan semua kemungkinan buruk dari sikap Pak Tua yang hendak menolong atau bahasa kerennya kita sibuk bersuudzhon(baca:berburuk sangka). Sehingga bukannya menerima pertolongan Pak Tua kemudian bekerja sama agar bisa dengan cepat menyelamatkan diri, kita malah menyakiti Pak Tua atau siapapun yang hendak menolong kita. Bahkan terkadang, tanpa sadar, perisangka buruk kita lah yang membawa “Pak Tua”-“Pak Tua” lainnya yang awalnya hendak berbuat baik, malah berbuat buruk. Seperti yang dituliskan dalam sebuah hadis:

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Allah Taala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku.Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari. (Shahih Muslim No.4832).

Barangkali perisangka kitalah yang membuat orang tersebut malah berbuat buruk, karena kita terlalu sibuk untuk terus memikirkan hal-hal negatif dari “Pak Tua” tersebut. Bisa saja karena sakit hati gara-gara digigit terus, Pak Tua malah menenggelamkan si kalajengking. Namun, bisa jadi karena perisangka baik kita, orang yang awalnya berniat buruk malah berubah menjadi baik,Aamiin..^^.
3. Disini yang dimaksud dengan kebaikannya adalah kebaikan yang di dalamnya terdapat hakikat kebenaran.
Misalnya, memang baik ketika seseorang hendak membantu saudaranya yang sedang kesusahan dalam masalah uang, namun kemudian ia malah mencoreng kebaikan itu dengan cara memberikan uang hasil curian kepada saudaranya tersebut. Memang niat awalnya baik, namun tercoreng dengan cara yang tidak baik tersebut.

4. Allah berfirman dalam Alqur’an:

Bandingan (derma) orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah, ialah sama seperti sebiji benih yang tumbuh menerbitkan tujuh tangkai; tiap-tiap tangkai itu pula mengandungi seratus biji. Dan (ingatlah), Allah akan melipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas (rahmat) kurniaNya, lagi Meliputi ilmu pengetahuanNya.(QS Albaqarah: 2/261)

Pada akhirnya pilihan ada di tangan kita sahabat ^^.

Akhirnya, beberapa kalimat di atas hanya sepenggalan pemikiran penulis yang dipenuhi banyak kekurangan. Namun terima kasih sahabat sudah berkenan membaca dari awal hingga akhir ^^. Sesungguhnya yang Haq itu selalu datangnya dari Allah. Sementara yang salah bersumber dari kekhilafan penulis. Ambillah yang baik dan tinggalkan yang buruk.

Subhanakallaahumma Wabihamdika Asyhadu Allaa Ilaa Ha Illaa Anta Astaghfiruka Waatuubu ilaik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s